Serah Terima Sekretariat ICRI, Indonesia Tegaskan Komitmen Pengelolaan Terumbu Karang Berkelanjutan

54
Penyerahan Sekretariat ICRI dari Perancis (2016-2018) oleh H.E. Madam Brune Poirson, Minister of State, attached to the Ministre d’État, Minister for the Ecological and Inclusive Transition kepada Indonesia, Monaco dan Australia. MenKP bersama Pangeran Albert II dan Dr. Russel Reichelt, Chairman and Cheif Executive of the Great Barrier Reef Marine Park Authority menerima bendera ICRI dari Menteri Brune. (dok.humas KKP)

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menghadiri Event Tingkat Tinggi “Mobilization for the Oceans” (Mobilisasi untuk Lautan) pada kesempatan serah terima Sekretariat International Coral Reef Initiative (ICRI) dari Prancis kepada Monaco, Australia, dan Indonesia, di Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, Rabu (4/7). Pada kesempatan tersebut Prancis diwakili oleh Minister of State, attached to the Ministre d’État, Minister for the Ecological and Inclusive Transition Brune Poirson, Monaco oleh Pangeran Albert II, dan Australia oleh Chairman and Chief Executive of the Great Barrier Reef Marine Park Authority Dr. Russel Reichelt.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Susi menyampaikan terima kasih atas undangan bagi Indonesia untuk menjadi mitra hosting Sekretariat ICRI 2018 – 2020 mendatang. “Atas nama pemerintah Indonesia, saya ingin menyampaikan kegembiraan kami dapat berkolaborasi dengan Monaco dan Australia sebagai Ketua Bersama untuk menjalankan sekretariat ICRI,” ungkap Menteri Susi.

Selain itu ia mengatakan, Indonesia akan berusaha untuk memperkuat kolaborasi dalam konservasi dan pengelolaan terumbu karang serta mencegah dampak buruk perubahan iklim dengan membangun ketahanan terumbu karang di berbagai perairan dunia.

Menteri Susi menyebutkan, keterlibatan Indonesia dalam ICRI adalah bentuk komitmen Indonesia dalam konservasi dan pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan. “Kami menyadari, terumbu karang adalah warisan bersama untuk semua generasi. Oleh karena itu, kami ingin memastikan pemanfaatannya bagi perikanan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan manusia dapat dilakukan secara bijak dengan memperhatikan aspek keberlanjutan,” jelas dia.

Sebagai negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya merupakan lautan, Pemerintah Indonesia menempatkan komitmen tinggi pada isu-isu laut dan pesisir. Upaya ini telah dilakukan di antaranya melalui keikutsertaan Indonesia pada Word Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative on Coral Reefs Fisheries and Food Security (CTI-CFF).

“Pada 2009 lalu, Indonesia telah tergabung dalam keanggotaan Coral Triangle Initiative on Coral Reefs Fisheries and Food Security (CTI-CFF) yang merupakan bentuk komitmen kami akan pentingnya ekosistem terumbu karang dalam penyediaan sumber daya dan jasa lingkungan,” lanjut dia.

Menteri Susi berpendapat, tahun depan (2019) terhitung sudah satu dekade keanggotaan Indonesia dalam CTI-CFF, dan Indonesia tidak akan merubah komitmen. Malah menurutnya, Indonesia akan memperkuat kerja sama untuk menanggulangi ancaman kepunahan terumbu karang dan akibatnya bagi masyarakat dan lingkungan.

Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai pendukung utama Resolusi Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation Environment Assembly/UNEA), yaitu resolusi 2/12 tentang pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan (EA/2/12) yang diadopsi pada sesi kedua (UNEA-2) pada Mei 2016. Resolusi ini adalah salah satu referensi global untuk mengelola terumbu karang dan CTI CFF. Resolusi tersebut memberikan arahan bagi kebijakan dan pengelolaan terumbu karang dalam konteks agenda pembangunan 2030.

Bekerja sama dengan United Nation Environment Program (UNEP), Indonesia telah menyelenggarakan pertemuan konsultasi lanjutan resolusi UNEA pada 28-29 Juni 2016 di Manado, Sulawesi Utara.

Tak hanya itu, komitmen Indonesia terhadap pengelolaan terumbu karang dunia juga kembali ditegaskan dalam penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) ke-5 yang akan dilaksanakan di Bali, Indonesia pada 29 – 30 Oktober 2018 mendatang. Dengan penyelenggaraan OOC, akan ditegaskan kembali komitmen global dalam mengatasi kerusakan terumbu karang yang sudah parah melalui kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan.

“Terumbu karang adalah salah satu habitat utama yang penting untuk perikanan, wisata pantai, adaptasi perubahan iklim, dan rentan terhadap polusi laut. Ini akan dijadikan area tematik utama atau area aksi OOC 2018,” tutur Menteri Susi.

Menurutnya, OOC 2018 dapat dijadikan forum promosi terumbu karang mengingat kelestarian terumbu karang sudah mendapat perhatian dan dukungan kuat PBB melalui resolusi 2/12 UNEA dan Target Aichi (Target 10) tentang pengurangan degradasi terumbu karang. OOC juga dapat dijadikan ajang promosi komitmen ICRI kepada negara dan organisasi dunia.

Untuk mewujudkannya, Indonesia juga akan menghelat Pertemuan Tingkat Tinggi tentang terumbu karang dalam penyelenggaraan OOC 2018.

“Saya mengundang para pemimpin dunia, kepala pemerintahan, menteri, pejabat dan masyarakat sipil untuk berpartisipasi dan mengumumkan aksi. Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan lautan kita. Saya ingin melihat komitmen bersama untuk menjadikan laut kita sebagai warisan kita. Saya menunggu kehadiran Anda di Bali,” pungkas Menteri Susi.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments