Lagi, BKIPM Tarakan Gagalkan Pengiriman 88 Box Kepiting Bertelur ke Malaysia

80
Pelepasliaran 88 box kepiting bertelur di Dermaga PT Intracawood, Jalan Aki Pingka, Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, Tarakan, Kalimantan Utara, Selasa (1/5). Dok. Humas BKIPM

KKPNews, Tarakan – Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Tarakan bersama PSDKP Tarakan dan Polres Tarakan, Kalimantan Utara kembali berhasil menggagalkan pengiriman 88 box kepiting bertelur yang akan dikirim ke Tawau Malaysia, Selasa (1/4). Penggagalan 5.280 ekor kepiting bertelur seberat kurang lebih 2,6 ton ini menyusul penggagalan pertama yang dilakukan sehari sebelumnya, Senin (30/1) terhadap sekitar 1,6 ton kepiting bertelur.

Dengan demikian, dari dua penggagalan tersebut telah berhasil diselamatkan sekitar 4,2 ton kepiting bertelur yang akan diselundupkan ke lokasi yang sama.

Kepala Balai KIPM Tarakan Umar mengatakan, serupa dengan penggagalan sebelumnya, setelah diamankan barang bukti berupa kepiting bertelur segera dilepasliarkan. Pelepasliaran dilakukan di Dermaga PT Intracawood, Jalan Aki Pingka, Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, Tarakan, Kalimantan Utara. Pelepasliaran dilakukan bersama dengan instansi terkait yang terlibat dalam penggagalan.

Umar menjelaskan, kepiting selundupan ini dibawa dengan dua speed boat berukuran besar dan kecil. Selain itu, dilakukan pula penyitaan kepiting bertelur yang masih berada di gudang penyimpanan milik pelaku berinisial E.

“Setelah menangkap 2 kapal dan menghimpun informasi, kita lakukan pula pemeriksaan di gudang milik pelaku. Dalam pemeriksaan tersebut ditemukan 24 box kepiting bertelur yang sedang di-packing dan diikat,” papar Umar.

Adapun pemilik dan motoris kapal diamankan ke Polres Tarakan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Sedangkan pekerja dimintai keterangan sebagai saksi.

Perbuatan mereka telah melanggar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) dari Wilayah Negara Republik Indonesia.

“Kepiting yang sedang bertelur atau yang beratnya di bawah 200 gram per ekor dilarang ditangkap atau dikirim ke luar wilayah Indonesia. Dengan penggagalan dua hari berturut-turut ini, kita ingin agar masyarakat semakin sadar bahwa kepiting bertelur tidak boleh ditangkap dan tak lagi melakukan kegiatan serupa,” pungkasnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments