Pemerintah Bersinergi Tanggulangi Dampak Tumpahan Minyak di Perairan Kaltim

25
dok.Kaltim Post

KKPNews, Jakarta – Kejadian tumpahnya minyak (oil spill) di Perairan Teluk Balikpapan, Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajaman Pasir Utara, Kalimantan Timur yang terjadi beberapa waktu lalu tengah ramai dibicarakan. Pasalnya, tumpahan minyak akibat bergesernya pipa Pertamina di kedalaman 20 meter dari permukaan laut ini dikhawatirkan dapat mengganggu ekosistem pesisir dan laut yang terpapar. Oleh karena itu, pemerintah segera merapatkan barisan menanggulangi dampak yang mungkin timbul.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan dan Ditjen Penegakan Hukum, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) dan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan (P3EK), Balai KSDA Provinsi Kalimantan Timur Unit Balikpapan, Dinas LHK Kota Balikpapan, dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak Satker Balikpapan segera melakukan pemeriksaan lapangan (ground check) di lokasi pesisir dan sepanjang garis pantai di kedua lokasi. Pengecekan tersebut dilaksanakan Rabu (4/4). KKP dalam hal ini membantu mengidentifikasi dampak pencemaran terhadap ekosistem pesisir dan lautan.

Akibat dari tumpahan minyak tersebut, banyak biota laut dilaporkan mati. Terkait hal ini, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Satyamurti menuturkan, KKP telah mengerahkan perwakilan KKP di Balikpapan yakni Balai Pengelolaan Sumber Daya Laut dan Pesisir (BPSPL), Pangkalan PSDKP dan Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) untuk menangani biota laut jenis mamalia yang mati terdampar.

Brahmantya menambahkan, KKP melalui pangkalan SDKP juga melakukan pengawasan secara intensif guna mencegah semakin meningkatnya dampak tumpahan minyak di perairan Kalimantan Timur. Di antaranya dengan melakukan patroli laut untuk memastikan bahwa tidak ada jenis-jenis ikan di lindungi terkena dampak dari minyak tersebut.

Tak hanya itu, KKP juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk membantu menanggulangi pencemaran agar tidak menyebar. “Kami akan terus pastikan penanggulangan yang dilakukan pertamina dilakukan terus menerus sampai minyak tersebut bisa bersih,” jelasnya.

Sehubungan dengan investigasi yang telah dilakukan, Kepala BRSDMKP Zulficar Mochtar mengatakan, penyebab dan kronologis tumpahnya minyak telah semakin jelas. Ia pun menekankan, pemulihan ekosistem dan solusi dampak untuk nelayan dan masyarakat pesisir harus dipikirkan dengan baik karena akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Yang penting adalah bagaimana merehabilitasi kondisi yang ada sehingga bisa utuh lagi. Bagaimana strategi pemulihan ekosistemnya, bagaimana solusi dampak untuk nelayan dan masyarakat pesisir. Berapa nilai ekonomi kerugian yang ada,” lanjut Zulficar.

Zulficar juga menegaskan, agar ke depan kasus ini tidak terjadi lagi maka dibutuhkan rekomendasi strategis yang memadai. Pemerintah tentunya tidak bisa kerja sendiri tetapi memerlukan dukungan dari unsur lain. “Ada sinergi, baik dalam kajian, recovery, hingga pendampingan,” katanya.

Sebagai informasi, KLHK menyebutkan bahwa luasan area terpapar tumpahan minyak di kedua lokasi diperkirakan mencapai 7.000 Ha. Sekitar 60 kilometer panjang pantai dan 34 Ha lahan mangrove ikut terdampak dan biota laut ditemukan mati.

Lahan mangrove seluas 34 Ha tersebut terdapat di RT 01 dan RT 02 Kelurahan Kariangau. Setidaknya 6.000 tanaman mangrove dan 2.000 bibit mangrove di Kampung Atas Air Margasari ikut terkena dampak. Selain itu, beberapa jenis kepiting di Pantai Banua Patra juga ditemukan mati.

Dampak juga dirasakan langsung oleh masyarakat yang mengeluhkan mual dan pusing akibat bau minyak yang menyengat selama beberapa hari, khususnya di area yang permukimannya masih terpapar tumpahan minyak.

Upaya pembersihan terus dilakukan pemerintah, Pertamina, bersama masyarakat setempat. Rabu (4/4), setidaknya 500 orang yang tergabung dalam 67 komunitas berpartisipasi dalam pembersihan pantai di sembilan titik yang tersebar di Balikpapan Barat, Balikpapan Selatan, dan Balikpapan Kota. Pembersihan dilakukan di pantai dengan cara manual mengingat cara tersebut lebih efektif untuk mengumpulkan ceceran minyak yang telah tersapu ke pantai.

Hari berikutnya, Kamis (5/5), armada pembersihan kembali ditambah sehingga lokasi tumpahan minyak terlihat jauh lebih bersih dibanding hari sebelumnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments