Jaga Laut dan Ekosistemnya, Milenial Perangi Sampah Plastik

49
Dok. Humas KKP

KKPNews, Bekasi – Dalam rangka menanamkan rasa cinta generasi milenial terhadap lingkungan pesisir dan laut, Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri (BHKLN) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkolaborasi dengan Pandu Laut Nusantara mengadakan seminar di sekolah-sekolah. Kegiatan seminar ini akan dijadikan model kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai.

Sabtu (28/9), diselenggarakan Al-Azhar Creative Seminar di SMA Al-Azhar 4 Kemang Pratama, Bekasi. Bertajuk “Milenial Perangi Sampah Plastik”, seminar ini memberikan edukasi bahaya sampah plastik bagi lingkungan, utamanya bagi perairan dan ekosistemnya.

Pada kegiatan yang dihadiri siswa SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum tersebut dihadirkan peneliti kelautan dan perikanan dan beberapa aktivis penggiat lingkungan untuk memberi materi ilmiah serta motivasi dan berbagi kisah inspiratif perjuangan memerangi sampah di laut Indonesia. Mereka adalah Peneliti Bidang Penginderaan Jauh Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan Perikanan (BRSDM), Dr. Rinny Rahmania; Ketua Harian Pandu Laut Nusantara, Prita Laura; Founder and Executive Director Divers Clean Action, Swietenia Puspa; dan Team Leader Bye-Bye Plastic Bags Bali, Noel Dio.

Indonesia darurat sampah plastik, oleh karena itu penanggulangannya perlu digalakkan. Berdasarkan studi yang dirilis oleh McKinsey and Co dan Ocean Conservancy, Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Akibatnya kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil tercemar dan penuh dengan sampah.

Peneliti Bidang Penginderaan Jauh BRSDM, Dr. Rinny Rahmania memaparkan, saat ini terdapat sekitar 150 juta penduduk Indonesia yang tinggal di pesisir. Sementara terjadi penambahan 38 juta ton sampah plastik per tahunnya. Menurutnya, setiap tahun terjadi kebocoran sampah plastik ke laut sebanyak 1,29 juta ton.

Tak hanya merusak keindahan ekosistem pesisir, sampah plastik ini juga dapat mengganggu transportasi laut, menjerat biota laut, atau termakan biota laut dengan kandungan yang bahaya bagi kelangsungan hidupnya. Bahkan cemaran sampah plastik ini juga berbahaya bagi kesehatan manusia.

Ancaman bahaya semakin besar karena sampah plastik sulit terurai. Sebut saja botol plastik yang butuh waktu 450 tahun untuk terurai atau pengangan minuman plastik yang butuh waktu 400 tahun.

“Plastik dapat terurai menjadi mikroplastik. Nah, mikroplastik ini jika dikonsumsi ikan dan hewan laut lainnya dapat mengancam kehidupan. Kalau manusia mengonsumsi ikan yang mengandung mikroplastik ini juga dapat membahayakan kesehatan,” jelasnya.

Berbagai Gerakan Peduli Laut

Prihatin atas bahaya sampah laut inilah yang membuat munculnya berbagai gerakan cinta laut. Ketua Harian Pandu Laut Nusantara, Prita Laura bercerita, kecintaannya terhadap laut dimulai saat ia menyaksikan keindahan di bawah laut yang membuatnya terkagum-kagum. Terlebih lagi, keindahan itu tak ada di semua negara dunia. Hamparan terumbu karang (coral reef) yang begitu luar biasa terbentang di 6 negara segitiga karang (coral triangle), yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon sehingga ia menilai, negara ini beruntung memilikinya.

“Banyak terumbu karang yang bagusnya, tapi banyak yang rusak dan banyak sampahnya,” ucap Prita.

“Dengan keindahan laut yang ada, orang Indonesia kalau tidak pernah diving itu seperti punya Ferrari tapi tidak pernah dipakai. Sayang sekali,” lanjutnya.

Ia berpendapat, Indonesia punya laut yang sangat kaya tapi masyarakatnya seringkali tidak menyadari sehingga akhirnya bertindak sembarangan terhadap laut. “Kita banyak buang sampah ke laut selama ini. Kita sudah menjadikan laut tempat pembuangan sampah.”

Menurutnya laut yang merupakan 71 persen wilayah Indonesia ini mutlak harus dijaga. “Jika terjadi apa-apa terhadap 71% dari wilayah Indonesia itu, tentu yang 29 persen lainnya juga akan ikut terpengaruh,” katanya.

Senada dengan Prita, Swietenia Puspa yang merupakan Founder and Executive Director Divers Clean Action menyebut, hobi menyelam dan berenanglah yang telah membuka matanya atas kondisi laut Indonesia. Saat menyelam, ia menemukan terumbu karang yang indah. Namun keindahan tersebut dirusak oleh sampah plastik yang bertebaran di lautan. Untuk itulah, dirinya menginisiasi Divers Clean Action, tempat berkumpulnya para penyelam yang peduli dengan kelestarian laut. Tidak hanya memungut sampah, dirinya dan rekan-rekannya juga melakukan penyelamatan terhadap beberapa biota laut yang terjebak atau terluka karena sampah.

Usai memungut sampah mereka juga memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. “Ternyata yang paling banyak adalah jenis-jenis sampah yang sangat sulit didaur ulang atau tidak laku dijual. Dari data-data ketika kita melakukan bersih-bersih, ternyata 63% itu adalah sampah plastik sekali pakai seperti sedotan dan kemasan sachet,” jelasnya.

Menurut Swietenia, berdasarkan penelitian, ternyata Indonesia itu memproduksi hingga 93 juta batang sampah sedotan setiap harinya yang kalau disusun membentang dari Jakarta hingga Meksiko. Untuk itulah dirinya dan penggiat lingkungan lainnya melakukan kampanye #noplasticstraw bekerja sama dengan gerai makanan dan minuman dan kafe-kafe sehingga pemakaian sedotan dapat berkurang hingga 91 persennya.

“Pantai-pantai Indonesia ini cantik-cantik, disukai wisatawan, tapi sayangnya sampahnya banyak sekali. Jadi dibutuhkan solusi yang tidak hanya bersih-bersih saja, contohnya untuk mengurangi pemakaiannya,” imbaunya.

Tak jauh berbeda, Noel Dio, Team Leader Bye-Bye Plastic Bags Bali mengungkapkan, dirinya bergabung dengan Bye-Bye Plastic Bags karena prihatin melihat berbagai video tentang kerusakan yang ditimbulkan sampah plastik terhadap biota laut, misalnya penyu yang tertusuk hidungnya oleh sedotan plastik.

Sampai saat ini, semangat Bye-Bye Plastic Bags ini sudah berhasil ditularkan kepada sekitar 45.000 pelajar lokal maupun internasional.

Upaya Pemerintah Kurangi Sampah Plastik

Dalam sambutannya, Kepala BHKLN KKP Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan, KKP berkomitmen mengurangi sampah plastik melalui 5R, re-think, refuse, reduce, reuse, dan recycle sebanyak 30 persen pada tahun 2025. Selain itu, melalui program Gerakan Cinta Laut (Gita Laut) juga ditargetkan pengurangan 70 persen sampah plastik di 2025.

“Dalam kegiatan Gita Laut, KKP melakukan berbagai aktivitas yang melibatkan partisipasi masyarakat, seperti Gerakan Bersih Pantai dan Laut, Jambore Pesisir, Sekolah Pantai Indonesia, Bantuan Pemerintah Sarana Pengolahan Sampah, dan lain sebagainya,” paparnya.

Sementara terkait pelaksanaan seminar, Lilly mengatakan, menurutnya pengetahuan, kesadaran, kepedulian, dan partisipasi aktif generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya pengurangan sampah plastik. Untuk itu, kegiatan serupa akan dilanjutkan ke sekolah-sekolah lainnya.

“Saya berharap, generasi milenial Al Azhar dapat memanfaatkan kegiatan ini untuk menggali sebanyak-banyaknya pengalaman dan kepedulian para narasumber terhadap lingkungan pesisir dan laut, sehingga menggugah kesadaran kita semua untuk menjadikan laut Indonesia bebas dari sampah plastik,” tutupnya.

Sebagai informasi, di akhir kegiatan, siswa-siswi SMA Al-Azhar 4 membacakan deklarasi yang berisi penolakan terhadap plastik sekali pakai, komitmen membuang sampah pada tempatnya, pengurangan sampah plastik melalui 5R, dan keikutsertaan menjaga kebersihan dan kesehatan perairan umum. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments