KKP Tebar 2.000 Benih Rajungan dan Resmikan Coldstorage di Untia

59
Dirjen Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja dan Kepala BKIPM Rina saat mengunjungi PP Untia, Makassar.

KKPNews, Makassar – Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja dan Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina, melakukan penebaran 2.000 rajungan, 10.000 benih kakap putih, 250 kepiting under size, dan 1.000 mangrove di Pelabuhan Perikanan Untia, Makassar, Sulawesi Selatan. Penebaran benih ini merupakan rangkaian acara Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina (Gemasatukata) kolaborasi antara Ditjen Perikanan Tangkap dengan BKIPM Makassar.

Dalam acara tersebut, Sjarief membagikan 2.000 alat tangkap ramah lingkungan (bubu) kepada nelayan Untia dan meresmikan coldstorage berkapasitas 30 ton untuk menyimpan dan membekukan hasil tangkapan agar tidak mudah busuk, sebelum nantinya diekspor ke luar negeri.

Selanjutnya, Sjarief berdialog dengan nelayan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) di TPI Maccini Baji. Dalam sambutannya, Sjarief mendorong anak-anak nelayan untuk meneruskan profesi orang tuanya sebagai nelayan, namun bukan sebagai nelayan tradisional, melainkan nelayan modern.

“Sekarang zamannya sudah canggih, saatnya kita mendorong anak-anak kita untuk menjadi generasi nelayan yang lebih modern dan memanfaatkan teknologi, misalnya jualan ikan dengan aplikasi online, kita jadi lebih mandiri, tidak tergantung pihak lain untuk dapat memasarkan tangkapan,” ucap Sjarief.

Dorongan agar dapat memasarkan hasil tangkapannya secara mandiri ini untuk menghindari nelayan dari kerugian karena menjual ikan kepada tengkulak, di samping harga jual yang murah, tidak sesuai dengan keinginan mereka, ketergantungan kepada tengkulak merupakan hal yang disayangkan.

Berdasarkan pada Undang-undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan Nelayan, Ditjen Perikanan Tangkap juga mendorong para nelayan untuk mendaftarkan diri dalam asuransi nelayan yang merupakan kerja sama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo). Besaran asuransi yang diberikan kepada nelayan yaitu Rp200 juta santunan asuransi nelayan akibat kecelakaan aktivitas penangkapan ikan apabila meninggal dunia, santunan kecelakaan akibat yang disebabkan selain karena aktivitas penangkapan ikan adalah hingga Rp160 juta apabila meninggal dunia, Rp100 juta apabila mengalami cacat tetap, dan Rp20 juta untuk biaya pengobatan.

Sjarief juga menyarankan para nelayan untuk membuat koperasi agar pemerintah dapat dengan mudah menyalurkan bantuan kapal, alat tangkap, coldstorage, juga asuransi dan modal melaut kepada nelayan-nelayan yang memerlukan.

“Jadi kalau mau melaut tidak usah pinjam ke tengkulak, pinjam ke koperasi, bunganya 4%, padahal KUR 9%, jadi nanti diserahkan danya melalui koperasi,” jelasnya. (Humas DJPT/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments