Menteri Susi: Tata Kelola Sumber Daya Alam Harus Berpihak pada Masyarakat

96
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan penanaman pohon bakau (mangrove) di Desa Paisulamo, Kecamatan Labobo, Kab. Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Dok. Humas KKP/Regina Safri

KKPNews, Banggai Laut – Di hari kedua kunjungan kerjanya di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Rabu (16/5), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti didampingi Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Satyamurti Poerwadi, dan Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina, beserta jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyambangi Pantai Bobuyan, Desa Paisulamo, Kecamatan Labobo. Desa tersebut dapat dikunjungi dengan melakukan sekitar 1 jam perjalanan laut dengan menggunakan speed boat dari pusat Kabupaten Banggai Laut.

Di sana Menteri Susi bermain paddle dan berenang mengamati terumbu karang di tepian pantai. Seusai menikmati keindahan laut, Menteri Susi melakukan ramah tamah dengan warga sekitar yang telah memadati pinggiran pantai. Menariknya, Menteri Susi ikut berbaur bersama masyarakat bergerak melakukan Tarian Dero.

Selanjutnya Menteri Susi beserta rombongan menikmati hidangan yang telah disediakan masyarakat yang umumnya didominasi oleh hidangan berbahan baku ikan.

Dalam sambutannya, Menteri Susi mengatakan bahwa pemerintah harus memiliki keberpihakan kepada masyarakat dalam urusan tata kelola sumber daya alam. “Sumber daya alam di sini, ada hutan, pertanian, dan laut, itu milik Bapak. Harus dijaga untuk Bapak dan masa depan anak cucu cicit Bapak. Hak atas sumber daya alam yang terdekat tetap adalah (milik) masyarakat yang hidup di situ,” ungkap Menteri Susi.

Untuk itu, Menurut Menteri Susi kedatangannya bersama rombongan KKP adalah untuk membantu masyarakat nelayan. Kategori nelayan menurutnya adalah orang-orang yang hidup dari melaut dengan kapal kecil berukuran di bawah 10 GT. Adapun pemilik kapal besar lainnya menurutnya bukanlah nelayan, melainkan pengusaha perikanan.

Menteri Susi juga mengimbau agar masyarakat yang hidup dari melaut segera mendaftar sebagai nelayan kepada Dinas setempat sehingga memperoleh Kartu Nelayan yang dapat memudahkan berbagai urusan termasuk dalam memperoleh bantuan dan Asuransi Nelayan.

Guna melindungi laut yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat sekitar, Menteri Susi juga mengajak masyarakat untuk menjaga laut dengan tidak melakukan pengeboman atau pembiusan di laut menggunakan portas.

“Saya lihat laut di sini karang-karang baru sudah mulai berwarna. Tapi kalau diportas lagi ya putih lagi, mati lagi,” tutur Menteri Susi.

“1 gram portas itu membunuh 6 meter persegi karang-karang. 1 gram itu 1 sendok teh. Padahal saya tahu 1 nelayan itu bawa 3 jeligen, 4 jeligen. Berapa kilo itu (rusaknya). Bapak pikir yang mati yang di situ saja? Tidak. Dalam jangka panjang mata bapak juga akan rusak kena glukoma, seperti orang kena gula, katarak. Bisa juga buta lama-lama,” Menteri Susi memaparkan bahaya menggunakan portas.

Selain itu, Menteri Susi berpendapat, menghilangnya terumbu karang dapat menyebabkan berpindahnya duri babi ke pinggiran pantai yang dapat mencelakakan nelayan dan masyarakat sekitar.

Terakhir, Menteri Susi juga meminta masyarakat tidak membuang sampah terutama sampah palstik ke laut. “Sampah plastik buang ke tempat sampah. Kumpulkan, kalau sudah terlalu banyak bakar di tempat yang jauh dari pemukiman. Kalau tidak diramalkan 2030 nanti lebih banyak plastik daripada ikan di laut Indonesia,” ujar Menteri Susi.

Ia mencontohkan Rwanda, negara kecil di Afrika yang telah berani menerapkan kebijakan pelarangan penggunaan plastik. Setelah 5 tahun penerapan kebijakan tersebut, kini Rwanda telah menjelma menjadi negara yang bersih.

“Jangan lagi beli cabe 1 ons, (pakai) kresek, beli pisang 2 biji, (pakai) kresek,” pungkasnya.

Sebelum meninggalkan Desa Paisulamo, Menteri Susi melakukan penanaman pohon mangrove sebagai imbauan agar masyarakat menjaga kesehatan pesisir pantai. Pohon mangrove tersebut oleh warga sekitar dinamai Mangrove Ibu Susi.

Selanjutnya, Menteri Susi bersama rombongan mengunjungi Air Terjun Kokungan yang berada dipinggiran pantai di Desa Monsongan, Kecamatan Banggai Tengah.

Terakhir, dalam rangkaian kunjungan kerjanya, Menteri susi juga mengunjungi situs wisata sejarah Kabupaten Banggai yaitu Rumah Keramat Kamali Boneaka dan Keraton Kerajaan Banggai. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments