Teknologi Pemikat Ikan LEDikan Mulai Beredar di Pasaran

71
Agus Cahyadi, Peneliti Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP), Kementerian Kelautan dan Perikanan berhasil temukan alat untuk memikat ikan dengan menggunakan lampu LED (Light-Emitting Diode) yang diberi nama LEDikan. Dok. Humas BRSDMKP

KKPNews, Jakarta – Alat pemikat ikan yang menggunakan lampu LED (Light-Emitting Diode) atau yang dikenal sebagai LEDikan kini sudah mulai beredar di pasaran. Hal ini diungkapkan penemu LEDikan,  Agus Cahyadi yang merupakan peneliti Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Peneliti yang telah menerima 25 paten tersebut menerangkan, LEDikan sudah memperoleh hak paten dan diproduksi dalam jumlah besar. Alat tersebut juga sudah berhasil diperbanyak dan dibuat massal untuk selanjutnya dijual secara komersil. Saat ini paling tidak sudah ada 300 alat LEDikan yang digunakan oleh 300 nelayan di seluruh berbagai daerah seperti di Wakatobi, Sulawesi Selatan, Karimun Jawa, Pangandaran, dan lainnya.

”Total saya sudah buat 300 alat dan digunakan 300 nelayan, cuma yang dijual secara komersil baru 100 alat. Ke depan akan kita produksi lebih banyak lagi sesuai dengan permintaan nelayan yang meningkat,” ungkapnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (9/8).

LEDikan sudah mulai dipasarkan sejak 2016 lalu, dibandrol dengan harga Rp8,5 juta untuk ukuran 15 x 20 cm dengan daya 145 watt diperuntukkan bagi bagan ukuran 8,5 m x 8,5 m. Awalnya, ia menargetkan untuk nelayan tradisional dengan bagan ukuran 8,5 m x 8,5 m, penggunaannya cukup satu per bagan, dan bisa tahan hingga 5 tahun.

Namun seiring berkembangnya kebutuhan nelayan, saat ini ia dan timnya juga menerima pesanan dengan ukuran yang lebih besar untuk nelayan skala besar dengan ukuran bagan 16 x 16 m. “Tapi kami buat LEDikan yang lebih besar ukuran 30 x 40 cm dan daya nya sekitar 400 watt, harganya juga dua kali lipat dari yang kecil,” tambah Agus.

Hal ini dilakukan agar semakin banyak nelayan yang dapat menggunakan hasil karya teknologi buatannya, baik nelayan kecil maupun nelayan besar.

Sebelumnya, lelaki yang akrab disapa Acah ini memang telah mengikuti program  Inovasi Bisnis Teknologi (IBT) dari Kementerian Ristekdikti pada 2013 lalu. Waktu itu dirinya memperoleh bantuan dana penelitian selama dua tahun dari 2013 – 2015. Selama masa inkubasi tersebut didorong untuk mendesain alat agar mampu diproduksi masal dan aplikatif di masyarakat, serta memiliki nilai ekonomi yang baik.

Agus pun berpesan, agar para peneliti di lingkup pemerintahan pantang menyerah saat melakukan penelitian. “Semoga inovasi yang saya buat ini, dapat menularkan semangat kepada akademisi, peneliti dan khalayak lainnya. KKP saat ini juga terus berupaya menghasilkan inovasi teknologi yang aplikatif bagi nelayan maupun pelaku perikanan lainnya,” tutupnya. (DS/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments