Revitalisasi Keramba Jaring Apung (KJA) Budidaya Laut

555
Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto saat melakukan Dialog Kebijakan Pengembangan Budidaya Laut Nasional di Gedung Mina Bahari III, Jakarta, Senin, (20/3). Dok. Humas KKP/M. Iqbal

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mulai tahun 2017 akan fokus dalam upaya optimalisasi melalui program revitalisasi Keramba Jaring Apung (KJA), terutama KJA yang dikelola masyarakat. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, sejauh ini ada sebanyak 15.583 lubang bantuan KJA dari lintas kementerian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.316 lubang atau sekitar 47,7% adalah bantuan dari DJPB.

“Ini menjadi hal yang perlu disikapi bahwa penting kementerian terkait berkoordinasi dengan KKP sebagai kementerian teknis yang membidangi masalah perikanan budidaya, sehingga masalah inefisiensi dapat diatasi dengan baik,” ungkap Slamet dalam Dialog Kebijakan Pengembangan Budidaya Laut Nasional di Gedung Mina Bahari III, Jakarta, Senin, (20/3).

Slamet menambahkan, tahun 2017 KKP menargetkan revitalisasi KJA sebanyak 250 unit (1000 lubang), yang diharapkan akan mampu menghasilkan produksi lebih dari 342 ton/tahun dengan nilai produksi sebesar kurang lebih Rp34 miliar. Di samping itu program ini juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja hingga 500 orang per tahun, dengan kisaran pendapatan kotor yang mampu diraup kelompok pembudidaya mencapai Rp80 – 182 juta/tahun.

Dalam usaha revitalisasi ini, KKP menggandeng Perum Perikanan Indonesia (Perindo). General Manager Marikultur Perindo, Muhibuddin Koto yang akrab disapa Budi, menyatakan bahwa ke depan Perindo akan mulai fokus menggarap potensi budidaya laut melalui kerjasama efektif yang difasilitasi KKP.

“Langkah awal, Perindo akan membantu pelaksanaan revitalisasi sebanyak 1.000 lubang di 6 klaster dengan target produksi minimal 200 ton/bulan. Klaster-klaster terebut antara lain di Bali, Natuna, Konawe Selatan, Ambon, Lampung, dan Padang,” ungkap Budi. Harapannya produksi budidaya kerapu meningkat 2 kali lipat dari tahun sebelumnya selain itu diharapkan akan mampu meningkatkan daya serap benih 3,6 juta yang diproduksi dari pembenih.

Perum Perindo telah menjajaki kerjasama dengan buyer di Hongkong untuk pemasaran hasil budidaya. “Perindo akan memposisikan diri dalam memperkuat mata rantai bisnis marikultur baik di hulu (on farm), maupun bertindak sebagai penyangga di hilir (pasar),” tambah Budi.

Untuk revitalisasi KJA, Slamet mengaku pihaknya telah memiliki strategi konkrit. Menurutnya, setidaknya ada 5 (lima) strategi yang akan ditempuh, yaitu melalui : Pertama, memfasilitasi aksesibilitas terhadap input produksi yang efisien. Peran fasilitasi bagi kemudahan akses input produksi seperti benih berkualitas dan pakan akan didorong melalui UPT Ditjen Perikanan Budidaya.

Kedua, mendorong Penguatan Kelembagaan dan kemitraan usaha. Ditjen PB juga akan memfasilitasi kemungkinan kemitraan yang dapat dijalin antara kelompok pembudidaya dengan pihak swasta, BUMN maupun asosiasi pengusaha budidaya ikan laut seperti Hipilindo (Himpunan Pembudidayaan Ikan Laut Indonesia) dan Hipikerindo (Himpunan Pembudidaya Ikan Kerapu Indonesia). Kemitraan ini penting untuk menjamin kemudahan akses terutama input produksi dan pasar.

Ketiga, fokus pada komoditas yang berbasis pasar. Komoditas budidaya laut akan diarahkan untuk jenis ikan yang berbasis pada keinginan dan trend pasar, sehingga mampu berdaya saing.

Keempat, pembangunan dan perbaikan sarana prasarana dan infrastruktur. Ini juga akan didorong untuk menciptakan efisiensi produksi dan menjamin konektivitas yang efisien dari hulu ke hilir.

Kelima, menyediakan akses informasi teknologi. Langkah yang ditempuh yaitu dengan mendorong pelayanan akses informasi teknologi yang lebih mudah diterima masyarakat pembudidaya baik secara langsung melalui kegiatan bimtek, pendampingan dan penyuluhan maupun tidak langsung melalui media dan sarana lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Yuliana Ekawati Wakil Ketua Hipilindo mengatakan, komoditas ikan kerapu agak terkendala dengan masalah pasar, karena pemberlakukan Permen KP No. 32/PERMEN-KP/2016 tentang perubahan atas peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 15/PERMEN-KP/2016 tentang Kapal Pengangkut Ikan Hidup.

Menurutnya, Hipilindo saat ini telah mampu melakukan diversifikasi komoditas yang berbasis pada kebutuhan pasar terutama pasar lokal yang kebutuhannya cukup tinggi. “Saat ini kami tidak melulu fokus pada ikan kerapu, tapi sudah melirik komoditas lain seperti ikan kakap, sehingga mampu meningkatkan posisi tawar,” tambah Yuliana.

Secara nasional perkembangan perikanan budidaya dalam kurung waktu 5 tahun menunjukkan tren yang positif dengan kenaikan rata-rata pertahun sebesar 15,24%. Kinerja positif produksi perikanan nasional dibarengi dengan nilai tukar usaha pembudidaya ikan (NTUPi) yang berada pada level cukup baik yaitu 106,56. Angka NTUPi yang melebihi 100 menunjukkan bahwa usaha budidaya dalam kategori cukup efisien. Capaian ini didorong oleh berbagai program DJPB yang memberikan dampak positif diantaranya program gerakan ikan mandiri dan dukungan 100 juta benih yang berkontribusi meningkatkan nilai tambah margin keuntungan yang diraup para pembudidaya ikan. (AFN/DS)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (66.7%)
  • Senang (33.3%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments