Menteri Susi: Waspadai Modus Baru Pencurian Ikan

148
Satu dari dua kapal perikanan asing ilegal yang berhasil ditangkap Kapal Pengawas (KP) Orca PSDKP KKP. Dok. Humas PSDKP

KKPNews, Jakarta – Meski pemerintah telah berhasil mengusir ribuan kapal pencuri ikan dari lautan Indonesia, nyatanya masih ditemukan kegiatan pencurian ikan secara ilegal di Indonesia. Kini pencurian ikan dilakukan dengan berbagai modus baru untuk mengeruk sumber daya ikan (SDI) di laut Indonesia. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (8/5).

“Modus baru ilegal itu kapal Indonesia yang afiliasi dengan kapal luar, kapal luar menunggu di luar garis EEZ, jadi hati-hati sekali. Kapal Indonesia milik perusahaan Indonesia melakukan transshipment di tengah,” ujar Menteri Susi.

Menteri Susi mengaku tidak akan segan untuk mencabut izin penangkapan ikan bagi kapal berbendera Indonesia yang tertangkap akibat melakukan pencurian ikan dengan modus-modus lainnya.

Saat ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang membangun sistem pengawasan yang bisa memantau perherakan seluruh kapal yang berada di laut Indonesia atau disebut vessel monitoring system (VMS).

VMS diciptakan mengadopsi sistem pengawasan yang berada di sektor penerbangan. Di mana setiap pesawat terbang bisa diketahui keberadaannya dan kapan tibanya dengan mengakses melalui internet.

“Makanya harus ada something makes sense, teknologi ini sama dengan penerbangan, dan orang yang nggak suka maka bilang itu membuka rahasia negara, itu rahasia pencuri ikan,” ungkap dia.

Selain itu, Menteri Susi mengaku akan meningkatkan kesejahteraan nelayan dengan memberikan informasi terkait SDA. Upayanya dengan memberikan data yang dapat diakses secara digital dengan memanfaatkan infrastruktur internet.

“Selain kedaulatan tentu keberlanjutan, kita terus bekerja sama dengan lembaga riset untuk menghitung kadar biomass di laut. Nelayan dibantu dengan digitalisasi, informasi tentang keberadaan klorofil, plankton, agar mereka ke laut tidak berjudi lagi,” kata Susi.

Dengan digitalisasi, para nelayan bisa mendapat informasi mengenai keberadaan ikan di suatu lokasi serta masih bisa tidaknya diambil biota lautnya.

“Jadi kita beri update status wilayah, misalnya wilayah ini sudah kuning. Titik ini sudah merah dan tidak boleh diambil, karena recovery kalau sudah di titik bawah itu sulit. Kalau sudah kuning bisa kita kasih tahu untuk ke wilayah lain. Jadi bisa kehitung pendapatan, dan kesejahteraan mereka,” pungkasnya. (Tiyas Kusumawardhani/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Tidak Peduli (50.0%)
  • Senang (50.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments