Warga Serahkan Alligator Berbahaya ke SKIPM Yogyakarta

87
Ilustrasi

KKPNews, Yogyakarta – Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hail Perikanan (SKIPM) Yogyakarta, menerima penyerahan ikan Alligator yang dipelihara oleh warga Yogyakarta, Agung Prasetyo Utomo (47). Penyerahan dilakukan setelah ada imbauan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) agar setiap warga yang memiliki ikan berbahaya dan invasif menyerahkannya ke petugas berwenang.

Saat ditemui di Posko Penyerahan Ikan Berbahaya dan Ikan Invasif SKIPM Yogyakarta, Depok, Sleman, Rabu (4/7), Agung menuturkan setelah mendapatkan informasi dari media mengenai larangan memelihara ikan berbahya dan ikan invasif, dia terdorong untuk menyerahkan ikan Alligator yang dipeliharanya.

Agung menceritakan, tiga tahun lalu ia mendapatkan ikan tersebut dari pasar ikan dengan harga Rp35.000 per ekor.

Kepala SKIPM Yogyakarta, Hafit Rahman menyampaikan apresiasinya kepada warga yang dengan sukarela menyerahkan ikan berbahaya dan invasif ke petugas berwenang. Berdasarkan Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana diubah menjadi Undang-undang Nomor 45 tahun 2009 dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 41 tahun 2014, warga yang memelihara ikan berbahaya dan invasif dapat diancam hukuman pidana.

“Selama sebulan ini akan sosialisasi pendekatan ke warga. Jika selepas 31 Juli ada yang kedapatan memelihara ikan berbahaya dan invasif akan ditindak tegas, diproses hukum dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar bagi pemeliharaan dan jika ada yang sengaja yang melepas ke alam, terancam pidana 10 tahun penjara dan denda Rp2 miliar,” ungkapnya.

Berdasarkan Permen KP tersebut, terdapat 152 jenis ikan berbahaya dan invasif, di antaranya ikan Arapaima Gigas, Aligator, Red Tail, Piranha, Sapu-sapu, Tiger catfish, dan Jaguar. Ikan-ikan itu boleh dipelihara jika untuk keperluan penelitian dan edukasi disertai izin dari petugas.

Hafit menambahkan, khusus ikan sapu-sapu termasuk ke dalam jenis ikan invasif karena jika hidup di satu lokasi makan akan mendominasi.

“Ikan sapu-sapu cepat berkembang biak, dominan ambil makan terlalu banyak, jadi ikan lokal kalah. Imbauan penyerahan ini antisipasi kita jika nanti sewaktu-waktu dilepas liar oleh pemiliknya, bisa merusak habitat alam dan ikan lokal,” katanya.

SKIPM Yogyakarta telah menerima lima ekor ikan Alligator yang diserahkan dari tiga warga sejak pendirian posko Penyerahan Ikan Berbahaya dan Invasif ini. Hafit mengatakan, akanada pemusnahan sesuai imbauan dari pusat atau ikan akan diawetkan untuk edukasi. (Faizah Salsabila)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments