Nelayan Jawa Timur Terima Bantuan Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan dari KKP

140
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja, Wakil Bupati Lamongan Kartika Hadiyati beserta Jasindo menyerahkan bantuan kepada nelayan di PPN Lamongan, (30/11). Penyerahan disaksikan Ketua Tim Komisi IV DPR RI Viva Yoga Mauladi. Dok. Humas KKP/ Mega Hartati

KKPNews, Lamongan – Sebanyak 146 unit bantuan kapal perikanan dan 772 unit bantuan alat penangkap ikan  (API) diterima nelayan Jawa Timur di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong, Kabupaten Lamongan, Kamis (30/11). Bantuan tersebut diberikan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) untuk meningkatkan kualitas hasil tangkapan nelayan. 772 API dengan jenis gillnet millenium dasar dan gillnet millenium pertengahan diberikan kepada nelayan Kota Pasuruan sejumlah 4 unit, Kabupaten Tuban 609 unit, Kabupaten Lamongan 18 unit, Kabupaten Gresik 121 unit, dan Kabupaten Situbondo 20 unit.

Bantuan yang disaksikan oleh ratusan nelayan tersebut, diserahkan oleh Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja, Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI Viva Yoga Mauladi, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Yussuf Solichien Martadiningrat, Wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur Heru Tjahjono, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan Suyatmoko, Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan KKP Agus Suherman, dan Kepala PPN Brondong Dedi Sutisna, A.Pi.

Dalam sambutannya Sjarief Widjaja menyampaikan penghargaan kepada Viva Yoga Mauladi beserta rombongan anggota komisi IV DPRRI yang berjumlah sekitar 24 orang yang telah hadir pada acara pemberian bantuan tersebut. “Komisi IV DPRRI adalah mitra KKP yang selalu selaras dalam mewujudkan kegiatan dan anggaran yang sepenuhnya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan serta keberlanjutan sumber daya ikan dan usaha perikanan tangkap. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran Komisi IV DPR-RI yang hadir dengan rombongan yang lengkap. Hal ini menunjukkan komitmen dan perhatian penuh Bapak/Ibu anggota dewan terhadap kesejahteraan nelayan,” tandas Sjarief yang disambut tepuk tangan nelayan yang hadir.

Sjarief mengatakan bantuan kapal perikanan dan alat penangkapan ini ditujukan untuk nelayan lokal agar dapat berdaya saing memanfaatkan potensi perikanan yang jumlahnya semakin meningkat. Peningkatan jumlah stok ikan ini adalah dampak kebijakan KKP yang didukung seluruh pihak dalam mewujudkan pilar kedaulatan memerangi kegiatan penangkapan ikan ilegal. Hasil riset KKP yang telah direkomendasi Komisi Nasional Pengkajian Sumberdaya Ikan (KOMNASJISKAN) tahun 2017 menyebutkan adanya peningkatan stok ikan ansional menjadi 12,541 juta ton.

“Kerjasama kita semua dalam memberantas praktek IUU (Illegal, Unreported, and Unregulated) fishing membuahkan hasil luar biasa. Stok ikan di WPP (wilayah pengelolaan perikanan) Indonesia terus meningkat. Jika pada tahun 2013 potensi sumber daya ikan kita tercatat sebesar 7,31 juta ton, tahun 2015 meningkat menjadi 9,93 juta ton dan meningkat kembali menjadi 12,5 juta ton pada tahun 2017. Bantuan kapal dan API ramah lingkungan ini saya harapkan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memanfaatkan sumber daya ikan yang makin melimpah itu secara lestari dan berkelanjutan,” terang Sjarief.

“Alih alat penangkapan ikan dari API yang tidak ramah lingkungan ke API yang ramah lingkungan sekaligus juga merupakan perwujudan komitmen kita mewujudkan misi keberlanjutan dan kesejahteraan setelah kita semua berhasil menegakkan pilar kedaulatan,” tambahnya.

Menurut Sjarief, di banyak tempat kini ikan semakin banyak dan besar-besar. “Mari Bapak-bapak Saudaraku para nelayan gunakan bantuan pemerintah ini dengan optimal. Saya mengajak Bapak-bapak semuanya agar menjaga laut dengan melakukan aktivitas penangkapan yang tidak merusak. Mari kita jaga sumber daya ikan tetap lestari sehingga anak cucu kita dapat merasakannya juga kelak,” ajak Sjarief saat berdialog dengan nelayan.

Selain bantuan kapal dan alat penangkapan ikan, DJPT juga menyerahkan klaim asuransi nelayan kepada ahli waris, pemberian kartu asuransi nelayan, penyerahan bantuan permodalan nelayan bekerjasama dengan Bank BRI, serta bantuan pendanaan usaha penangkapan ikan bekerjasama dengan Badan Layanan Umum (BLU) Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).

Sjarief menjelaskan, target bantuan premi asuransi nelayan seluruh Indonesia sebanyak 500.000 orang saat ini telah tercapai sepenuhnya. Untuk nelayan Jawa Timur sendiri tercatat sebanyak 52.422 orang penerima yang tersebar di 25 kabupaten/kota. Pada kegiatan ini, sebanyak 5 ahli waris juga menerima santunan klaim asuransi nelayan sebesar Rp160 juta akibat kematian alami.

“Saya mengajak Bapak-bapak nelayan untuk mendaftar asuransi nelayan. Kenapa? Karena memiliki manfaat perlindungan yang luar biasa. Yang belum daftar, segera ke Dinas Kelautan Perikanan setempat,” ujarnya.

Sjarief menambahkan manfaat asuransi nelayan dalam bentuk santunan hingga Rp100 juta apabila mengalami cacat tetap dan Rp20 juta untuk biaya pengobatan. Sedangkan jaminan santunan kecelakaan akibat selain aktivitas penangkapan ikan Rp160 juta apabila meninggal dunia, cacat tetap Rp100 juta dan biaya pengobatan Rp20 juta.

Pada kesempatan ini, DJPT juga bekerja sama dengan Bank BRI membuka Gerai Permodalan Nelayan (Gemonel) untuk meningkatkan skala usaha termasuk memfasilitasi pengembangan alat penangkapan ikan ramah lingkungan. Fasilitasi permodalan BRI di Provinsi Jawa Timur sampai saat ini telah mencapai Rp341,38 milyar untuk 14.780 orang kreditur. Pemberian Gemonel secara simbolis diberikan kepada 5 orang nelayan.

Sementara itu, bantuan permodalan BLU LPMUKP termasuk untuk pengembangan alat penangkapan ikan ramah lingkungan diberikan kepada 2 perorangan atas nama Mu’arif dari Lamongan sebesar Rp 10 juta dan Khoirul Amin dari Lamongan sebesar Rp 15 juta serta 2 kelompok atas nama LKMS Ma’umah Mina Mandiri Gresik sebesar Rp 500 juta dan LKM Mina Kaya Raya Tuban sebesar Rp 720 juta.

Sjarief berharap, dengan adanya Gemonel dan BLU ini nelayan dapat terbantu dalam urusan pengembangan alat penangkapan ikan ramah lingkungan dan permodalan sehingga dapat melaut dengan baik. “Kami bersama Komisi IV DPRRI, jajaran pemerintah daerah, serta seluruh pihak bahu membahu untuk mewujudkan kesejahteraan nelayan. Semua ini kami kerjakan untuk Bapak/Ibu semua. Hidup nelayan!” tegas Sjarief bersemangat. (Humas DJPT)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments