Pemerintah Upayakan Akselerasi Ekspor Udang Vaname

104
Ilustrasi

KKPNews, Jakarta – Udang Vaname menjadi salah satu kebutuhan di sektor perikanan yang mendapat sinyal positif dari pasar global. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkannya untuk terus mengakselarasi ekspor.

Tenaga Ahli Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP) Riza Damanik menyatakan, ini menjadi kesempatan karena selain pasar global beri sinyal positif, juga persentase ekspor udang cukup besar. “Secara proporsional dalam 10 tahun sampai 15 tahun terakhir 30 – 50 persen pasar ekspor perikanan kita dari udang,” ujarnya di Jakarta, Minggu (1/7).

Selaku Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI),Riza turut menambahkan dengan adanya sinyal positif ini, maka dari dalam negeri ada kesempatan agar bisa akselerasi tambak udang rakyat.

“Pada kesempatan tersebut, nantinya melalui skema perhutanan sosial, di mana target 2019 sebanyak 12 juta hektar lebih dimanfaatkan dalam membuka akses ke masyarakat,” lanjutnya.

Selain itu menurutnya, masih ada perhutanan sosial yang dapat dimanfaatkan berupa hutan pesisir di pantai utara dan selatan Jawa yang selama bertahun-tahun dirusak. Dengan skema tersebut, ia berharap hutan pesisir bisa pulih dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, salah satunya melalui budidaya udang.

Menurutnya terdapat dua kombinasi yang dapat dioptimalkan untuk kegiatan pertambakan udang rakyat yakni dengan skema ekspansif dan optimalisasi. “Artinya di daerah potensial, lingkungan bisa dipulihkan bisa jadi tambak udang tradisional. Kedua optimalisasi, di tambak existing dengan produktivitas rendah bisa ditingkatkan dengan model organik,” terangnya.

Sepanjang tahun 2017, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat peningkatan tren ekspor produk perikanan. Selama 11 bulan di tahun 2017, angka ekspor naik USD310 juta atau mencapai 8,2%.

Selain itu, tren nilai ekspor Januari-November 2016-2017 menunjukkan, ekspor komoditas utama juga mengalami kenaikan. Udang mengalami kenaikan 0,53 persen, tuna tongkol cakalang 18,57 persen, rajungan dan kepiting 29,46 persen, cumi sotong gurita 16,54 persen, rumput laut 23,3 persen, dan lainnya naik 3,61 persen.

Pada tahun 2014 harga udang di pasar dunia sempat volatil. Namun setelah India bersama Indonesia, Ekuador dan Vietnam terus meningkatkan ekspornya, harga udang beku menjadi stabil. (Irna Prihandini/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments