2019, Perum Perindo Targetkan Peningkatan Ekspor Hingga 65 Persen

61
Dok. Kumparan

KKPNews, Jakarta – Tahun 2019 ini, Perum Perikanan Indonesia (Perindo) menetapkan target ekspor perikanan menjadi 2.000 ton. Jumlah ini naik 65 persen dari realisasi ekspor tahun 2018 sejumlah 694 ton.

Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda mengatakan, dengan peningkatan volume ekspor ini, ia memastikan nilainya pun ikut bertambah. Dengan target yang ditetapkan, nilai ekspor yang bakal diraih di 2019 sekitar USD22 juta atau Rp330 miliar.

“Ekspor kita targetkan meningkat 100 persen dari nilai ekspor tahun lalu USD6,8 juta menjadi sekitar USD22 juta atau 25 persen dari total pendapatan perusahaan,” ungkap Risyanto dalam kegiatan perayaan 29 tahun Perum Perindo di Pasar Ikan Modern Muara Baru, Jakarta Utara, Minggu (27/1).

Risyanto mengungkapkan, tahun lalu ekspor produk perikanan Indonesia merambah berbagai negara di Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Vietnam. Tahun ini pun negara tujuan ekspor masih akan sama.

Risyanto bercerita, Perum Perindo pertama kali melakukan ekspor pada tahun 2016. Kala itu volumenya masih sangat kecil yaitu sekitar 39 ton dengan nilai USD0,13 juta dengan dua negara tujuan yaitu Amerika Serikat dan Jepang.

Seiring berjalannya waktu, ekspor produk perikanan Indonesia semakin meningkat. Pada 2017, Perum perindo kembali mengekspor 83 ton ikan dengan nilai USD0,73 juta. Kali ini negara tujuan bertambah yaitu Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

Peningkatan signifikan terjadi di tahun 2018 di mana ekspor Perum Perindo mencapai 694 ton dengan nilai USD6,83 juta. Negara tujuan pun bertambah dengan Vietnam dan Korea Selatan.

Corporate Secretary Perum Perindo Agung Pamujo mengatakan, Perum Perindo mengekpro berbagai jenis ikan mulai dari ikan dasar seperti grouper hingga gurita.

Pada 2018 lalu, Perum Perindo berhasil mengekspor grouper, mahi-mahi, snapper, dan gurita sebanyak 417.000 kg senilai USD3,76 juta.

Sementara itu, negara Jepang lebih meminati loin tuna. Perusahaan Musashi misalnya mengimpor sebanyak 25.000 kg loin tuna asal Indonesia senilai USD137.000. Adapun perusahaan Alpha Marine mengimpor 213.000 kg loin tuna dengan nilai 351 Yen.

Sementara itu, gurita lebih diminati Vietnam. Vietnam telah mengimpor 15.000 kg gurita Indonesia senilai USD75.000. Adapun ke Tiongkok ekspor didominasi oleh ikan layur dengan volume 24.000 kg senilai USD108.000.

“Ekspor paling banyak selama ini memang ke Jepang dan Amerika Serikat. Untuk harganya, tuna ke Jepang itu bisa miliaran rupiah karena memang mereka kalau soal tuna kan maunya kualitas bagus sekali,” kata Agung. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (100.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments