Pemerintah Imbau Nelayan Kembali Tangkap Ikan dan Tinggalkan Jual Beli Benih Lobster

42
Ilustrasi bibit lobster. Dok. Humas KKP

KKPNews, Cimahi – Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Kelas II Bandung Dedi Arief mengimbau para nelayan khususnya di Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat untuk kembali melaut dan menangkap ikan. Hal ini sehubungan dengan adanya penangkapan terhadap pengepul 17.110 ekor benih lobster atau benur yang dilarang berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016, pada Sabtu (17/3) lalu.

“Kami menemukan sindikasi para nelayan yang menangkap benih lobster di Cidaun Cianjur, pekerjaan awalnya adalah nelayan penangkap ikan,” ujar Dedi di Cimahi, Senin (19/3).

Menurut Dedi, nelayan beralih menjadi penangkap benih lobster karena keuntungan yang ditawarkan sangat menggiurkan dibandingkan keuntungan menangkap ikan. Berdasarkan pengakuan tersangka, benih lobster mutiara dibeli dengan harga Rp51.000 hingga Rp54.000 per ekor, namun di Singapura dan Vietnam dapat dijual kembali dengan harga Rp150.000 hingga Rp250.000 per ekor. Sedangkan lobster pasir yang dibeli dengan harga Rp13.000 per ekor dapat dijual kembali dengan harga hingga Rp80.000 per ekor.

Sesuai dengan pengakuan tersangka pengepul benih lobster Ruhyat, kegiatan ini dilakoni karena terdorong masalah ekonomi. Menurutnya, dengan menjadi pengepul benih lobster ilegal, ia bisa meraih keuntungan Rp1.500/ekor lobster. “Saya sebelumnya nelayan, soalnya lebih tergiur karena benur ada (tinggi) harganya,” ucap dia.

Meskipun demikian, Dedi berpendapat kegiatan ini tidak boleh dibiarkan terus menerus karena akan menghabiskan stok lobster di laut Indonesia sehingga akhirnya akan mengantar pada kelangkaan bahkan kepunahan. “Benih lobster terus dikirim ke Singapura diseludupkan, sehingga lama-lama akan hilang, kasihan anak cucu kita,” tuturnya.

Ia mengingatkan masyarakat, bahwa kegiatan penangkapan benih lobster di bawah berat 200 gram per ekor dapat dikenakan pidana berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Sementara itu, Direktur Reskrimsus Polda Jawa Barat Kombes Samudi mengatakan, pihaknya akan terus mendalami kasus pengepulan benih lobster ini guna mencari aktor utama di balik kegiatan ilegal ini, yaitu pemodal. Pasalnya, para pengepul tak mungkin dapat menjalankan kegiatannya tanpa ada pemodal yang memberi dukungan dana. Selain itu, tak tertutup kemungkinan kegiatan serupa tak hanya terjadi di Cianjur tetapi juga di beberapa kabupaten/kota lainnya di Jawa Barat.

“Yang bersangkutan ini pengepul kecil. Kami masih menelusuri terus, jaringannya siapa. Apalagi, rata-rata pemodal ini tidak di Jawa Barat, tapi di luar Jawa Barat,” pungkas Samudi. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Sedih (50.0%)
  • Terinspirasi (50.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments