Penebaran 4.200 Benih Udang pada INTAN-AP PANDU Pertama di Indonesia

41

KKPNews, Barru – Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikana (BRSDM) Sjarief Widjaja didampingi Kepala Pusat Riset Perikanan Toni Ruchimat melaksanakan kegiatan tebar 4.200 benih udang windu, pada acara Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Minapadi Air Payau (INTAN-AP) Padi Udang Windu (PANDU), milik Instalasi pembenihan Udang Windu (IPUW) Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) di Desa Lawalu, Kecamatan Sopengriaja, Kab. Barru, Sulawesi Selatan, 25 Oktober 2018.

Minapadi Air Payau PANDU berada di lahan seluas kurang lebih 1 ha yang terdiri dari 0,92 ha untuk kegiatan budidaya padi dan udang windu dan sisanya sekitar 0,08 ha untuk tandon (penampungan air payau).

Sjarief menjelaskan bahwa lahan Minapadi Air Payau PANDU pada awalnya merupakan lahan idle (menganggur) yang terjadi akibat intrusi air laut. Untuk memanfaatkan potensi lahan tersebut diperlukan teknologi dan komoditas ikan yang adaptif sesuai. “Atas dasar tersebut, BRSDM mengembangkan teknologi yang matang hulu-hilir untuk beberapa spesies, salah satunya udang (Penaeus monodon), sementara itu Kementerian Pertanian telah mengembangkan varietas padi yang toleran air payau dengan salinitas 3-10 ppt (parts per thousand) atau 6–20 dSm. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pun menginisiasi program minapadi yang merupakan integrasi dua teknologi menjadi suatu inovasi teknologi. Program ini disebut Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Minapadi Air Payau (INTAN-AP),” jelas Sjarief.

Dengan metode ini, diharapkan alih fungsi lahan dapat berkurang dan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya dan meningkatkan ketahanan pangan nasional. Perakitan udang windu unggul melalui seleksi individu pada karakter pertumbuhan udang windu juga telah dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros (BRPBAP3-Maros). Selain faktor pertumbuhan, udang windu unggul ini juga dapat diadaptasikan pada air payau dengan salinitas rendah hingga kisaran 3-5 ppt.

“Jadi, ke depannya tempat ini akan kami jadinya kawasan mina padi salin (air payau) pertama di Indonesia, siap ya untuk mengelolanya? Kami akan siapkan bantuan berupa beko untuk merapikan wilayah ini. Ajak masyarakat di sekitar sini untuk mengelola tempat ini, kita buat tempat ini jadi kawasan mina padi salin. Bapak-bapaknya mengurus padi dan udang windunya, ibu-ibunya kita berdayakan untuk mengolah padi sama udangnya. Padinya dibuat jadi padi organik mina padi salin dikemas 5kg. Nah udangnya di kupas kulitnya. Limbah itu bisa dijadikan chitting (benang operasi). Jadi ada added value nya,” tegas Sjarief.

Di akhir kesempatan, Sjarief juga mendorong seluruh petani/nelayan untuk menjadi petani/nelayan milenial. “Mari kita ciptakan generasi baru, generasi petani/nelayan yang milenial dengan sentuhan teknologi,” tuturnya. (humas_brsdmkp)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments