Kunjungi Poltek KP Sorong, Menteri Susi Minta Mahasiswa Kawal Tiga Pilar Pembangunan

61
dok.humas KKP / Handika Rizki Rahardwipa

KKPNews, Sorong – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berkunjung ke Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, Papua Barat, Sabtu (17/3). Pada kesempatan tersebut, Menteri Susi berkesempatan memberikan arahan umum  di hadapan mahasiswa Poltek, taruna/i SUPM Sorong, dosen dan guru yang hadir. Kepada mereka, Menteri Susi berpesan agar menjadi ahli kelautan dan perikanan yang dapat diandalkan bangsa dan negara, salah satunya dengan berupaya menjaga apa yang telah berhasil diraih negara.

Menteri Susi mengatakan, Indonesia telah berhasil menjadi negara terdepan dalam pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing. Menurutnya, setidaknya lebih dari 500 kapal asing yang mencuri ikan di laut Indonesia tanpa membayar pajak dan merusak lingkungan berhasil dibersihkan dari Perairan Sorong. Sebelumnya, kapal asing tersebut dengan menggunakan alat tangkap trawl maupun gillnet yang panjang dan purse seine berukuran besar telah menghabiskan sumber daya ikan di laut Papua.

“Kalian dididik untuk menjadi ahli-ahli kelautan dan perikanan, dan bubidaya. Ibu berharap nanti kalian bekerja di perusahaan-perusahaan yang benar. Yang benar itu dalam arti kata bukan perusahaan illegal fishing, perusak lingkungan, menyelundupkan barang-barang terlarang. Kalian juga harus bisa menjaga (laut beserta isinya),” pesan Menteri Susi kepada mahasiswa Poltek KP Sorong.

Menteri Susi menilai, generasi muda harus ikut mengawal tiga pilar pembangunan kelautan dan perikanan yang diusung pemerintah yaitu kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. Dari segi kedaulatan, generasi muda diminta turut aktif mengawasi dan melaporkan kegiatan kapal asing yang mencurigakan dan dapat mengancam kedaulatan negara.

Untuk menjaga keberlanjutan stok ikan dan bisnis perikanan Indonesia, generasi muda juga diminta untuk mempelajari teknik perikanan dan membaca situasi di lapangan. “Kalian nanti akan jadi pelaut-pelaut ulung yang belajar penangkapan ikan, engineer-engineer. Jangan tahu engineering saja, tapi juga tahu situasi pada saat kamu kerja di kapal-kapal baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tutur dia.

Mahasiswa Poltek KP Sorong juga diharapkan dapat meningkatkan riset di bidang kelautan dan perikanan untuk mendorong peningkatan kualitas bibit ikan dan menyediakan bantuan inovasi lain bagi stakeholder perikanan. Tujuannya untuk mencapai pilar ketiga, yaitu meningkatkan kesejahteraan bagi stakeholder kelautan dan perikanan Indonesia.

Menteri Susi juga menginginkan agar mahasiswa Poltek Sorong untuk memberikan pemahaman dan pengertian kepada seluruh nelayan Indonesia mengenai pentingnya menjaga laut. Pasalnya, setelah lebih dari 10.000 kapal asing yang merusak keluar dari perairan Indonesia, ternyata masih ada saja nelayan lokal yang merusak laut dan ekosistemnya melalui praktik penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti trawl dan pengeboman dengan sianida.

“Kasih tahu kawan-kawan, bapak-bapak, dan paman-paman kalian, enggak boleh lagi ngebom. Ikan kita habis karang kita hancur,” kata Menteri Susi. “Kata orang kalau kita punya ilmu tidak ditularkan itu seperti pohon tidak berbuah. Kalian sudah dapat ilmu itu harus ditularkan kepada orang lain.”

Masalah kebersihan laut juga menjadi perhatian Menteri Susi. Ia  pun mengungkapkan keprihatinannya karena menemukan pelabuhan yang dipenuhi sampah plastik. “Kita mulai budaya plastik tidak boleh dibuang sembarangan, apalagi ke sungai atau ke laut. Kita ini sudah menjadi negara kedua penyumbang sampah laut terbesar di dunia. Nanti suatu hari lebih banyak plastik daripada ikan di laut kita,” ungkap dia.

Untuk itu, Menteri Susi mengharapkan mahasiswa Poltek KP Sorong untuk turut aktif kerja bakti membersihkan lingkungan dari sampah plastik.

Menteri Susi mengungkapkan, laut Papua yang sudah puluhan tahun lamanya dinikmati asing seperti Tiongkok, Thailand, dan Filipina saat ini sepenuhnya telah menjadi milik Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya pengusaha-pengusaha kecil membentuk koperasi atau UMKM. Pemerintah telah menyediakan bantuan usaha melalui Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP).

“Kalau tidak mau jadi ABK di kapal-kapal ikan asing, jadilah pengusaha dengan kapal 11 meter, 10 meter dulu. Pengetahuan kalian sudah punya. Nelayan itu sebuah profesi yang terhormat. Kalau kalian punya kapal 11 meter saja dapat ikan 10-15 kg per hari saja itu sudah lebih baik daripada jadi ABK kapal. Munculkan kewirausahaan di kepala kalian, jangan cuma jadi pegawai-pegawai saja,” pesan Menteri Susi.

Ke depan, Menteri Susi ingin agar para pengusaha Indonesia tumbuh menjadi pengusaha yang mandiri, kuat, tahan banting, pintar, dan yang terpenting jujur, karena menurutnya kejujuraan adalah nilai yang menjadikan seseorang berbeda dengan yang lainnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments