Tanggapi Isu Delisting, Pemerintah Pastikan Produksi Rumput Laut Diolah Secara Higienis

29
Dok. Humas KKP

KKPNews, Makassar – Status pencabutan (delisting) produk karaginan rumput laut dari daftar bahan pangan organik nasional atau National Organic Standards Board (NOSB), yang dilakukan oleh Amerika Serikat menjadi fokus utama dalam mempertahankan laju ekspor karaginan rumput laut Indonesia.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini berupaya melakukan persuasif kepada Departemen Pertanian Amerika Serikat terkait pencabutan tersebut. Kepala Pusat Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan KKP, Widodo Sumiyanto menjelaskan, jika tak diperjuangkan, maka delisting dapat mengancam ekspor produk setengah jadi rumput laut tersebut.

“Kita tahu bersama kalau Indonesia merupakan salah satu negara penghasil rumput laut terbesar di dunia dan karaginan rumput lautnya banyak diekspor ke luar negeri. Tapi dengan adanya delisting itu, pastinya akan berpengaruh,” ungkap Widodo di Makassar, pada Minggu (18/3).

Widodo menyadari, saat ini isu tersebut belum berpengaruh terhadap kinerja ekspor, namun dikhawatirkan ke depan akan memberikan efek terhadap preferensi konsumen global. Tiongkok, salah satu negara terbesar pengimpor rumput laut Indonesia yang kemudian diekspor lagi ke AS dan Eropa. Apabila rencanan delisting berhasil digolkan, maka secara tidak langsung ekspor rumput laut Indonesia akan mengalami kesulitan.

“Ekspor rumput laut dalam bahan mentah sebagian besar ke Tiongkok, dari Tiongkok kemudian diekspor ke Amerika Serikat dalam bentuk karaginan. Jika Tiongkok terganggu dengan kebijakan delisting, Indonesia akan terganggu ekspornya,” papar Widodo.

Widodo menambahkan, saat ini Indonesia bersama dengan Tiongkok akan berupaya keras dalam melakukan pendekatan terhadap Otoritas Amerika Serikat dengan memberikan bukti-bukti positif. Delisting produk karaginan rumput laut tentunya membuat pengusaha rumput laut menjadi khawatir. Pasalnya dengan status delisting tersebut, pasar ekspor rumput laut terancam tertutup.

Selain dengan Tiongkok, Indonesia juga sedang menggalang kekuatan dengan beberapa negara produsen rumput laut di Asean, Afrika, dan Oceania.

Menurut data Badan Pusat Statistik, Indonesia mengekspor 137.859 ton rumput laut dan ganggang lainnya senilai US$113,8 juta ke berbagai negara sepanjang Januari-Oktober 2017. Tiongkok menyerap 117.795 ton senilai US$95,2 juta. Selain itu, Indonesia mengekspor rumput laut Euchema dan Gracilaria kering sebanyak 50 persen dari kebutuhan dunia, dimana 70 persen diantaranya dikirim ke Tiongkok.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, penanganan rumput laut dari hulu hingga hilir menggunakan cara-cara alamiah sehingga karaginan tidak patut jika dicoret dari daftar bahan pangan organik Amerika Serikat. “Budidaya yang tidak menggunakan pupuk dan berlangsung alamiah juga diharapkan menjadi argumentasi kuat untuk tetap menempatkan rumput laut sebagai bahan pangan organik,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, Departemen Pertanian AS akan mengeluarkan keputusan pada November 2018. Keputusan itu akan menentukan apakah karaginan tetap berada dalam atau keluar dari daftar bahan pangan organik National Organic Standards Board (NOSB). (MD)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments