KKP Terapkan Teknologi Rekayasa Pengembangan Banggai Cardinal Fish

71
Banggai Cardinal Fish. Dok. Humas DJPB

KKPNews, Ambon – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Perikanan Budidaya Air Laut (BPBL) Ambon telah berhasil melakukan terobosan perekayasaan dalam pengembangan ikan hias endemik dari Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, Ikan Capungan Banggai atau Banggai Cardinal Fish.

Kepala BPBL Ambon, Tinggal Hermawan menyatakan, awalnya perekayasaan ini dilakukan di bak-bak terkontrol. Namun seiring hasil pengamatan yang dilakukan secara terus menerus, pihaknya menemukan fakta bahwa karakteristik BCF lebih mudah dilakukan pememijahan secara alami di KJA. Uniknya, menurut Tinggal, BCF ini bersimbiosis dengan bulu babi. Fungsi dari bulu babi ini sebagai shelter bagi benih-benih yang dihasilkan dari proses pemijahan.

“Dengan penebaran induk sebanyak 30-50 ekor per waring ukuran 3×3×1 m, mampu menghasikkan benih sebanyak 300-500 ekor per bulan. Intinya proses ini mudah, hanya saja harus telaten, mengingat sifat BCF ini yang kanibal, sehingga proses panen harus dilakukan secara rutin secara rutin 2 kali dalam seminggu,” jelasnya.

Ditambahkanya, survival rate (SR) BCF ini cukup besar > 80 persen, sehingga mudah untuk mendorong produksi secara massal.

Terkait ketersediaan ikan Hias BCF ini, hingga saat ini Balai memiliki jumlah induk sekitar 200 ekor, di mana pengembangan akan terus ditingkatkan melalui seleksi untuk mendapatkan calon induk berkualitas.

“Untuk BCF ini, sebagaimana arahan Pak Dirjen, akan lebih fokus pada upaya restocking dulu untuk memulihkan stok di alam. Tahun kemarin kita baru arahkan untuk restocking di perairan Ambon dengan jumlah lebih dari 10.000 ekor. Perkembangannya sangat bagus, terbukti dari jumlah kelimpahan BCF yang cukup banyak terutama pada perairan yang ada bulu babinya. Kedepan kita akan dorong kegiatan serupa di perairan Banggai,” pungkasnya. (Humas DJPB/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments