Waspada Dampak Paparan Minyak di Teluk Balikpapan Pada Mangrove dan Biota Laut

71
Tumpahan minyak di perairan Balikpapan. Dok. Merdeka

KKPNews, Balikpapan – Kasus tumpahnya minyak di Teluk Balikpapan beberapa waktu lalu tentunya menimbulkan berbagai masalah. Kasus ini mengingatkan kepada kita tentang meledaknya ladang pengeboran minyak milik Montara, sebuah perusahaan minyak dan gas (migas) milik Thailand dan Australia. Tumpahan minyak itu terjadi terjadi pada 29 Agustus 2009 dan terus berlangsung selama 74 hari. Hingga akhirnya, pada 3 November 2009, kebocoran berhasil diatasi.

Peneliti biologi bawah laut, Pahlano Daud mengatakan, ada kesamaan dari dua musibah lingkungan hidup tersebut.

Menurutnya kondisi mangrove di lokasi pencemaran minyak, terbilang kering. Butuh waktu yang lama bahkan puluhan tahun untuk mengembalikan ke kondisi semula. “Khusus untuk Teluk Balikpapan, tidak sampai segitu. Namun, tetap lama,” tuturnya.

Pahlano telah meninjau langsung kondisi pencemaran di Balikpapan tersebut. Ia menilai perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui dampak bawah laut. Namun, secara kasatmata, ia melihat minyak masih menempel pada mangrove. Bahkan, saat surut terlihat cairan minyak menempel sampai setinggi 2,5 meter dari akarnya.

“Padahal mangrove itu bernafas dengan akarnya. Kalau akarnya tertutup minyak samai ke bagian daun, lalu bagaimana bernapasnya. Memang ada pada saat pasang, minyak itu tercuci sedikit demi sedikit. Tapi kan kita tidak tahu dampak minyak itu sudahk sejauh mana,” jelasnya.

Ia pun menyarankan agar Pertamina melakukan penyemprotan mangrove tersebut menggunakan air laut untuk membersihkan minyak yang menempel di akar dan batangnya. Setelah itu minyak dikumpulkan, lalu lebih baik disedot.

Terkait dampak pencemaran kepada biota laut, Kepala Seksi Pengawasan, Pengendalian, dan Informasi Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Balikpapan, Kadson Batubara mengatakan, pencemaran minyak akan berdampak pada hewan laut. Terutama kepiting yang berada di hutan mangrove.

“Namun sekarang belum terlihat dampaknya dalam jumlah besar. Tapi itu pasti dampaknya besar karena minyak sampai masuk ke akar-akar mangrove,” terangnya.

Selain itu, berdasarkan teoritis  dan pengalaman dari Pakar Pencemaran Kelautan dan Perikanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Aryo Damar mengungkapkan, kasus tumpahan minyak di Balikpapan itu jenis fraksinya berat.

“Secara kasatmata itu kental. Jadi bukan minyak speperti BBM. Kalau BBM kan ringan dan gampang menguap dan mengapung. Kalau yang ini berat meski ada di air, dia tetap mengapung,” ungkap Aryo beberapa waktu lalu.

Menurutnya yang menjadi permasalah adalah saat minyak mengarah ke pantai. Di Balikpapan, lanjut Aryo, minyak tersebut sudah mendekati mangrove atau hutan bakau. “Itu yang terjadi, minyak itu dipastikan akan menutupi perakaran hutan mangrove.”

Bagi mangrove, itu daya bernafas akar tersebut akan terganggu. Tetapi yang lebih penting, mangrove itu sebuah ekosistem, jadi banyak biotanya,” jelas Aryo.

Menurutnya, dari paparan minyak tersebut, pertumbuhan pohon mangrove bisa terganggu meski tidak langsung mati. “Ujung-ujungnya, ekonomi nelayan merosot. Apalagi fungsi-fungsi ekologis di daerah konservasi hutan mangrove itu terganggu. Itu bisa sampai level kematian hutan,” tambahnya.

Aryo juga menyoroti dampak tumpahnya minyak pada ikan. Aryo menegaskan, ikan yang terpapar minyak masih aman dikonsumsi. “Jika sebelum dimasak, ikan benar-benar dibersihkan sehingga bagian luar tubuh ikan bersih dari paparan minyak. Yang jadi masalah, warga merasa jijik mengonsumsi akan kena efeknya,” paparnya.

Aryo menambahkan, ikan yang terpapar minyak bukan berarti beracun. Kecuali ikan yang terpapar logam berat industry yang masuk ke metabolisme tubuh ikan. “Ya kalau kita makan, ya orang yang mengonsumsi akan kena efeknya.”

Pencemaran minyak di Teluk Balikpapan ini bukan pencemaran biasa. Pun ternyata bukan pencemaran yang disebabkan tumpahan BBM kapal yang terbakar seperti diduga di awal. Pencemaran terjadi akibat kebocoran pipa bawah laut milik Pertamina yang menghubungkan Terminal Lawe-lawe di Penajam Paser Utama ke Kilang Refinery Unit V Balikpapan.

Oleh karenanya, tak heran bila pencemaran yang terjadi begitu hebat. Tercatat perairan yang tercemar mencapai luas 12.987 hektare dengan panjang pantai terdampak mencapai sepanjang 60 km.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut dampak pencemaran akibat kebocoran pipa crude oil itu benar-benar mengerikan. Siapa yang harus bertanggung jawab secara hukum atas kasus tragedi lingkungan tersebut mesti dicari.

Tapi, yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah, Pertamina, dan semua pihak terkait bersama-sama dan secepatnya mengatasi pencemaran di Teluk Balikpapan dan menyelamatkan ekosistem di dalamnya. Semakin cepat penanganan bisa dilakukan diharapkan semakin kecil dampak kerusakan lingkungan hidup yang akan terjadi. (MD)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments