Stop Destructive Fishing Demi Kelestarian Ekosistem Perairan

98
Dirjen PSDKP Eko Djalmo Asmadi saat memberikan konferensi pers di GMB IV Kantor KKP, Jakarta, Rabu (7/6). Dok. Humas KKP/Joko Siswanto

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) berupaya untuk mencegah adanya penangkapan ikam dengan cara yang merusak (destructive fishing). Pasalnya kegiatan tersebut dapat menyebabkan kerugian besar, terutama terhadap kelestarian ekosistem perairan yang ada.

Direktur Jenderal PSDKP Eko Djalmo Asmadi menjelaskan, kegiatan destructive fishing yang dilakukan oleh oknum masyarakat umumnya menggunakan bahan peledak (bom ikan) dan penggunaan bahan beracun untuk menangkap ikan. “Penggunaan bahan-bahan tersebut mengakibatkan kerusakan terumbu karang dan ekosistem di sekitarnya, serta menyebabkan kematian berbagai jenis dan ukuran yang ada di perairan tersebut,” jelas Eko dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/6).

Selain peledakan, lanjut Eko, aktivitas lainnya yang cukup meresahkan yakni penggunaan racun ikan oleh sejumlah nelayan. “Karena penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bom seberat 250 gram akan menyebabkan luasan terumbu karang yang hancur mencapai 5,30 m2. Bagaimana kalau beratnya 2 kg, atau 2.000 gram, bayangkan betapa besar kerusakannya,” jelasnya.

Eko mengatakan, penangkapan pelaku bom ikan berbeda dengan meringkus pelaku illegal fishing. Hal ini dikarenakan para pelaku bekerja dengan berkelompok dan sangat rapi. Adapun pelaku pengebom bekerja dalam tim yang terpisah dan dengan pembagian tugas masing-masing. Eko memyebut, biasanya para pelaku bekerja dalam 4 tim dengan perahu yang berbeda. Setiap kelompok memiliki tugas masing-masing, dari pengamatan, peracikan bom, peledakan bom, dan terakhir pemanen ikan.

“Pertama mereka ada tim peninjau dia periksa situasi, perahu kedua itu tim yang bawa bahan peledak yang belum dicampur, ada tim lagi bawa hulu ledaknya (detonator), setelah kemudian diledakkan, ikan hasil bom itu dibiarkan saja ditinggal, nanti ada nelayan yang datang khusus mengambil ikan. Seolah dia sedang jaring ikan saja,” lanjutnya.

Direktur Pengawasan dan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan KKP, Matheus Eko Rudianto mengatakan, pada 2016, PSDKP bersama Polair berhasil mengungkap 33 kasus penggunaan bom ikan. Untuk tahun ini, KKP baru mengusut 5 kasus aktivitas peledakan di laut.

“Kejadiannya banyak, hanya yang bisa kami deteksi dan kita tangkap itu 33 kejadian. Kalau tahun ini sejak Januari sampai sekarang baru 5 kejadian,” ungkap Rudi.

Beberapa wilayah yang diidentifikasi banyak aktivitas pengeboman ikan antara lain perairan Lombok Timur, Belitung, Lampung, Karimun Jawa, Bawean, Kepulauan Spermonde, Flores Timur, Alor, dan Pangkep.

Dalam rangka memerangi pelaku destructive fishing, Eko berharap adanya peran aktif masyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengamati atau memantau kegiatan perikanan dan pemanfaatan lingkungan yang ada di daerahnya. “Selanjutnya masyarakat dapat melaporkan adanya dugaan kegiatan destructive fishing kepada Pengawas Perikanan atau aparat penegak hukum,” tutup Eko.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan menyebutkan bahwa setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, atau menggunakan alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.

Sebagai informasi, Ditjen PSDKP akan melakukan repatriasi (pemulangan) 690 nelayan Vietnam bekerjasama dengan Kedubes Vietnam di Jakarta menggunakan 3 armada kapal Coast Guard Vietnam. Pemulangan ini akan dipercepat menjadi esok hari, Jumat (9/6) mulai pukul 08.30 WIB di Kantor Pangkalan PSDKP Batam  di Jl. Jembatan 2 Barelang, Kota Batam, Kepulauan Riau. (MD/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments