Wamenlu Jepang Puji Ketegasan Menteri Susi Jaga Kedaulatan Laut Indonesia

87
Menteri Susi Pudjiastuti bertemu Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Masahisa Sato di Tokyo, Selasa (22/8). Dok. Humas KKP

Tokyo (24/8) – Tak hanya menemui Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono, dalam lawatannya ke Jepang, pada Selasa (22/8), Menteri Susi juga menemui Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Jepang Masahisa Sato. Dalam pertemuan tersebut, Masahisa Sato mengungkapkan kekagumannya kepada sosok Menteri Susi yang dinilai sangat tegas dan berani mempertahankan kedaulatan laut Indonesia dari tangan asing. “Kami, Jepang, butuh sosok seperti Ibu Susi untuk menghadapi serbuan kapal Tiongkok dan Vietnam yang masuk ke wilayah Jepang,” ungkap Masahisa.

Menyambut pujian tersebut, Menteri Susi berjanji akan menemui Mr. Kimura, senior Wamenlu di Angkatan Laut yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya perikanan Jepang untuk saling bertukar informasi.

Menurut Masahisa, saat ini perlindungan sumber daya perikanan menjadi isu yang sangat penting bagi Jepang, mengingat banyak wilayah perairan Jepang mulai overfishing dan maraknya kapal asing memasuki perairan mereka. Untuk itu, mereka ingin belajar cara Indonesia mempertahankan lautnya. Salah satunya dengan memberikan dukungan pada pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT).

“Sebagai bentuk dukungan, kami membantu pembangunan pelabuhan di 6 lokasi strategis (SKPT), terutama di Pulau Morotai dan Natuna, yang dibangun Indonesia untuk menjaga keamanan maritim,” ujar Masahisa.

Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Susi menyatakan dirinya bukanlah ahli pertahanan, melainkan hanya warga negara yang peduli kepentingan rakyat dan kedaulatan laut Indonesia. “Saya melihat 6 lokasi SKPT yang akan disupport Jepang ini akan menjadi titik strategis. Baik itu secara perikanan, wilayah pertahanan, dan juga kepentingan free navigation, maupun kepentingan negara kita,” ungkap Menteri Susi.

Menteri Susi mengakui, saat ini kapal Indonesia tidak cukup besar untuk dapat melakukan pengawasan hingga ke ujung wilayah Natuna karena kesulitan mendapatkan bahan bakar. Menurutnya, akan sangat baik jika Indonesia dan Jepang dapat melakukan penjagaan perbatasan bersama, khususnya dengan DG Surveillance Indonesia.

Pada kunjungan kerja ke Jepang April lalu, Menteri Susi sudah membicarakan penjajakan kerja sama dalam penjagaan perbatasan berupa exchange, training, dan capacity building. Menteri Susi bahkan berencana mengirim beberapa aparat /pengawas perikanan (coastguard) Indonesia untuk berlatih di Jepang dan melakukan latihan bersama. Menteri Susi juga menyampaikan harapan agar Jepang dapat membantu pengadaan coastguard untuk kegiatan pengamanan kemaritiman.

Menanggapi hal tersebut, Masahisa memilih Natuna sebagai lokasi yang tepat untuk melakukan peningkatan kapasitas. Bahkan menurutnya, banyak masyarakat Jepang yang tertarik dengan isu Natuna.

“Dalam kunjungan kerja ke Indonesia sebelumnya, saya berkunjung ke Jakarta dan Surabaya. Dalam kesempatan kunjungan selanjutnya, saya ingin mengunjungi wilayah lain di Indonesia,” harap Masahisa. Menanggapi hal tersebut, Menteri Susi menyarankan Masahisa untuk mengunjungi Natuna dan mengirim pesan khusus kepada Tiongkok.

Sebagai informasi, Indonesia bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) akan memfasilitasi pihak pemerintah dan swasta Jepang yang hendak berinvestasi terutama di 12 pulau terluar Indonesia. Termasuk investasi dalam peningkatan transportasi cepat untuk mencapai lokasi pembekuan dan penerbangan langsung untuk mengantar hasil tangkapan.

Pembangunan SKPT ini bertujuan untuk meningkatkan produksi perikanan Indonesia dan memudahkan pemasaran produk perikanan Indonesia secara global. Sebagaimana diketahui, saat ini produksi Tuna Indonesia meningkat dibanding 10 atau 15 tahun sebelumnya. Contohnya di Morotai, hasil tangkapan tuna mencapai 2-7 ton per hari untuk komoditas yellow fin dengan ukuran 35-40 kg.

Pihak Jepang mengakui, kebijakan pemeliharaan perikanan berkelanjutan yang diambil Menteri Susi dan beberapa negara lainnya, telah berpengaruh terhadap pemulihan ketersediaan blue fin tuna dan yellow fin tuna yang menjadi konsumsi utama masyarakat Jepang. Sebagaimana diketahui, Laut Sendang Biru, di Selatan Jawa Indonesia merupakan tempat bertelur (spawning ground) blue fin tuna. “Hal ini berkontrubusi juga kepada recovery blue fin tuna di Jepang,” imbuh Masahisa.

Untuk diketahui, Indonesia saat ini tengah melakukan morotarium alat tangkap perikanan yang merusak (destruktif). Di Laut Banda misalnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah menghancurkan sekitar 1000 alat tangkap. “Meskipun sempat mendapat penolakan dari banyak nelayan Indonesia termasuk Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN), kebijakan ini telah membuat nelayan bisa menangkap ikan tuna seukuran 8 kg, di jarak kurang dari 2 mil dari pantai, dengan durasi perjalanan 1-2 jam,” pungkas Menteri Susi. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Sedih (100.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments