Bertemu Himapikani, Menteri Edhy Ingin Mahasiswa Bantu Tingkatkan Kualitas SDM Perikanan

29
Dok. Humas KKP

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Jumat (29/11) menerima Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Edhy didampingi Sekretaris Jenderal KKP Nilanto Perbowo, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja, dan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto berdiskusi dengan lebih dari 100 mahasiswa anggota Himapikani dari berbagai daerah di Indonesia.

Himapikani merupakan organisasi yang beranggotakan mahasiswa perikanan dari 103 kampus di seluruh Indonesia. Dalam pertemuan kali ini, berkesempatan hadir perwakilan dari Universitas Lampung, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Satya Negara Indonesia, Universitas Djuanda Bogor, Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, Politeknik Kelautan dan Perikanan  Pangandaran, Universitas Padjadjaran, Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon, Universitas Pancasakti Tegal, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Gadjah Mada, Universitas Tidar, Universitas Diponegoro, Universitas Trunojoyo, Universitas Halu Oleo, Universitas Dr. Soetomo, Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang, Politeknik Negeri Pontianak,  Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur, Universitas Hasanuddin, Universitas Muslim Indonesia, Universitas Sulawesi Barat, Universitas Tadulako, Universitas Sembilanbelas November Kolaka, dan Universitas Pattimura.

Menteri Edhy menyampaikan apresiasi yang tinggi atas semangat mahasiswa yang tergabung dalam Himapikani. Menurutnya, mahasiswa Himapikani adalah calon pemimpin masa depan di sektor perikanan.

“Kalau Anda serius menjalankan kegiatan belajar sesuai tujuan kalian masuk sekolah perikanan, saya yakin industri perikanan di Indonesia baik budidaya maupun tangkap bahkan pengolahan akan maju pesat,” ucapnya.

Menteri Edhy mengingatkan, Indonesia memiliki potensi budidaya perikanan yang butuh keikutsertaan Himapikani dalam pengembangannya. Menurutnya, budidaya perikanan Indonesia tidak kalah dari negara-negara lainnya. Ia berpandangan, sektor ini juga mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini sudah cukup baik di antara negara-negara G-20.

“Budidaya adalah kunci. Panjang pantai kita itu nomor dua di dunia setelah Kanada. Tapi dalam berbudidaya di wilayah pantai, kita baru memanfaatkan 10% saja. Luasan tambak udang kita tidak lebih dari 300.000 hektar saja,” jelasnya.

Namun, untuk mengoptimalkan pengelolaan potensi ini, Menteri Edhy berpendapat Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Oleh karena itu, keberadaan jurusan perikanan dan kelautan di setiap kampus akan menjadi kunci keberhasilan pembangunan sektor ini.

“Ke depan kebijakan kami akan fokus dalam sentra budidaya, semua budidaya baik itu ikan untuk ketahanan pangan, ikan untuk hias, juga ikan untuk industri,” lanjutnya.

Ia ingin mahasiswa merubah paradigma yang terfokus ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di pemerintahan. Ia mengatakan, menekuni usaha budidaya perikanan, pengolahan ikan, dan sebagainya jauh lebih menguntungkan. Apalagi dengan keilmuan yang dimiliki, mahasiswa dapat menerapkan teknologi yang dapat meningkatkan hasil usaha. Di bidang budidaya misalnya, dengan sistem intensifikasi hasil yang diperoleh bisa berkali lipat lebih tinggi dibandingkan budidaya tradisional.

“Saya sangat percaya di industri ini negara akan menemukan jalan termudah dan paling efisien meningkatkan devisa dan membuka lapangan pekerjaan,” tutur Menteri Edhy.

Keyakinan ini bukan tak berdasar. Menteri Edhy membandingkan beras dan ikan. Menurutnya, ketika beras over supply, harga akan mudah jatuh karena beras tidak tahan disimpan lama. Sebaliknya, jika tangkapan ikan sedang berlebih, ikan dapat dibekukan di coldstorage dalam waktu yang lama untuk digunakan kembali ketika musim panceklik. Bahkan ikan juga dapat diolah menjadi added value product yang bernilai lebih tinggi.

“Saat ini ikan sudah bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Tidak seperti dulu, kalau ikan berlebih dijadikan ikan asin dengan harga murah. Sekarang pun bahkan ikan asin dapat bernilai tinggi karena dikemas dengan baik,” terangnya.

Menteri Edhy melanjutkan, pemerintah juga menyediakan bantuan akses permodalan bagi masyarakat yang ingin menekuni usaha perikanan. Ada Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dapat diakses masyarakat dengan bunga yang sudah turun dari 7 persen menjadi 6 persen. Khusus di bidang kelautan dan perikanan, KKP juga memiliki Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) dengan bunga lunak.

“Himapikani dapat memberikan pendampingan bagi masyarakat. Misalnya ikut menggiatkan usaha budidaya di masyarakat. Untuk menghidupkan lahan, KKP memiliki bantuan ekskavator dan dapat mengadakan mesin pembuat pakan mandiri. Mahasiswa dapat berkontribusi dengan membantu akses jaringan irigasi, membangun jaringan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), bekerja sama dengan pemerintah dengan ilmu yang dimiliki,” cetusnya.

Ia juga ingin agar mahasiswa turut serta membina masyarakat dalam penyediaan benih untuk kegiatan budidaya. Hal ini akan dimulai lewat Balai Benih dari KKP, kemudian dilanjutkan dengan penyediaan benih mandiri oleh masyarakat.

“Mahasiswa adalah orang yang cerdas yang biasanya bisa melakukan apa saja di lapangan. Begitu menghadapi kesulitan, dia tidak akan berhenti di tengah jalan kesulitan. Selalu berusaha mencari jalan keluarnya. Dan saya yakin, kalian sebagai anak bangsa, begitu dapat kesempatan dan perlakuan yang adil biasanya dia akan berani maju dan tampil,” yakinnya.

“Kalian harus berani turun ke lapangan. Banyak nelayan kita, banyak pembudidaya kita yang butuh uluran tangan kalian,” lanjutnya.

Tak sekadar budidaya dengan orientasi panen, menurut Menteri Edhy, budidaya ikan di kolam-kolam juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pemancingan yang mengawinkan konsep budidaya dengan rekreasi (wisata).

“Indonesia sudah punya Anda semua, sumber daya manusia yang unggul. Tinggal bagaimana pengemasannya.  Anda adalah orang-orang terpintar di sektor ini saat in, paling energik, paling muda, paling semangat. Maka jangan sia-siakan ini,” Menteri Edhy mengingatkan.

Ia juga mendorong generasi muda untuk menguasai teknologi dengan sistem komputerisasi yang serba otomatis. Teknologi ini juga bisa dimanfaatkan melalui remote area, misalnya dalam penyebaran pakan ikan dan sebagainya.

“Saat ini, melalui konsep 4.0, kalau ada masalah dengan ikan yang Anda budidaya, sudah bisa dicek lewat ponsel. Jarak dan waktu sudah tidak lagi jadi kendala.”

Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk pemasaran hasil perikanan. Dengan inovasi yang ada, lewat aplikasi pengguna dapat membandingkan harga ikan di berbagai daerah, mencari supply ikan tertentu, menawarkan pakan ikan, dan sebagainya.

“Yakinlah kalian di posisi yang benar, jalan yang benar, di rel yang tepat. Manfaatkan waktu kalian, jaga integritas kalian sebagai mahasiswa perikanan. Jangan sudah capek-capek jadi mahasiswa perikanan, kemudian berubah haluan karena mentok. Banyak kok pengusaha perikanan yang omzetnya sudah miliaran itu dulunya memulai dari nol. Bahkan ada yang dulunya menerima bantuan kapal kecil dari KKP. Tinggal sekarang apakah kalian tertantang, apakah kalian mau. Percayalah, kerja keras biasanya awalan saja, begitu sudah matang, sudah jalan Industri kalian, jalannya akan lebih mudah. Jadi mulailah dari sekarang,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekjen Himapikani Prasetya Adhi menyatakan kesediaan Himapikani untuk turut berkontribusi dalam pembangunan sektor perikanan Indonesia. Bahkan menurutnya, Himapikani sering terlibat dalam kegiatan penyerahan bantuan atau pendampingan bagi pelaku usaha perikanan. Beberapa waktu yang lalu, Himapikani terlibat dalam penebaran 23.000 benih ikan di Waduk Sunter.

Prasetya menjelaskan, Himapikani aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti ekspedisi pesisir, jamboree bahari, rapat koordinasi nasional, kemah riset perikanan nasional, pekan aksi nyata, ekspor perikanan, festival, serta training advokasi dan kepemimpinan nasional.

“Kami akan siap menjadi ujung tombak menyukseskan segala program KKP yang bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat,” pungkasnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments