Konservasi Terumbu Karang Jadi Resolusi UNEP

84
Pelaksanaan Sidang Umum Lingkungan PBB Ketiga (3rd Session of the United Nations Environment Assembly/UNEA-3) di Nairobi, Kenya (4-6/12). Dok. KKP

KKPNews, Nairobi – Kelestarian lingkungan utamanya laut dan perairan terus menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia terlibat aktif dalam Sidang Umum Lingkungan PBB Ketiga (3rd Session of the United Nations Environment Assembly/UNEA-3) di Nairobi, Kenya, yang berlangsung pada 4-6 Desember 2017.

Dalam pelaksanaan pertemuan UNEA sebelumnya (UNEA-2), perwakilan KKP telah berhasil mengawal dan menegosiasikan rancangan resolusi Sustainable Coral Reefs Management yang sudah diadopsi menjadi resolusi United Nations Environment Program (UNEP). Resolusi yang didukung oleh Australia, Maldives, Monaco, Norwegia, Palau, dan Filipina ini menjadi salah satu dari 25 resolusi yang diadopsi oleh UNEA-2. Diadopsinya resolusi ini menunjukkan keberhasilan diplomasi dan bentuk pengakuan internasional terhadap kepemimpinan Indonesia yang secara konsisten mendorong kerja sama kemitraan global untuk menjamin konservasi dan pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Brahmantya Satyamurti Poerwadi menjelaskan, resolusi Sustainable Coral Reefs Management merupakan tindak lanjut World Coral Reef Conference (WCRC) 2014 di Manado, yang kemudian diusulkan Pemerintah Indonesia untuk menjadi rancangan resolusi UNEP. Resolusi ini sekaligus menjadi resolusi PBB yang pertama dan satu-satunya tentang pengelolaan terumbu karang.

Resolusi ini penting bagi dunia karena berisikan mandat untuk meningkatkan kerja sama dan kemitraan di tingkat regional dan global dalam pengelolaan terumbu karang, serta memprioritaskan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan terumbu karang. “Dasar dari inisiasi resolusi ini adalah perlunya penyadaran akan pentingnya terumbu karang bagi keamanan pangan dan kelangsungan hidup manusia yang saat ini terancam oleh masifnya kerusakan terumbu karang akibat pemanasan global dan ulah manusia,” jelas Brahmantya lebih lanjut. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments