KKP Pastikan KJA Offshore Pangandaran yang Pertama di Indonesia

73
Karamba Jaring Apung Lepas Pantai (KJA offshore) Pangandaran. Dok. Humas KKP/Regina Safri

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan Karamba Jaring Apung Lepas Pantai (KJA offshore) yang baru saja diresmikan di Pangandaran adalah yang pertama di Indonesia. Hal ini dikemukakan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam konferensi pers di Kantor KKP Jakarta, Jumat (27/4).

Hal ini menurutnya berdasarkan definisi KJA offshore yang dikeluarkan oleh Food and Agruculture Organization (FAO). Sebagaimana diketahui, KJA Pangandaran berjarak lebih kurang 4 mil (6,43 km) dari Pantai terdekat, yaitu Pantai Barat Pangandaran. Selain itu, KJA ini juga terdapat di kedalaman kurang lebih 50 m dengan tinggi gelombang rata-rata antara 1,5 – 3 m. Ia juga dilengkapi dengan Sistem Pemberian Pakan Otomatis, Sistem Monitoring dengan Kamera Bawah Air dan CCTV, serta dapat dioperasikan dari jarak jauh.

IA mengakui, sebelumnya di Indonesia memang sudah ada beberapa KJA di laut seperti di Pemuteran, Buleleng, Bali; Pulau Murai Batu, Tanjung Balai, Karimun; dan Grokgak, Buleleng, Bali. Akan tetapi, ketiga KJA tersebut bukan termasuk kategori offshore melainkan KJA coastal dan off the coast karena jaraknya yang tak sampai 3 km dari pantai terdekat.

Di sisi lain, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Zulficar Mochtar mengatakan, penentuan titik lokasi pembangunan KJA offshore sudah diisusun dalam naskah akademik oleh tim Ditjen Perikanan Budidaya, Badan Riset dan SDM, dan Ditjen Pengelolaan Ruang Laut. Tak hanya oleh Tim KKP, uji kelayakan juga dilakukan Tim Norwegia dari Aqua Compentanse.

“Secara fisik, biologis dan kimiawi, telah dilaporkan dalam kajian tersebut, sehingga titik lokasi yang saat ini di pasang KJA offshore, merupakan titik final yang paling sesuai untuk dipasang KJA offshore. Demikian pula dengan 2 lokasi lain, baik Sabang maupun Karimunjawa,” terang Zulficar.

Menurutnya, kajian tersebut telah mempertimbangkan aspek kelayakan fisik seperti gelombang, arah dan kecepatan arus, pasang surut, serta kekeruhan air. Ia menambahkan, sampel tanah di dasar perairan diambil untuk mengetahui jenis organisme yang ada di dasar perairan calon lokasi KJA lepas pantai. Sedangkan secara kimiawi, dilakukan pengukuran kualitas air.

“Pembangunan KJA ini juga dipastikan tidak berada di kawasan konservasi, tidak mengganggu alur pelayaran, dan tidak mengganggu alur migrasi hewan laut. Jadi lokasi KJA lepas pantai, betul-betul sesuai dengan peruntukan dan tidak berdampak kepada lingkungan sekitar,” tambahnya.

Meski terletak jauh di lepas pantai, arus dan gelombang di 3 lokasi masih dalam batas teloransi yaitu masing-masing antara 0.5 – 1 m/detik dan 1 – 3 m. Beberapa negara seperti Australia dan Vietnam juga telah berhasil menerapkan teknologi serupa. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Sedih (50.0%)
  • Terinspirasi (50.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments