Percontohan Minapadi KKP – FAO Genjot Produksi Ikan dan Padi

53
Panen raya minapadi di Kabupaten Sukoharjo Jumat (14/9). Dok. Humas DJPB

KKPNews, Sukoharjo – Percontohan minapadi kerja sama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Food and Agriculture Organization (FAO) di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dilakukan pada lahan seluas 18 Ha dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hasil panen menunjukkan produktivitas padi naik dari rata-rata 7 ton/ha/musim tanam menjadi 9-10 ton/ha/musim tanam. Ini belum dengan tambahan pendapatan dari ikan 1 – 2 ton/ha/musim tanam. Dalam percontohan ini juga digunakan pakan mandiri sehingga menghemat biaya produksi.

Di sisi lain, sistem minapadi juga terbukti mampu meminimalkan risiko serangan hama, pengurangan penggunaan pupuk, serta tidak menggunakan pestisida yang menghasilkan padi organik. Kotoran dari ikan juga menyuburkan padi, sehingga ada hubungan mutualisme. Beberapa spesies minapadi selain nila juga dapat dikembangkan gurame, lele, udang galah, serta ikan hias sperti koi.

Sementara itu Wajah sumringah ditunjukan oleh Darno, Ketua Kelompok Tani Ngudi Rejeki Desa Dalangan. Betapa tidak, semula lahan sawahnya sering kebanjiran sehingga panennya sedikit. Namun dengan sistem minapadi, produktivitas padi justru meningkat hingga mencapai 11 ton/ha, dari sebelumnya hanya 9 ton/ha.

Di sisi lain, ia mengaku sistem ini mampu menekan biaya produksi. Hal ini karena selama pemeliharaan tidak perlu menggunakan pupuk dan obat-obatan dan kualitas produk juga lebih tinggi karena sifatnya organik.

Alhamdulillah produktivitas padi naik, kami juga mendapatkan tambahan hasil produksi ikan yang cukup besar yaitu 1 ton/ha. Dari hasil tersebut kami mendapatkan keuntungan lebih besar dari sistem biasa. Sebagai gambaran kalau sistem biasa pendapatan hanya sebesar Rp38 juta/ha/musim tanam, maka dengan sistem minapadi ini naik menjadi Rp53 juta/ha/musim tanam. Ini luar biasa,” ungkap Darno.

Hasil memuaskan juga diakui pembudidaya lainnya, Sahir. Ia mengaku sistem minapadi ini sangat menguntungkan dibanding sistem lainnya. Untuk padi, ia mendapat surplus panen minimal 6 kwintal per hektar, belum lagi dari hasil ikannya.

“Jadi jika dibanding sistem lainnya, nilai tambah keuntungan bersih minapadi ini bisa lebih dari 50 persen,” ungkap Sahir, yang juga ketua Kelompok Ngeneng Sari II di Kecamatan Gatak – Sukoharjo.

Sementara itu, perwakilan FAO Jakarta, Stephen Rudgard menyampaikan bahwa apa yang berkembang di Sukoharjo telah sejalan dengan apa yang ada di tingkat dunia. Menurutnya, saat ini negara-negara di dunia dituntut untuk mampu mensuplai kebutuhan pangan secara berkelanjutan. Kebutuhan pangan masyarakat dunia harus tersedia dengan tetap menjamin kualitas dan keamanan pangannya.

“Pada awalnya proses produksi budidaya padi ini menggunakan bahan kimia, namun penggunaan bahan kimia justru tidak akan menjamin produksi berlanjut karena cenderung tidak ramah lingkungan. Oleh karenanya, minapadi ini menjadi solusi tepat dalam memproduksi pangan yang sehat dan ramah lingkungan. Di sini peran petani sangat besar dalam memberikan kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan pangan, dan FAO akan terus men-support pengembangan minapadi ini dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan global,” tutur Stephen.

Lebih lanjut ia juga mengharapkan agar Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dapat menyinergikan kegiatan minapadi dengan kementerian teknis terkait yakni KKP dan Kementerian Pertanian.

Adapun Officer FAO Regional Asia Pacific Dr. Miao Weimin memberikan apresiasi kepada Pemerintah RI khususnya Ditjen Perikanan Budidaya dan Pemerintah Daerah Sukoharjo dalam mendukung keberhasilan proyek Minapadi. Selanjutnya, Miao menyampaikan harapannya agar keberhasilan ini dapat dilanjutkan oleh Indonesia melalui program nasional dalam skala yang lebih besar.

Selain itu, keberhasilan Indonesia dalam proyek minapadi ini diharapkan menjadi contoh bagi Negara lain untuk mendukung FAO dalam menyediakan sumber pangan bagi masyarakat global.

Bedasarkan data yang dirillis KKP, tingkat konsumsi ikan perkapita Provinsi Jawa Tengah sebesar 28,81 kg per kapita per tahun. Angka ini jauh dibawah rata rata nasional yang mencapai 47,7 kg per kapita per tahun. Keberhasilan pengembangan minapadi seperti di Kabupaten Sukoharjo, diharapkam akan direplikasi/ dicontoh di daerah lain dan secara langsung dapat mendongkrak tingkat konsumsi ikan masyarakat.

“Percontohan yang diberikan oleh FAO ini telah meningkatkan animo masyarakat terhadap usaha minapadi ini mulai tumbuh. Petani yang semula ragu-ragu untuk terlibat, sekarang sudah yakin untuk meniru percontohan yang ada. Ini tentunya menjadi poin penting sebagai titik awal percepatan pengembangan minapadi di Provinsi Jawa Tengah khususnya”, ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, Netty Harjianti.

Sebagai gambaran, melalui dukungan KKP, hingga tahun 2017, total lahan minapadi produktif mencapai 128.000 hektar tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, dan daerah lainnya. (Humas DJPB/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments