Menteri Susi Pimpin Pelepasliaran Banggai Cardinal Fish dan Lobster Bertelur di Luwuk Banggai

92
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat memberikan sambutan usai memimpin acara pelepasliaran 1.000 Banggai Cardinal Fish (BCF) dan 25 ekor lobster di bawah ukuran (undersize), di Pantai Kilo Lima, Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Selasa (1/5). Dok. Humas KKP/Handika Rizki R.

KKPNews, Banggai – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memimpin acara pelepasliaran 1.000 Ikan Capungan Banggai atau yang biasa dikenal sebagai Banggai Cardinal Fish (BCF) dan 25 ekor lobster di bawah ukuran (undersize), di Pantai Kilo Lima, Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Selasa (1/5). Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Bulan Bakti Karantina dan Mutu Hasil Perikanan 2018 dengan tema “Melalui GEMASATUKATA (Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina) Kita Wujudkan Penyediaan Pangan Sehat untuk Peningkatan Gizi Masyarakat”.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rina; Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP Brahmantya Satyamurti Poerwadi; Bupati Banggai Herwin Yatim; Wakil Bupati Banggai Mustar Labolo; Plt. Sekretaris Daerah Kab. Banggai Abdullah Ali; dan Kepala Stasiun KIPM Luwuk Banggai Darwis.

Sebagaimana diketahui, Ikan Capungan Banggai atau BCF sebagai ikan endemik dari perairan banggai telah ditetapkan sebagai ikan yang dilindungi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) No. 49 Tahun 2018 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni). Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan Kabupaten Banggai sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pertanian, dan kemaritiman berbasis kearifan lokal dan budaya.

Adapun pelestarian lobster bertelur telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) dari Wilayah Negara Republik Indonesia. Dalam Permen tersebut diatur lobster yang diperbolehkan ditangkap adalah lobster yang tidak dalam kondisi bertelur, memiliki bobot di atas 200 gram per ekor, serta panjang karapas lebih dari 8 cm.

Segala upaya ini merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam melindungi hayati laut yang status kelestariannya kian terancam. “Keberlanjutan harus dijaga, lobster bertelur, kepiting bertelur jangan diambil, lepasin lagi (kalau tidak sengaja tertangkap). Satu kepiting, satu lobster yang bertelur itu kalau dilepas mungkin bisa (menetaskan) paling sedikit 1.000 ekor,” tutur Menteri Susi.

Jika seekor bibit yang dihasilkan dapat tumbuh menjadi seberat ½ kg, 1.000 ekor bibit yang dihasilkan oleh seekor induk dapat tumbuh menjadi 500 kg lobster atau kepiting yang bernilai tinggi.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Susi juga membuka secara resmi aksi bersih pantai dan laut yang dilakukan oleh penyelam dan penanaman pohon ketapang. Hal ini sejalan dengan pencanangan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KKP3K) yang meliputi daerah Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut dengan luas sekitar 869.000 hektar.

Menteri Susi memberikan apresiasi atas komitmen masyarakat Banggai untuk menjaga kebersihan, terbukti dari air lautnya yang jenih meskipun masih ditemukan beberapa sampah. “Saya harus akui Pak Bupati dan masyarakat Banggai, dari beberapa kabupaten yang saya kunjungi beberapa waktu belakangan, lautnya Banggai inilah yang paling bersih. Tolong dijaga, jangan dikotori sampah plastik. Jangan nangkap ikan pakai portas, pakai bom,” pesan Menteri Susi.

Guna menjaga laut tetap bersih, Menteri Susi juga mengajak masyarakat untuk mengganti pola hidup dengan beralih dari penggunaan kantong plastik ke material yang lebih ramah lingkungan seperti kantong belacu, ganepo, atau kantong kain. “Rwanda, negeri di Afrika yang agak tertinggal saja mereka berani melarang kantong kresek untuk bungkus-bungkus. Kita sekarang beli cabe 1 ons pakai kantong kresek, beli pisang goreng 2 potong pakai kantong kresek, iya enggak? Bisa mulai dihilangkan enggak?” kata Menteri Susi.

Selain itu, Menteri Susi juga meminta agar masyarakat menjaga hutan bakau sebagai tempat bertelur ikan dan komoditas-komoditas perikanan lainnya. “Tuhan itu luar biasa Maha Besar dan Maha Penyayang sama kita umat-Nya semua. Kalau orang selalu mensyukuri nikmat Tuhan insya Allah semua alamnya akan ramah, gampang cari makan, ikan ada, tanam apapun, padi, tanahnya subur. Pasti kita akan diberikan jalan selalu oleh Tuhan,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Banggai Herwin Yatim mengatakan, Kabupaten Banggai telah dianugerahi kekayaan laut yang luar biasa. Dengan luas laut lebih kurang 20.309 km persegi yang berada di WPP 715 Teluk Tomina dan WPP 714 Teluk Tolo, serta panjang garis pantai 613 km, Kabupaten Banggai memiliki potensi perikanan yang begitu besar. Ia menyebutkan, potensi lestari perikanan laut Banggai sebesar 48.621 ton per tahun yang terdiri atas ikan pelagis 39.000 ton per tahun dan ikan demersal lebih kurang 10.000 ton per tahun.

Menurutnya, Kabupaten Banggai juga memiliki areal pertambakan seluas 8.825 hektar dengan jenis yang dibudidayakan udang windu, vaname, dan ikan bandeng. Selain itu, terdapat kolam air tawar seluas 260 hektar untuk budidaya ikan mas dan ikan nila. “Potensi budidaya laut 6.396 hektar, yang dimanfaatkan baru 78.000 m persegi untuk budidaya rumput laut dan kerapu KJA, serta kepiting bakau dan mutiara,” papar Herwin.

Potensi ini dimiliki Banggai yang didominasi desa pesisir dengan 72 pulau yang tersebar di beberapa kecamatan.“Pada tahun 2017 hasil perikanan Kabupaten Banggai sudah go international. Dengan pengiriman light fish ke Hongkong dan produk olahan beku frozen fish ke Hongkong, Amerika, dan sebagainya. Suatu kebanggaan bagi Banggai produknya sudah diterima dunia, tapi tak bisa puas begitu saja,” ungkap Herwin.

Oleh karena itu, ia ingin pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, serta kelestarian sumber daya ikan harus tetap dijaga. Salah satu caranya dengan membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian ikan misalnya melalui serangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Stasiun KIPM Luwuk Banggai hari itu. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments