Bangkitkan Semangat Generasi Milenial, Menteri Susi: Jadilah Generasi Muda yang Optimis

36
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjadi pembicara dalam talkshow bertema "Semangat Memperkuat Budaya untuk Bela Negara Generasi Milenial" di Universitas Sahid Jakarta, Selasa (9/4). Dok. Humas KKP/Handika Rizki Rahardwipa

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan  menjadi salah satu pembicara dalam talkshow  bertajuk “Semangat Memperkuat Budaya untuk Bela Negara Generasi Milenial” di Universitas Sahid Jakarta pada Selasa (9/4).

Di hadapan ratusan siswa SMA/SMK/MA yang hadir, Menteri Susi menjadi pembicara bersama dengan para tokoh pertahanan Indonesia lainnya, antara lain KASAL 2014-2018, Laksamana TNI Purn Ade Supandi; Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Pol. Suhardi Alius; dan Kepala Pelaksana Harian Satgas 115 yang juga sebagai Ketua Keluarga Alumni Lemhanas Program Pendidikan Singkat Angkatan XVII, Laksdya TNI (Purn) Widodo .

Dalam kesempatan itu, Menteri Susi menceritakan pengalamannya dalam menjaga laut Indonesia melalui  pemberantasan illegal fishing selama 4,5 tahun terakhir. Dalam masa tugasnya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, baru-baru ini telah menyelidiki kurang lebih 300 kapal illegal atas nama perusahaan Indonesia yang ternyata milik orang asing.

“Banyak reformasi yang dilakukan. Reforming dan restructuring dalam kemaritiman, terutama dalam bidang kelautan dan perikanan di kementerian yang saya pimpin. Akhirnya 4,5 tahun kemudian, 488 kapal berhasil kita tenggelamkan,” ujarnya.

Sejumlah upaya lain juga terus dilakukan, antara lain dengan memasukan perikanan tangkap dalam daftar negatif investasi asing. Kapal asing, perusahaan asing, nelayan asing tidak boleh lagi menangkap ikan di Indonesia, semua itu bisa dilakukan sehingga pulau Natuna yang terletak di wilayah terluar dan terus diperebutkan oleh negara-negara Asia dapat dipertahankan kedaulatannya oleh Indonesia.

Ia mengatakan, KKP juga membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Tangkap (SKPT) di pulau-pulau terluar Indonesia. Selain untuk menghidupkan ekonomi perbatasan dan mengangkat potensi ekonominya yang sangat bagus, SKPT juga dibangun untuk tujuan jangka panjang pertahanan negara.

”SKPT akan mendatangkan nelayan-nelayan dari Jawa ke pulau-pulau perbatasan untuk menambah penduduk sehingga dapat menjadi komponen cadangan untuk pertahanan negara. Selain itu, ekonomi setempat menjadi lebih berkembang,” ujarnya.

Indonesia jadi Pemasok Tuna Terbesar di Dunia

Usaha yang dilakukan Menteri Susi untuk menjaga kedaulatan negara pun tak sia-sia. Bentuk keberhasilannya dibuktikan dengan naiknya peringkat Indonesia sebagai pemasok tuna terbesar di dunia.

“Sekarang, Indonesia pemasok tuna terbesar sedunia, pemasok kepiting nomor 1 di Amerika. Neraca perdagangan perikanan kita juga nomor 1 di Asia Tenggara,” ujarnya.

Sekitar satu dari enam tuna yang ditangkap di seluruh dunia selama tiga tahun terakhir berasal dari Indonesia, yang merupakan 16 persen dari produksi tuna dunia. Sebagai penghasil tuna terbesar, Indonesia menjadi pemasok utama pasar Jepang, Amerika, Uni Eropa, Korea, dan Hong Kong.

Keberhasilan itu, menurutnya, dapat dicapai dengan modal keberanian dan cintanya akan negeri. Meskipun bukan berangkat dari latar belakang pendidikan yang tinggi, semangatnya tak putus untuk menjaga laut Nusantara sebagai masa depan bangsa. Semangat yang sama, bahkan lebih, ia harapkan dapat diteruskan oleh anak-anak muda untuk menjaga Indonesia menjadi bangsa yang besar di masa mendatang.

“Adek-adek semua yang saya banggakan, saya harapkan adek-adek semua bisa menjadi generasi muda Indonesia di masa mendatang yang akan membanggakan Republik ini agar kita bisa menjadi negara yang kuat dan besar karena generasi mudanya hebat-hebat,” pesannya diiringi sambutan meriah para siswa/i yang hadir.

Usaha para generasi muda untuk mempertahankan negara, menurut Menteri Susi, harus ditingkatkan dua kali lipat. Terlebih, dewasa ini anak-anak muda sering dicekoki oleh skeptisisme. Salah satunya dengan ramainya berbagai hoax di media sosial yang tidak dapat di pertanggungjawabkan kebenarannya. Ia berpesan agar anak-anak muda terus optimis untuk memajukan bangsa.

“Skeptisisme adalah penyakit yang dapat merusak generasi muda kita sehingga harus bersama-sama kita jaga. Hoaks menjadi salah satu timbulnya skeptisisme yang akan membuat individu, kita semua, anak-anak bangsa menjadi tidak semangat lagi untuk di masa depan kita. Ayo kita bangun optimisme untuk selalu melihat ke depan dengan penuh harapan dan semangat,” tandasnya. (ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments