Limbah Kitin Yang Bernilai Tambah

1165
limbah kitin p2hp

KKPNews, Jakarta – Para pemakai lensa kontak mungkin tidak menyangka bahwa yang terpasang di matanya bisa jadi berasal dari kulit udang atau kulit kepiting. Tidak banyak yang mengetahui bahwa lensa kontak terbuat di antaranya dari kitin atau turunannya – kito­san, senyawa oligosakarida yang banyak terdapat pada kulit krusta­sea (udang-udang, lobster, kepiting dsb). 

Kitin mempunyai kegunaan yang sangat luas, tercatat sekitar 200 jenis penggunaannya, dari industri pangan, bioteknologi, farmasi dan kedokteran, serta lingkungan. Setidaknya di indutrsi penjernihan air, kitin telah banyak dikenal sebagai bahan penjernih, demikian juga dalam industri minuman. Kitin juga banyak digunakan di dunia farmasi dan kosmetik, misalnya sebagai penu­run kadar kolesterol darah, pemercepat penyembuhan luka dan pelindung kulit dari kelembaban.

Produksi kitin (dan kitosan) dunia saat ini mencapai 2000 ton setiap tahunnya. Negara utama penghasil kitin adalah Jepang dan Amerika. Dalam jumlah kecil Norwegia, India, Italia dan Polandia juga termasuk penghasil. Banyak negara mulai tertarik mendirikan pabrik kitin atau kitosan di antaranya Cina, Pakistan dan Thailand. Jepang juga merupakan konsumen utama kitin (hampir 90%).

Limbah padat krustasea (kulit, kepala, kaki) merupakan salah satu masalah yang harus dihada­pi oleh pabrik pengolahan krustasea. Selama ini limbah tersebut dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai pakan atau pupuk dengan nilai yang rendah. Mengolahnya menjadi kitin atau kitosan akan memberikan nilai tambah yang cukup tinggi.

Sebagai bahan utama, kulit krustasea mengandung 14-35% (berat kering) kitin. Diperkirakan limbah kulit krustasea dunia mencapai sekitar 1,5 juta ton (kering) atau setara dengan 200 ribu ton kitin. Di pasar internasional, harga kitin dapat mencapai US$ 5-10 per kilogram, sedangkan untuk kitosan US$ 15-40 per kilogram tergantung kualitas dan jenisnya.

Ekstraksi kitin umumnya melalui tahapan penggilingan, deproteinasi, demineralisasi, pengeringan dan penepungan, sedangkan kitosan diperoleh dengan penambahan alkali kuat terh­adap kitin pada suhu tinggi. 

Peluang Indonesia

Sebagai salah satu negara pengekspor udang, Indonesia tentu saja berpeluang memproduksi kitin atau kitosan. Dengan volume ekspor udang (kupas dan tanpa kepala) sekitar 90 ribu ton setiap tahunnya, di atas kertas akan tersedia kulit udang (kering) sebanyak 12 ribu ton. Ekspor kepiting (umumnya kaleng) sekitar 4000 ton per tahun juga berpotensi menghasilkan kulit seba­gai limbah sebanyak 1000 ton per tahun.

Kedua limbah tersebut berpotensi diolah menjadi kitin, dengan produksi sekitar 1700 ton per tahun. Tentu saja kenyataannya tidak selalu demikian mengingat pengolahan udang dan kepiting tersebar di beberapa daerah.

Sebaran ketersediaan kulit udang mencakup pantura Jawa, Sumetera Utara, Lampung, Su­lawesi Selatan, Tenggara dan Tengah, dan Kalimantan Timur. Sedangkan untuk kulit kepiting, mencakup Sumatera utara, pantai timur Sumatera, pantura Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Se­latan.

Survei yang dilakukan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) menunjukkan bah­wa untuk daerah Jabotabek dapat tersedia sekitar 100 ton kulit udang kering setiap bulannya atau setara dengan 13 ton kitin. Apabila ini dikonversikan ke dalam nilai uang, maka setidaknya akan diperoleh devisa sebesar US$ 65 ribu per bulan atau US$ 780 ribu per tahun. Ini belum termasuk kepiting dan daerah lain.

Tentu saja peluang akan tetap menjadi peluang di atas kertas bila tidak direalisasikan. Tam­paknya industri kitin di Indonesia masih harus melalui jalan panjang. 

Tersebarnya bahan baku (kulit udang atau kulit kepiting kering) merupakah salah satu kendala yang harus diatasi. Menurut penelitian BRKP, pabrik kitin layak dibangun bila tersedia bahan baku (kering) sebanyak 3000 kg per hari.

Untuk mengolah bahan sebanyak itu, investasi yang diperlukan untuk mendirikan pabrik kitin atau kitosan memang relatif rendah untuk ukuran sebuah pabrik. Hitungan BRKP memberikan angka sekitar Rp 1,7 sampai dengan Rp 2,1 M untuk lahan (2000m2), bangunan pabrik dan kantor serta mesin. 

Mengingat pabrik kitin dan kitosan banyak menghasilkan limbah cair yang bersifat asam atau basa, maka hitungan di atas diperkirakan dapat menjadi 1,5 – 2 kali, setelah memasukkan kebutuhan Amdal dan penyediaan “waste treatment unit”. Tapi ini bukan merupakan kendala yang tidak dapat diatasi. 

Melihat dolar yang mungkin diperoleh, maka tidak ada salahnya mulai dirintis industri kitin dan kitosan di Indonesia. Apakah kita harus tertinggal lagi dengan Thailand?

Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
Sumber: www.p2hp.kkp.go.id

 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Sedih (78.3%)
  • Marah (7.2%)
  • Takut (7.2%)
  • Terinspirasi (6.0%)
  • Tidak Peduli (1.2%)
  • Senang (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Terhibur (0.0%)

Comments

comments