Menteri Susi dan PM Norwegia Bahas Ekonomi Kelautan yang Berkelanjutan di Oslo

40
dok.humas KKP

KKPNews, Oslo – Pada pertemuan yang dilaksanakan pada Selasa (19/06) di Museum Kemaritiman Norwegia dan dihadiri oleh perwakilan negara-negara di antaranya Norwegia, Jepang, Australia, Portugal, Meksiko, Palau, Fiji, Chile dan Namibia tersebut, Menteri Susi Pudjiastuti membahas secara komperhensif isu-isu kelautan di forum tersebut seperti halnya redefinisi tata kelola laut bebas, termasuk pengaturan dan pengawasan laut bebas yang kini dijadikan locus berbagai kejahatan di laut; hak laut (ocean rights); pengembangan wilayah kawasan lindung di laut (marine protected areas); kejahatan perikanan lintas negara yang terorganisir (transnational organized fisheries crime) sampai dengan diperlukannya common platform yang dapat dijadikan dasar pengembangan komitmen di tingkat global, nasional maupun regional untuk menyelamatkan laut dunia. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan perhatian khusus tentang komitmen komitmen yang dilakukan dalam kerangka OOC maupun UN Ocean Conference yang pertama di New York. Untuk OOC saja (sejak OOC 1 sampai dengan OOC 4) telah diidentifikasi terdapat 663 komitmen.

Lebih lanjut Menteri Susi menjelaskan banyaknya komitmen penyelamatan laut merupakan hal yang positif sebagai wujud peningkatan kesadaran negara, namun demikian terdapat kekhawatiran komitmen yang dibangun tidak berdasarkan pada common platform yakni konsensus bersama untuk merespon permasalahan pokok yang sedang dihadapi. Yang terjadi adalah over-committed tidak berdampak pada perbaikan kondisi laut dunia. Dalam forum sherpa tersebut dirinya juga mengangkat isu perlunya perangkat monitoring dan evaluasi terhadap komitmen komitmen negara dan non negara tentang kemajuan (progress), keberhasilan (success) dan dampak/perubahan kondisi (impact). Terdapat 3 (tiga) pihak saat ini yang mempersiapkan metoda untuk memantau komitmen (commitment tracking) yaitu EU (tuan rumah OOC 2017), UN-DESA, dan Pemerintah Indonesia ( tuan rumah OOC 2018). Ketiganya akan bertemu untuk membahas dan merealisasikan gagasan diatas di bulan Juli 2018 ini.

Menteri Susi yang dalam pertemuan tingkat tinggi ini ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk mewakili Indonesia mengusulkan dua hal penting: (1) komitmen yang disampaikan haruslah berdasarkan common platform yang dibangun terlebih dahulu. “Common platform ini akan menjadi basis pengembangan komitmen; (2) mekanisme penilaian atau pengukuran mengenai progress, tingkat kesuksesan dan dampak sehingga kekhawatiran komitmen hanya sebatas di atas kertas dapat dihindari,” urainya.

Mengenai sustainable ocean economy yang menjadi tema high level panel ini, selain membahas tentang kualitas komitmen dan perlunya perangkat pemantauan terhadap komitmen komitmen penyehatan laut, isu overfishing dan IUU fishing juga menjadi isu yang dibahas dalam pertemuan ini khususnya berkaitan dengan pengelolaan sumber daya ikan di laut lepas (high seas) yang masih memperbolehkan transhipment. Banyak tindak pidana penyelundupan dan kejahatan lainnya terjadi di laut lepas ini karena tidak ada larangan melakukan transhipment. Oleh sebab itu, praktik transshipment di tengah laut khususnya di laut lepas harus dilarang. Apabila transshipment masih terus terjadi, maka perjanjian internasional Port State Measures Agreement (PSMA) sebagai perangkat hukum internasional tidak dapat berjalan efektif karena banyak kapal ikan justru tidak bersandar di pelabuhan (porting), sehingga PSMA tidak terlalu memberikan manfaat bagi negara pelabuhan (port states) dalam mencegah IUUF.

Menteri Susi dalam kesempatan ini mengusulkan agar pertemuan tingkat tinggi ini perlu bersinergi dengan platform Our Ocean Conference (OOC). Our Ocean Conference memiliki kelebihan dalam pengumpulan komitmen-komitmen pemyehatan laut, sementara pertemuan tingkat tinggi ini memiliki kemampuan membangun common platform dan implementation plan (semacam roadmap) dalam membangun ekonomi kelautan yang berkelanjutan dan pemenuhan target SDGs, khususnya SDGs 14 pada tahun 2020 dan 2030.

Pertemuan tingkat tinggi mengenai ekonomi kelautan yang berkelanjutan ini dihadiri pula oleh Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Menurut Sekjen PBB, tidak banyak inisiatif yang dibuat secara khusus dan komprehensif mengenai ekonomi kelautan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan suatu wadah atau forum internasional yaitu High Level Panel ini untuk mengumpulkan dan membahas isu prioritas bersama sehingga menghasilkan roadmap untuk melindungi laut.

Sementara itu, PM Erna Solberg menjelaskan bahwa saat ini, terdapat banyak kerjasama di bidang perikanan. Dalam kaitannya dengan SDG14, PM Solberg berpendapat bahwa semua SDGs tetap harus dijalankan dan SDGs tidak akan tercapai apabila hanya menjalankan salah satu dari ke-17 komitmen SDGs tersebut.

Seusai acara high level panel, Menteri Susi di hari yang sama berkesempatan melakukan pertemuan bilateral dengan PM Norwegia, Erna Solberg. Menteri Susi atas nama pemerintah Indonesia menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang erat selama ini dengan pemerintah Norwegia dalam memberantas kejahatan lintas batas terorganisir di bidang perikanan.

Pada akhir kesempatan pertemuan tingkat tinggi tersebut, Menteri Susi yang didampingi oleh Kepala Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja serta Koordinator Staf Khusus Satgas 115 Mas Achmad Santosa pun mengajak PM Norwegia, Sekjen PBB serta para perwakilan negara-negara untuk hadir dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan Our Ocean Conference ke-5 2018 di Bali, bulan Oktober mendatang. PM Norwegia, Erna Solberg akan kembali memeriksa jadwalnya untuk kemungkinan hadir di OOC 2018 Bali. Sebagaimana diketahui 2 (dua) menteri kabinet Norway sudah memastikan hadir di OOC 2018 yaitu Menteri Perikanan dan Menteri Luar Negeri Norwegia. Presiden Jokowi juga mengirimkan undangan untuk menghadiri OOC 2018, 12 Kepala Pemerintahan yang menjadi anggota High Level Panel (HLP) . 13 negara yang menjadi anggota HLP ini menguasai luas laut 261.544 Km dari total panjang pantai di dunia 356.000 Km. (Fivien Ocktaviani)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Sedih (100.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments