Menteri Susi Ajak BNI Jadi Fasilitator Peralihan Alat Tangkap

138
Menteri Susi mencoba salah satu layanan Bank BNI dalam acara “Bank BNI Bussines Meeting 2017 Pertumbuhan Agresif” di Ballroom Hotel Shangri La, Jakarta Pusat (27/01). (dok.Humas KKP / Joko Siswanto)

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengajak Bank Negara Indonesia (BNI) bekerja sama dalam pengadaan alat tangkap ramah lingkungan untuk nelayan. Hal ini sehubungan dengan pembatasan penggunaan alat penangkapan ikan cantrang di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) yang tertuang dalam surat edaran nomor 72/MEN-KP/II/2016. Susi menyadari, peralihan dari cantrang ke alat tangkap baru akan membutuhkan biaya, sehingga Susi menawarkan BNI untuk menjadi fasilitator bersama Perum Perindo sebagai partner nelayan.

Susi menyebutkan, peralihan penggunaan cantrang ke pursein atau gillnet ini juga bisa menjadi kesempatan nelayan untuk menaikkan pendapatan mereka 5-10 kali lipat. Menurutnya, dengan pursein atau gillnet nelayan bisa menangkap lebih banyak ikan yang bernilai jauh di atas ikan yang biasa bisa ditangkap dengan cantrang.

“Nelayan yang sudah beralih dari cantrang, nanti kita berikan wilayah penangkapan di Timur Indonesia. Di wilayah Timur ini tangkapannya luar biasa. Ikan yang bisa ditangkap bisa bernilai berkali lipat daripada ikan yang ditangkap dengan cantrang. Kalau cantrang bisa menangkap ikan kuniran atau ikan mata goyang yang nilainya hanya Rp5.000, dengan alat baru bisa dapat Cakalang yang harganya Rp30.000.,” papar Susi dalam acara BNI Business Meeting di Hotel Shang Ri La, Jakarta (27/1).

Di wilayah Pantura, terdapat kurang lebih 2.000-3.000 kapal. Untuk berganti alat tangkap, masing-masing kapal membutuhkan kurang lebih Rp300-500 juta. Untuk itu, kerjasama dari penyedia kredit sangat dibutuhkan.

“Dan yang pasti sekarang untuk perusahaan penangkapan ikan, bapak-bapak, ibu-ibu, haji haji, di Pantura itu sekarang luar biasa mereka. Rate (return) on investment-nya mungkin 2-3 trip saja. Kapal-kapal 1.8, 2 miliar sampai 6 miliar berangkat saja pursein satu trip itu bisa dapat 70 ton (ikan). Kalau harganya Rp70.000 saja, sudah dapat 1,5 miliar. Cost operational 50%, mereka masih dapat (untung) 50%. Di sini kita punya persoalan yang sebetulnya persoalan ini akan menjadi trigger growth economy baru adalah berubahnya alat tangkap,” jelasnya.

Susi mengatakan, tak ingin kejadian di bandar perikanan besar Bagan Siapiapi terulang kembali. Akibat penggunaan alat tangkap yang merusak lingkungan, bandar perikanan terbesar itu hancur. “Kita tidak ingin, history atau cerita seperti di Bandar Siapiapi ini terjadi di wilayah bandar perikanan lainnya di wilayah Indonesia,” tandasnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments