2016, Kapal Asing Pengangkut Ikan Berhenti di Pelabuhan

502
ilustrasi. google.com

Jakarta. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan kapal pengangkut ikan hidup yang beroperasi di kawasan perairan Republik Indonesia (RI) harus berbendera Indonesia.

“Nantinya kapal yang bisa beroperasi mengangkut ikan hidup di perairan Indonesia harus berbendera Indonesia dan di awaki awak kapal berkewarganegaraan Indonesia,” kata Slamet di Jakarta, Minggu (15/11).

Dia memaparkan, kapal asing hanya diperbolehkan berhenti di pelabuhan pengecekan yang telah ditetapkan. Hal tersebut akan berlaku mulai Februari 2016, sebagai bagian dari penerapan asas cabotage.

KKP juga telah memperkenalkan Sistem Informasi Aplikasi Pemasukan Ikan Hidup (SIAPIH) untuk mempermudah pelayanan dan pemberian izin pemasukan ikan hidup.

“Melalui SIAPIH, kita harapkan para importir semakin mudah dalam memperoleh pelayanan perijinan dan mempermudah para stakeholder dalam melakukan usaha perikanan budidaya. Nantinya dapat terwujud perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan,” katanya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan budidaya perikanan menjadi tulang punggung perekonomian nasional karena dalam lima tahun terakhir jumlah usaha budidaya perikanan meningkat pesat. “Berkelanjutan adalah kerangka dalam budi daya perikanan Indonesia saat ini,” kata Susi.

Susi mengungkapkan, secara nasional dalam kurun waktu lima tahun terakhir, usaha budidaya perikanan meningkat sebesar 23,74% dari 6,27 juta ton pada 2010, menjadi 14,52 juta ton pada 2015.

Dari total produksi 14,52 juta ton pada 2015, 70,45 persennya merupakan produksi rumput laut, 22% berasal dari budidaya ikan air tawar seperti patin, nila, lele, gurame dan juga bandeng. Kemudian untuk udang, komoditas laut seperti kakap dan kerapu, produksinya adalah 4% dari total produksi.

Hal itu didukung dengan kekayaan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk sektor perikanan budidaya tersebut. “Dari 11,8 juta hektare lahan budidaya laut berpotensi, 2,3 juta hektare lahan budidaya payau dan 2,5 juta hektare lahan budidaya air tawar seluas, baru sebagian kecil dimanfaatkan,” katanya.

Dalam sejumlah kesempatan, Susi juga mengungkapkan, anggaran untuk perikanan budi daya pada tahun 2016 bakal meningkat sebanyak tiga kali lipat dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya. “Untuk budidaya pada tahun 2016 kami anggarkan Rp1,6 triliun atau hampir tiga kali anggaran budi daya tahun 2015,” kata Susi. (ant)

Sumber: Medan Bisnis

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments