Panen Raya Minapadi di Kabupaten Sukoharjo, KKP Optimis Wujudkan Suplai Pangan Berkelanjutan

66
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat menghadiri panen raya minapadi di Kabupaten Sukoharjo Jumat (14/9). Dok. Humas DJPB

KKPNews, Sukoharjo – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) optimis program pengembangan minapadi mampu mendongkrak suplai pangan nasional. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan model pengembangan minapadi yang merupakan kerja sama KKP dengan FAO di beberapa daerah, seperti di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Sukoharjo, Jawa Tengah. Sebelumnya FAO telah menjadikan Indonesia sebagai rujukan model pengembangan minapadi untuk level Asia Pasifik.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya, saat melakukan panen raya minapadi di Kabupaten Sukoharjo Jumat (14/9) menyatakan bahwa keberhasilan minapadi diberbagai daerah khususnya di Kabupaten Sukoharjo akan mendorong percepatan pengembangan minapadi secara nasional. Menurutnya, minapadi telah terbukti mampu memberikan efek ganda baik dalam upaya mendongkrak ketahanan pangan nasional maupun dalam meningkatkan pendapatan masyarakat.

Hadir dalam acara panen raya minapadi tersebut antara lain perwakilan dari Badan Pangan Dunia FAO perwakilan Asia Pasific, FAO perwakilan Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jajaran Pemda Kab Sukoharjo, para pelaku usaha, dan ratusan petani.

Slamet menambahkan, jika bicara pangan berkelanjutan, maka tantangan terbesar kita adalah bagaimana mampu meningkatkan produktivitas ditengah tantangan perubahan iklim dan lingkungan global. Ini menjadi tantangan berbagai negara di dunia.

Dijelaskan bahwa FAO mulai mendorong negara negara untuk menerapkan konsep Ecosystem Approach for Aquaculture (EAA), di mana salah satu poinnya bagaimana mengintegrasikan akukultur dengan sektor lainnya untuk meningkatkan efesiensi dan produktivitas. Oleh karenanya, minapadi adalah pilihan tepat untuk mewujudkan suplai pangan berkelanjutan dan ini salah satu yang melatarbelakangi FAO melirik Indonesia sebagai acuan model.

“Potensi lahan persawahan di Indonesia itu mencapai 8,1 juta hektar, dari luasan tersebut sekitar 4,9 juta hektar efektif untuk pengembangan minapadi. Ini sebuah keunggulan komparatif yang luar biasa besar, jika kita optimalkan,” tambah Slamet.

Di sisi lain, menurut Slamet, ada tantangan besar lainnya yakni maraknya alih fungsi lahan produktif sawah untuk kegiatan lain semisal industri dan perumahan. Di satu sisi terus mendorong pangan berkelanjutan, namun di sisi lain terjadi pembiaran alih fungsi lahan.

“Mengenai alih fungsi lahan, kami menghimbau Pemda untuk konsisten menerapkan Perda RTRW dalam melindungi pemanfaatan ruang untuk sektor strategis seperti perikanan dan pertanian. Secara khusus, saya menyarankan ada alokasi pemanfaatan ruang bagi pengembangan minapadi dalam rencana detail tata ruang di daerah,” pungkasnya. (Humas DJPB/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments