KKP Segera Tindak Tegas Pelepas dan Pembudidaya Arapaima Gigas

123
Arapaima gigas. Dok. Humas KKP/Handika Rizki

KKPNews, Jakarta РKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera melakukan tindakan tegas terkait ditemukannya ikan Arapaima Gigas di sungai Brantas, Mojokerto, Jawa Timur. Pembudidaya dan pelepas ikan yang termasuk jenis ikan berbahaya ini akan di kenai sanksi sesuai dengan Undang-Undang yang mengatur keberadaan  ikan jenis invasif tersebut di Indonesia.

“Tolong aturan apa yang bisa dipakai untuk menjerat pelaku ini bisa dipakai. Karena kalau tidak, sumber daya ikan kita bisa habis oleh ikan Arapaima,” ujar Menteri¬†Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Kamis (28/6).

Menteri Susi juga menyarankan pelarangan untuk memiliki ikan tersebut karena khawatir ada kecenderungan pemilik ikan yang sudah bosan dengan ikan tersebut, atau karena terbebani ongkos pakan yang sangat tinggi, bakal membuang ikan tersebut ke sungai.

Terkait peristiwa ini, Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina turut mengatakan bakal mengaplikasikan sanksi sesuai pasal yang berlaku.

Sesuai UU 31 tahun 2004 tentang Perikanan, pasal 86, ayat 1 bahwa bagi siapapun yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan sumberdaya ikan dan/atau lingkungannya bakal dipidana penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp2 miliar.

Kemudian tetap pada UU 31 tahun 2004 pasal 86, ayat 2, bagi individu yang membudidayakan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan/atau lingkungan sumber daya ikan dan/atau kesehatan manusia bakal dikenai hukuman penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal Rp1,5 miliar.

“Kemarin juga sudah ada beberapa yang serahkan ikan invasif lain secara sukarela di Bandung, dan tidak kami beri sanksi,” ungkap Rina.

Penemuan ikan Arapaima gigas di sungai Brantas tersebut viral di sejumlah jejaring media sosial dan berhasil menarik perhatian KKP. Pelarangan atas ikan Arapaima gigas tertulis dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 94 Tahun 2016 tentang Jenis Invasif, yaitu spesies asli atau bukan yang mengkolonisasi suatu habitat secara masif sehingga dapat menimbulkan kerugian terhadap ekologi, sosial, dan ekonomi. (Irna Prihandini/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (75.0%)
  • Takut (25.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments