Perkuat Hubungan Kedua Negara, Menteri Susi Bertemu Menteri Kelautan Norwegia

31
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat bertemu dengan Menteri Perikanan Norwegia Per Sandberg di Oslo, Norwegia, Rabu (6/6). Dok. Humas KKP

KKPNEws, Oslo – Usai lawatan kerja ke Tokyo, Jepang dan Roma, Italia, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melanjutkan perjalanan ke Oslo, Norwegia. Rabu (6/6), sesaat setelah mendarat di Norwegia, Menteri Susi bertemu dengan Menteri Perikanan Norwegia Per Sandberg. Pertemuan tersebut merupakan yang ketiga kalinya, setelah pertemuan pertama di The 3rd International Symposium on Fisheries Crime di UNODC, Wina tahun 2017 dan yang kedua pada saat kunjungan Menteri Perikanan Per Sandberg ke Jakarta awal 2018 lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Susi didampingi Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Norwegia Todung Mulya Lubis; Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo; Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP Sjarief Widjaja; dan Koordinator Staf Khusus Satgas 115 Mas Achmad Santosa.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk memperkuat hubungan kedua negara, di antaranya melalui kerja sama bilateral Indonesia-Norwegia, Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA), Our Ocean Conference (OOC), dan potensi kerja sama lain di bidang kelautan dan perikanan, termasuk kerja sama pemberantasan kejahatan perikanan.

Terkait penyelenggaraan OOC 2018 di Bali pada 29 – 30 Oktober 2018 mendatang, Menteri Susi menyampaikan langsung undangan kepada Menteri Sanberg. Undangan tersebut mendapat sambutan baik oleh Menteri Sandberg yang menyatakan kesediaannya hadir dalam kegiatan bertema “Our Ocean, Our Legacy” tersebut.

OOC 2018 akan mengundang sekitar 31 kepala negara dan 200 menteri teknis dan menteri luar negeri dari 149 negara. Menteri Susi menilai, dalam kegiatan tersebut perlu dibahas tata kelola laut (ocean governance) di laut lepas, terutama dalam mengatur alih muat di tengah laut (transshipment), dan pengakuan hak laut (ocean right).

“Alih muat di tengah laut (transshipment at sea) yang minim pengawasan telah banyak dijadikan sarana kejahatan perikanan, perdagangan orang, dan penyelundupan barang-barang ilegal termasuk satwa terlarang dan narkoba,” ungkap Menteri Susi.

Guna menanggulangi hal tersebut, Menteri Susi menginginkan diselenggarakannya high level side event yang membahas pendefinisian ulang tata kelola laut di laut lepas pada OOC 2018. Ia meminta agar Menteri Sandberg menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut sesuai dengan pengalamannya dalam Regional Fisheries Management Organisation (RFMO) di Norwegia.

“Saya berharap Mr. Sandberg dapat mengajak dunia internasional agar mengakui illegal fishing sebagai kejahatan perikanan transnasional yang terorganisir (transnational organized fisheries crime) pada OOC 2018,” harapnya.

Menteri Susi juga berharap agar dalam kunjungan Menteri Sandberg ke Bali pada penyelenggaraan OOC 2018 mendatang, Indonesia dan Norwegia dapat menandatangani Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Salah satu yang dirundingkan adalah tarif impor salmon ke Indonesia dan penjajakan Food Safety Agreement untuk memastikan keamanan dan mutu ikan salmon yang diimpor dari Norwegia ke Indonesia.

Tak lupa, dalam pertemuan tersebut Menteri Sandberg juga mengundang Menteri Susi untuk berpartisipasi dalam The 4th International Symposium in Fisheries Crime yang akan diselenggarakan tanggal 15-16 Oktober 2018 di Copenhagen, Denmark.

“Kami mengundang Ibu Susi dan Indonesia untuk terlibat dalam The 4th International Symposium in Fisheries Crime. Kami harap, Norwegia dan Indonesia dapat bersama menjadi co-host simposium internasional di samping Nordic Council of Ministers,” pungkasnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments