Menteri Susi: Teknologi dan Integritas Kekuatan Utama Bangsa

41
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat menghadiri peringatan HUT ke-23 Telkomsel. Dok. Humas KKP/Regina Safri

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengimbau seluruh lapisan masyarakat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi secara bijak. Ia berpendapat, teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan peluang baru yang dapat mendatangkan berbagai manfaat.

“Banyak miss interpretasi seolah-olah teknologi kita buka, kita akan ditelan habis oleh dunia. Padahal tidak juga. Justru kalau kita open to the technology, lalu teknologinya kita gunakan dengan baik, dan memakainya sebagai alat, justru kita bisa menguasai dunia,” ungkap Menteri Susi saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-72 Telkomsel di The Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta, Senin (9/7).

Pemanfaatan teknologi ini sendiri menurutnya telah diterapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dipimpinnya. Selain untuk menyosialisasikan program KKP, perkembangan teknologi juga dimanfaatkan dalam upaya pemberantasan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) melalui rekaman Vessel Monitoring System (VMS) dari Global Fishing Watch (GFW). Dengan teknologi ini, masyarakat dapat berpartisipasi langsung dalam mengawasi pergerakan kapal-kapal Indonesia dengan mengakses www.globalfishingwatch.org. Informasi ini juga membantu investigasi ketika ada permasalahan di laut.

Menteri Susi menolak jika langkah yang dia ambil disebut sebagai membuka rahasia negara. “Banyak yang mengira dan menuduh saya menjual rahasia negara. Saya bilang tidak. Kalau ada yang jelek dan jelas penjahat ya boleh saja (dibuka ke umum – data VMS aktivitas kapal di laut).

Tak hanya itu, KKP juga telah membuat join community bersama negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang di mana anggota komunitas dapat saling membuka dan memantau kegiatan perikanan masing-masing negara.

Langkah ini menurut Menteri Susi telah mendatangkan hasil yang luar biasa. “Sekarang lautan Indonesia menjadi tempat yang paling ditakuti oleh pencuri ikan, oleh pemain illegal unreported, and unregulated fishing (IUUF). Jadi mereka sudah tahu bahwa ada kami pasukan Indonesia, you will not get out kalau sudah tertangkap,” tegas Menteri Susi.

Keberhasilan Indonesia dalam pengawasan kegiatan di laut ini menurutnya tak terlepas dari peran serta teknologi. Seperti halnya keberhasilan Indonesia dalam menangkap kapal pencuri ikan STS-50 yang merupakan buron Interpol. Berkat kinerja baik dari petugas, sistem yang mendukung, setelah buron di beberapa negara justru STS-50 bisa ditangkap di Indonesia.

Menteri Susi menilai, sistem pengawasan sebuah negara tidak boleh kalah dari kapal pencuri ikan. Menurutnya, kapal pencuri ikan saja telah memiliki teknologi tinggi pada sistemnya guna melancarkan aksi.

“Sekarang semua orang yang jahat pun memakai teknologi. Jadi kita yang mau membetulkan sesuatu, menjaga sesuatu, ya harus betul-betul menguasai teknologi. Bagi saya teknologi tracking following ini very important untuk memonitor, mengakses, menginvestigasi, dan juga memastikan bahwa things are going right,” tambah dia.

Menteri Susi berpendapat, dua hal yang membuat para penjahat perikanan takut adalah teknologi dan integritas. Oleh karena itu, ia ingin agar generasi Indonesia diperkenalkan pada teknologi dan dilatih memanfaatkannya secara benar, baik itu generasi muda, maupun generasi tua. Sementara itu, integritas harus ditunjukkan dengan sikap tegas tanpa kompromi terhadap pelaku kejahatan dan keberanian untuk menunjukkan transparansi dalam bekerja.

“Dengan teknologi, kita bisa belajar dari mana saja, di mana saja, tanpa kendala ruang dan waktu. Saya pikir dengan Indonesia united and move forward dan semua integritas anak-anak bangsa, Indonesia bisa jadi bangsa yang besar,” tandasnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments