Mengenal Arapaima, Ikan Predator yang Dilepas di Sungai Brantas

101
dok.humas KKP / Handika Rizki Rahardwipa

KKPNews, Jakarta – Beberapa waktu lalu, masyarakat daerah Mojokerto, Jawa Timur tengah dihebohkan dengan berita beredarnya delapan ekor ikan Arapaima di perairan Sungai Brantas, yang merupakan bukan habitat asli hewan tersebut. Habitat asli spesies ini berasal dari Sungai Amazon yang mempunyai iklim tropis, sehingga penyebarannya ada pada daerah iklim tropis seperti Indonesia, Australia bagian utara, Papua New Guini, dan Amerika Selatan.

Genus Arapaima terdiri dari empat spesies, yaitu Arapaima Gigas, Arapaima Mapae, Arapaima Agassizi, dan Arapaima Arapaima. Seluruh spesies tersebut memiliki sifat invasif.

Ikan Arapaima Gigas atau nama lainnya Paiche atau Pirarucu yang merupakan ordo Osetoglossiformes, adalah jenis ikan predator yang bisa memakan hampir semua hewan yang bisa ditelan, terutama ikan yang berukuran kecil dan hewan-hewan lain yang ada di permukaan air.

Ikan ini memiliki sirip pektoral yang kecil berada di dekat kepala. Warna tubuhnya abu-abu hijau dan emas dengan titik orange yang ada di sepanjang tubuhnya.

Ikan ini merupakan ikan yang biasanya diintroduksi secara sengaja ke habitat lain dengan tujuan untuk budidaya maupun sebagai ikan hias. Arapaima gigas bersifat adatif, di habitat aslinya ikan ini hidup di air dengan suhu mencapai 25-29 ºC dan pH 6.0-6.5, namun ikan ini bisa tetap tumbuh dengan baik di air dengan suhu 31ºC dan pH 8.5-9.

Arapaima gigas memiliki sifat kompetitor. Mereka bersaing dengan jenis ikan lain untuk mendapatkan makanan terutama memangsa ikan yang lebih kecil. Secara ruang, Arapaima gigas dapat mendominasi secara ruang, karena ukuran tubuhnya yang besar, bahkan raksasa (Damme et al., 2015).

Arapaima gigas dewasa mencapai ukuran panjang berkisar 145-154 cm, bahkan panjang mencapai ukuran 2 m sampai 4,5 m (jantan) dengan berat tubuh 200 kg.

Siklus reproduksi ikan Arapaima gigas tergantung pada musim. Arapaima betina akan bertelur pada bulan Februari, Maret, dan April. Selama periode ini, tingkat air di Sungai Amazon sangat rendah. Telur ditempatkan di sarang yang telah dibangun oleh induk di bagian bawah. Sarang ini biasanya berukuran ±50 cm dengan diameter 15 cm, meskipun siklus reproduksi bersifat musiman tetapi nilai SR (survival rate) Arapaima gigas tinggi karena dijaga langsung oleh induk jantan (Arantes et al., 2010).

Sementara makanan utamanya adalah ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil. Meskipun terkadang ikan ini bisa memakan unggas, katak, atau serangga yang berada di dekat permukaan air. Bahkan, telah ditemukan adanya tumbuhan air dalam isi perut Arapaima gigas, dikarenakan ikan ini menangkap mangsanya dengan cara menghisap kemungkinan tumbuhan air tersebut ikut terbawa.

Arapaima gigas dapat melukai manusia pada saat ditangkap karena ukuran tubuhnya yang besar. Meski begitu belum pernah ditemui kasus bahwa Arapaima gigas yang menyerang manusia. Daging Arapaima gigas dapat dikonsumsi. Bagian lidahnya dapat digunakan sebagai amplas kayu. Selain itu spesies ini dapat dikoleksi sebagai ikan hias.

Di Indonesia, masuknya Arapaima gigas diatur dalam Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 94 Tahun 2016 tentang Jenis Invasif, yaitu spesies asli atau bukan yang mengkolonisasi suatu habitat secara massif sehingga dapat menimbulkan kerugian terhadap ekologi, social, dan ekonomi.

Selain itu, juga diatur dalam Permen KP Nomor 41 Tahun 2014 tentang larangan pemasukan jenis ikan berbahaya dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan tentang bahayanya ikan predator ini jika beredar di perairan Indonesia, bagi manusia maupun sumber daya hayati, seperti mengurangi stok tangkapan warga dan nelayan di danau maupun sungai. “Bisa betul-betul menghabisi sumber daya ikan yang dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya dalam gelaran konferensi pers yang dilaksanakan secara teleconference di Jakarta pada Kamis (28/6).

Menteri Susi pun mengarahkan, agar pemerintah menindak tegas para pembudidaya ikan Arapaima gigas tersebut. “Jadi semestinya penegakan hukum harus dilakukan. Tolong apa aturan yang bisa dipakai untuk menjerat karena kalau tidak, ikan lokal bisa habis gara-gara ikan Arapaima,” jelas Menteri Susi.

“Kalau masih ada barang-barang bukti, lebih baik dimasak saja. Lalu dibagikan ke pesantren-pesantren, atau ke masyarakat,” tambahnya.

Plt.Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri

Lilly Aprilya Pregiwati

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments