Presiden Joko Widodo Resmikan KJA Lepas Pantai di Pangandaran

179
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan sekaligus meresmikan Keramba Jaring Apung Offshore di Pelabuhan Cikidang, Pangandaran, Jawa Barat (24/4). (Dok. Humas KKP / Handika Rizki Rahardwipa)

KKPNews, Pangandaran – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, hari ini, Selasa (24/4) meresmikan Karamba Jaring Apung (KJA) Lepas Pantai (offshore) di Pangandaran, Jawa Barat. Peresmian tersebut ditandai dengan penebaran benih kakap putih (barramundi) oleh Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di lubang KJA offshore Pangandaran yang berjarak sekitar 7-8 mil dari Pangakalan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang.

KJA offshore Pangandaran ini merupakan program percontohan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) yang mengusung teknologi budidaya modern pertama di Indonesia. Selain di Pangandaran, teknologi KJA offshore ini juga dibangun di Sabang, Aceh dan Karimunjawa, Jepara.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, selain memberikan bantuan teknologi, KKP juga akan melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan KJA offshore, salah satunya dalam hal penyediaan tambahan pakan berupa ikan rucah hasil tangkapan nelayan. Oleh karena itu, pengelolaan diserahkan pada Koperasi Unit Desa (KUD) yang merupakan anggota Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran.

“Yang akan mengelola nanti adalah KUD Mina Sari, Mina Padi, dan Mina Rasa, Parigi, Batu Karas, dan Pangandaran,” ungkap Menteri Susi saat memberikan sambutan.

Menteri Susi mengatakan, jika KJA offshore percontohan ini menunjukkan hasil yang baik, diharapkan dapat menarik investor untuk melakukan usaha budidaya ikan dengan teknologi yang sama di wilayah lain. Hal ini untuk mengoptimalkan potensi perikanan budidaya lepas pantai Indonesia yang sangat besar.

Pasalnya, KJA offshore memiliki keunggulan dibandingkan KJA konvensional. KJA offshore memiliki kedalaman jaring hingga 15 meter sehingga dapat menampung lebih banyak benih. Satu unit KJA offshore yang terdiri dari 8 lubang dapat menampung hingga 1,2 juta benih per tahun sehingga produksi dapat lebih tinggi yaitu mencapai 816 ton per tahun. Sedangkan 8 lubang KJA konvensional hanya dapat memproduksi 5,4 ton per tahun.

Menurut Menteri Susi, dari pengelolaan KJA ini, nelayan akan memperoleh Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dilakukan bersama dengan BUMN seperti Perum Perindo dan PT Perinus. “Jadi bersama-sama dengan masyarakat. Nanti hasilnya untuk dijual di sini atau pun untuk diekspor,” tutur Menteri Susi.

Hal ini senada dengan keinginan Presiden untuk memasarkan hasil budidaya KJA offshore tak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. “Kita harapkan nanti juga bisa diekspor ke Timur Tengah, Australia, Eropa, atau lainnya karena produk ekspor juga harganya lagi baik. Apalagi saat ini banyak negara-negara yang sudah habis ikannya. Sedangkan kita masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksi,” tutur Presiden.

Kenyataan bahwa Pangandaran sebagai daerah wisata yang dikunjungi banyak turis juga dapat dimanfaatkan untuk pemasaran hasil budidaya KJA offshore di dalam negeri.

Insya Allah KJA ini nanti hasilnya 100 ton per kolam per karamba. Jadi sekali panen 8 itu bisa 800 ton. Jadi kita mengembalikan kakap putih yang sudah hilang,” kata Menteri Susi.

Presiden juga mengingatkan bahwa 2/3 atau sekitar 70 persen wilayah Indonesia ini adalah perairan. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat menjaga dan memanfaatkan sumber daya laut secara bijak sehingga generasi mendatang dapat ikut menikmati kekayaan yang ada di dalamnya.

Tak hanya peresmian KJA offshore, di Pangandaran KKP juga menyerahkan bantuan bagi nelayan seperti fasilitasi permodalan nelayan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) kepada 5 orang nelayan senilai Rp87 juta; bantuan 3,9 juta ekor benih ikan; 1 unit excavator; 1 paket revitalisasi saluran irigasi kawasan budidaya senilai hampir Rp2 miliar; dan 2 unit chest freezer kapasitas 300 Liter senilai Rp14 juta untuk kelompok pengolah dan pemasar ikan. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments