Tingkatkan Fasilitas dan Pelayanan, Menteri Susi Resmikan Reachstacker Balai KIPM Surabaya II

54
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat meresmikan alat berat pengangkut peti kemas Reachstacker di Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Surabaya II di kawasan Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Dok. Humas BKIPM

KKPNews, Sidoarjo – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Senin (30/7) memantau pengoperasian Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Surabaya II di kawasan Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) didampingi Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rina. Dalam kunjungannya tersebut, Menteri Susi meresmikan alat berat pengangkut peti kemas Reachstacker jenis Kalmar DRU 450 guna meningkatkan fasilitas dan pelayanan di tempat tersebut.

“Dengan adanya alat ini bisa meningkatkan pelayanan dan fasilitas yang ada di tempat ini, termasuk juga mempercepat waktu tunggu (dwelling time) yang saat ini sekitar dua jam,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, KKP mengoperasikan Balai KIPM Surabaya II ini sebagai bagian dari blue print pelaksanaan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) untuk kawasan Timur Indonesia. Hal ini sejalan dengan rencana difungsikannya Puspa Agro sebagai Pusat Distribusi Regional (PDR) komoditas pangan atau kebutuhan pokok untuk kawasan Timur Indonesia.

Sebagai informasi, Puspa Agro dikembangkan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov Jatim yaitu PT Jatim Grha Utama (JGU) di lahan seluas kurang lebih 50 hektar. Puspa Agro dilengkapi fasilitas dalam satu kawasan yang terintegrasi, di antaranya pasar induk, pergudangan, cold storage, Rumah Susun Sederhana Sewa, Agro Biotech, Pusat Layanan Berikat, dan Pusat Karantina Ikan.

Ke depan diharapkan dengan integrasi BKIPM, Puspa Agro, Pusat Logistik Berikat, dan segala sarana prasarana dalam satu kawasan dapat menekan biaya logistik dan meningkatkan indeks logistik. Dengan demikian, kinerja ekspor produk perikanan juga diharapkan meningkat sebagaimana yang saat ini tengah diupayakan.

Menteri Susi mengatakan, volume ekspor perikanan tahun ini memang telah menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu. Bahkan menurutnya, volume ekspor produk perikanan periode Januari – Juli 2018 telah meningkat 15,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2017. Peningkatan ini diharapkan masih akan terus terjadi hingga akhir 2018.

Menteri Susi memaparkan, di tahun 2017 volume ekspor ikan mencapai 7.003 high cube (HC), sedangkan di pertengahan tahun ini sudah mencapai 8.070 HC. “Mudah-mudahan peningkatannya bisa sampai 14.000 HC hingga akhir tahun mendatang,” lanjut Menteri Susi.

Pencapaian ini cukup menggembirakan karena peningkatan ekspor ini dibarengi dengan penurunan angka komoditas perikanan impor. Volume komoditas impor yang terdiri dari tepung ikan, bahan baku pakan, frozen sardine, frozen mackerel, dan fish oil nyatanya mengalami penurunan.

Volume impor komoditas tepung ikan misalnya, periode Januari – Juli 2017 mencapai 15,33 persen, sedangkan di periode yang sama tahun 2018 turun menjadi 7,91 persen. Begitu pula dengan impor komoditas sardine frozen yang mencapai 36,26 persen pada 2017 turun menjadi 17,14 persen di tahun 2018.

“Hal ini menunjukkan bahwa bahan baku dalam negeri, ekspor kita lebih banyak dibandingkan yang impor,” tegas Menteri Susi.

Menurut Menteri Susi, Surabaya juga kaya akan komoditas udang vaname, cakalang, tuna beku, udang beku/olahan, dan ikan segar seperti kakap, layur, kerapu, dan laosa.

Beberapa komoditas konsumsi ekspor andalan Balai KIPM Surabaya II berdasarkan volumenya di antaranya frozen fish (ikan beku), frozen shrimp (udang beku), crab meat (daging kepiting), frozen squid (cumi beku), dried chirimen (teri kering), frozen octopus (gurita beku), shrimp crackers (kerupuk udang), seaweed (rumput laut), jelly fish (ubur-ubur), dan dried shark fins (sirip hiu kering).

Adapun komoditas ekspor andalan non konsumsi di antaranya crab shell (cangkang kepiting), shrimp shell (kulit udang), fish for bait (umpan pancing), sea shell (kerang laut), fish meal (makanan ikan), fish oil (minyak ikan), dan fish/shrimp feed (pakan ikan dan udang).

Oleh karena itu, menurut Menteri Susi pelayanan dan fasilitas di berbagai UPT BKIPM Indonesia akan terus ditingkatkan guna memaksimalkan potensi yang ada di setiap daerah. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Sedih (100.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments