Bisnis Mutiara Serap Banyak Tenaga Kerja

619
google.com

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Plt Direktur Bina Mutu dan Diversifikasi Produk Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Maman Hermawan mengungkapkan, hingga saat ini sektor bisnis mutiara telah menyerap 1000 tenaga kerja dalam negeri.

“Dari usaha mutiara ini tidak sederhana, di luar dari devisa negera, karena di ekspor tentu ada pajak. Tapi, juga untuk pembangunan ekonomi lokal Indonesia, ada penyerapan tenaga kerja disana, ada masyarakat yang dilibatkan dalam bisnis ini. Saya mendengar dari Pak Anthony, sekarang ada 23 perusahaan yang masih eksis register di ASBUMI, dan diantaranya 6-7 perusahaan PMA, sisanya perusahaan lokal. Setidaknya-tidaknya melibatkan 700-1000 karyawan yang ada di lapangan,” kata Maman, saat konferensi pers, di Sate Khas Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2015).

Maman menjelaskan, dari seluruh tenaga kerja tersebut, ada yang melibatkan pembenihan, membersihkan karang, mengangkat ke lab, proses di lab, pemeliharaan, panen, dan processing (pengolahan).

“Memang masih ada melibatkan tenaga asing, khususnya PMA. Namun Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sangat konsen menekankan, bahwa harus terus terjadi transfer knowledge (pengetahuan) kepada masyarakat lokal, khususnya untuk tenaga isensi. Tapi, saya kira ini sudah dilakukan teman-teman di lapangan,” imbuhnya.

Kemudian, disamping devisa negara, pajak dan melibatkan tenaga kerja lokal, bisnis mutiara juga konsen dengan pelestarian lingkungan yang terjaga dengan baik. Karena mutiara tidak bisa hidup dan tumbuh dengan baik di wilayah yang tercemar.

Hal lainnya, perusahaan mutiara ini, juga dapat memanfaatkan wilayah yang tidak ada penduduknya. Khususnya di pulau yang lingkungannya masih belum tercemar.

“Seperti pulau Morotai tidak ada penghuni, sekarang sudah ada orang lain, karena adanya usaha mutiara lain yang tidak terjangkau. Karena membutuhkan plankton yang sangat subur dan tenang. Sekitar 460 orang yang terlibat di sana. Sehingga kalau dikatakan mutiara ini tidak begitu berdampak serapan tenaga lokal, saya kira perlu dilihat,” tandasnya.

Sementara, Ketua Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI) Anthony Tanios mengungkapkan, bisnis mutiara laut di Indonesia memang masih membutuhkan tenaga kerja asing, namun tidak sebanyak tenaga kerja lokal.

“Kita memang masih ada menggunakan tenaga kerja asing, khususnya yang PMA, tapi itu untuk esensi. Karena kita masih membutuhkan knowledge (pengetahuan). Tapi itu juga tidak banyak, hanya sekitar 20 orang tenaga kerja asing. Perlahan-lahan kita juga akan mengurangi, karena kita juga akan lebih mengutamakan tenaga kerja lokal,” jelas Anthony. (pemi)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments