Tekan Impor, Industri Patin Indonesia Saingi Pasar Global

57
dok.humas KKP / Rionaldy Lakshamana

KKPNews, Jakarta – Peluang produk patin Indonesia untuk menguasai pasar global sangat terbuka luas. Hal tersebut ditunjukkan dengan meningkatnya ekspor patin Indonesia ke beberapa negara. Pasalnya pasca penerapan kebijakan proteksi impor patin, geliat industri patin Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pada tahun 2016 produksi patin nasional sebesar 437.111 ton. Meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yaitu 339.069 ton. Pada tahun 2018, KKP menargetkan produksi patin sebesar 604.587 ton.

Selain itu, kebutuhan patin di mancanegara menunjukkan trend positif, seperti di Tiongkok. Impor patin di negeri tirai bambu tersebut tumbuh pesat hingga mencapai 34.400 ton per tahun. Angka tersebut disusul oleh Thailand yang mencapai 19.200 ton per tahunnya.

Pada permintaan pasar domestik, angka konsumsi ikan patin per kapita cenderung meningkat tiap tahunnya yakni mencapai 21,9 % terhitung dari tahun 2014 hingga 2017 dengan preferensi produk yang dikonsumsi ikan segar sebanyak 76%, ikan asing diawetkan 15%.

Di Amerika Latin, impor ikan patin juga menunjukkan kenaikan hingga 12,3 persen. Meningkatnya kebutuhan patin di beberapa negara tersebut, merupakan kesadaran masyarakat dalam memenuhi gizi dan protein. Ini juga dapat dijadikan peluang bagi Indonesia, untuk menduniakan patin lokal.

Direktur Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo mengungkapkan bahwa perikanan budidaya merupakan salah satu prioritas KKP yang mampu menggenjot nilai ekonomi masyarakat. Upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam menggarap seluruh potensi perikanan Indonesia, terutama perikanan budidaya, dapat dilihat dari alokasi anggaran. “Pemerintah sangat serius untuk bisa menggarap semua potensi perikanan Indonesia. Khususnya perikanan budidaya. Ibu Menteri tidak pernah meninggalkan perikanan budidaya, karena banyak hal-hal positif yang dilakukan budidaya, demikian banyak dan beragam,” ungkap Nilanto dalam gelaran acara Marine Bussines and Investment Forum di Jakarta pada Rabu (11/4).

Terkait dengan hal tersebut, patin lokal memiliki kesempatan besar untuk bersaing di pasar domestik maupun internasional. “Patin harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” lanjutnya.

Saat ini telah tersedia sentra produksi patin di Indonesia. Dalam hal ini KKP terus melakukan pemantauan dan mendorong produksi patin nasional. “Wilayah Sumatera menyumbang 68,07 persen dari produksi nasional, dengan rincian wilayah Sumatera Selatan penyumbang terbesar yakni mencapai 47,23 persen. Hal ini tentunya menunjukkan trend positif seiring dengan permintaan pasar domestik dan internasional,” ungkap Nilanto.

Hal senada juga diungkapkan Vice President Operation Super Indo, Wirawan Winarto. Dalam kesempatan yang sama, Wirawan mengatakan bahwa permintaan pasar ikan patin di perusahaan retail cenderung meningkat. “Ikan patin saat ini menempati posisi ke 3 penjualan dengan angka 107 ton pada 2017. Yang dijual patin fresh yang masih hidup. Ada satu produk baru, patin fillet. Melejit semakin besar sampai saat ini,” tuturnya.

Lebih jauh Wirawan menambahkan, pihaknya akan membuka peluang besar bagi para pembudidaya patin, untuk menyuplai produk perikanan. “Bagaimana caranya jadi supplier, sertifikat CBIB, kualitas bagus, dan harganya bersaing. Harapan kami adanya konsistensi dalam proses sertifikasi dalam budidaya ikan. Sehingga dapat mengelola budidaya ikan dengan baik,” jelasnya.

Untuk menggulirkan usaha patin menjadi sebuah industri yang stabil dan berkesinambungan, maka diperlukan sebuah kepastian rantai pasar dan pasokan. Nilanto menjelaskan, saat ini KKP telah melakukan sejumlah upaya untuk menggerakkan industri patin dari hulu ke hilir. “Yakni dengan cara memberikan bantuan benih, program pakan mandiri, penyediaan induk patin unggul nasional yaitu patin jambal dan patin pasupati (Patin Super Harapan Pertiwi) yang telah dirilis dengan Kepmen KP No.25/2006 serta penyusunan SNI Fillet Patin,” ungkapnya. (MD)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments