Menteri Susi Imbau Masyarakat ‘Posesif’ Jaga Kekayaan Laut Indonesia

106
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berfoto bersama di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta usai mengisi kuliah umum. Dok. Humas KKP/Joko Siswanto

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengisi kuliah umum dengan tema “Penanggulangan Illegal Fishing” di lembaga pendidikan kedinasan dan lembaga pendidikan akademik Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK – PTIK), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (13/7). Dalam kuliah umum yang berlangsung selama 2 jam tersebut, Menteri Susi mengajak bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang posesif dalam menjaga sumber daya alam negara.

“Ada peribahasa, kalau negara kita ini bukan negara yang eskpansif, setidaknya kita harus punya posesivitas untuk melindungi nature resources (sumber daya alam) kita. Karena nature resources kita yang membuat kita survive (bertahan). Apalagi ini pangan dan ini renewable (dapat diperbaharui), yang kalau kita jaga akan terus ada,” jelas Menteri Susi.

Menteri Susi berpendapat, proteksi yang kuat terhadap aset-aset yang dimiliki bangsa wajib hukumnya. Setiap pelanggaran yang terjadi wajib dituntut pertanggungjawaban yang seadil-adilnya. Menteri Susi mencontohkan posesivitas pemerintah dalam menuntut kapal-kapal asing yang mencuri ikan di Indonesia, bahkan tak segan-segan menenggelamkannya.

Posesivitas ini telah menjadi bukti keseriusan pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing secara menyeluruh di Indonesia. Terlebih perairan Indonesia telah menjadi jalur ratusan ribu rute logistik kegiatan kemaritiman dunia, sehingga segala kemungkinan pelanggaran wajib diwaspadai.

“Indonesia playing dominant role untuk kegiatan kemaritiman dunia. Kita merupakan salah satu pusat dan jalur distribusi, salah satu titik kegiatan ekonomi wilayah perikanan, terutama di Asia Tenggara. Kita berhak mencari manfaat ekonomi yang sebesar-besarnya dari laut kita. Yang mencuri secara ilegal di laut Indonesia boleh kita tenggelamkan,” ungkap Menteri Susi bersemangat.

“Ya kalau (kapal asing) nyuri 1.000 ton didenda Rp250 juta, ya akan banyak lagi (kapal pencuri) yang masuk. Kalau ada lagi, saya mau cari mesin las untuk bolongin kapal itu. Masih banyak yang mau jadi relawan kok bantu saya (membolongi kapal),” kelakar Menteri Susi disusul gelak tawa hadirin.

Menteri Susi mengisahkan, ketika dulu ribuan kapal besar masih bebas masuk perairan Indonesia. Mereka merapat di pelabuhan Indonesia bagian timur seperti Papua, Laut Arafura, Ambon, Bitung. Menurut Menteri Susi, saking maraknya aktivitas mereka, hingga November 2014, di Indonesia Timur terutama daerah Sulawesi, lampu kapal di laut lebih banyak daripada lampu rumah di daratan sehingga lautan menyerupai floating city. Namun, keadaan saat ini sudah cukup membaik berkat kerja sama yang erat, yang posesif antara pemerintah dengan aparat Kepolisian, TNI AL, Bakamla, dan Kejaksaan.

Menurut Menteri Susi, usaha yang dilakukan Indonesia saat ini merupakan inisiasi penegakan hukum terhadap permasalahan yang menjadi persoalan dunia. “Saya yakin dengan polisi-polisi yang well educated, well trained, dan professional dapat menjadi suatu frame yang sangat penting,” imbuh Menteri Susi.

Ia meminta agar aparatur negara berkomitmen pada good governance dan menjaga integritas. Menurutnya aparat juga harus memiliki niat atau kemauan, bekerja dengan baik, dan memiliki kepedulian terhadap permasalahan bangsa. “Kerja saja (tapi) tak ada kepedulian, tidak berisi nanti kerjanya. Peduli saja nggak ada kerja, ya omong doang,” tuturnya.

Menteri Susi berpesan agar aparat memahami tugasnya masing-masing. Hal-hal yang berkaitan dengan law enforcement, kenyamanan, keamanan, civil society establishment merupakan tugas polisi, bukan tentara. Sebaliknya, hal-hal yang berkaitan dengan save sovereign (penjagaan kedaulatan) berada di tangan tentara. “Makin modern sebuah bangsa, civil society establishment makin kompleks persoalannya. Di situlah profesionalisme polisi diperlukan,” tandas Menteri Susi. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments