KKP Luncurkan Bulan Bakti Karantina dan Mutu 2018

55
Kepala BKIPM KKP Rina saat menyerahkan bantuan bibit pohon bakau secara simbolis kepada Bupati Sidoarjo Saiful Ilah di Instalasi KIPM Puspa Agro, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (3/4). Dok. Humas KKP/Joko Siswanto

KKPNews, Sodiarjo – Pemerintah terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mutu dan keamanan produk perikanan. Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), tahun ini kembali menyelenggarakan Bulan Bakti Karantina dan Mutu 2018. Mengusung tema “Melalui GEMASATUKATA (Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina), Kita Wujudkan Penyediaan Pangan Sehat untuk Peningkatan Gizi Masyarakat”, Bulan Bakti Karantina dan Mutu 2018 dilaksanakan serentak di Pusat BKIPM dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) KIPM seluruh Indonesia, mulai 3 April hingga awal Mei 2018 mendatang.

Selasa (3/4) dilakukan Peluncuran Bulan Bakti Karantina dan Mutu Hasil Perikanan 2018 di Pusat Pasar Agrobisnis (Puspa Agro), Sidoarjo, Jawa Timur. Pada kegiatan tersebut hadir Kepala BKIPM Rina mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti; Staf Ahli Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya Eko Djalmo Asmadi; Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antarlembaga Suseno Sukoyono; dan Staf Ahli Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Aryo Hanggono. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Komisi IV DPR RI Viva Yoga; Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur Heru Tjahjono; Bupati Sidoarjo Saiful Ilah; Kapolres Sidoarjo Muh. Anwar Nasir; Komandan Kodim Sidoarjo Fadli Mulyono; dan Kepala Kejaksaan Negeri Sidoarjo Budi Handaka.

Kegiatan peluncuran Bulan Bakti Karantina dan Mutu ini dimulai dengan senam sehat yang diikuti oleh sekitar 300 orang. Acara semakin semarak dengan kehadiran lebih dari 1.000 pelajar TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi dan pameran produk perikanan oleh 263 Unit Pengolah Ikan (UPI) dan asosiasi perikanan. Kemeriahan bertambah dengan tampilan marching band bertema kelautan dan perikanan dari Poltek KP Sidoarjo, pertunjukan reog ponorogo dari Universitas Brawijaya, dan lomba mewarnai tingkat TK dan SD. Di akhir acara dilakukan peluncuran program BKIPM goes to market.

Tak kalah menarik, di lokasi acara juga tersedia posko pengobatan gratis dan donor darah.

“Bulan Bakti Karantina dan Mutu adalah bentuk public awareness BKIPM dalam rangka meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan fungsi perkarantinaan, pengendalian mutu, dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan,” ungkap Kepala BKIPM Rina saat memberi sambutan.

Menurut Rina, kegiatan karantina merupakan upaya penanganan illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing, khususnya pada bagian unreported, yaitu kegiatan yang tak dilaporkan. Upaya ini merupakan perwujudan dari prinsip ‘start thinking about sustainability’ sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia.

Menurutnya, dengan pemahaman yang tepat, ragam potensi sumber daya perikanan dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing wilayah.

“Di Jawa Timur kami melihat tren ekspor mengalami peningkatan. Sebagai mana kita ketahui, di sinilah yang punya instalasi perikanan satu-satunya di Indonesia (Instalasi KIPM Puspa Argo). Tempat penampungan segala jenis ikan dari berbagai daerah. Setelah diperiksa dan dipastikan aman baru dikirim,” tutur Rina.

Rina berpendapat, lalu lintas peti kemas produk perikanan di Jawa Timur sangat tinggi. Instalasi KIPM Puspa Argo bahkan dapat mengirim 132 peti kemas setiap harinya dengan frozen fish dan frozen shrimp sebagai komoditas ekspor dominan.

Oleh karena itu, Rina berharap, semua pihak dapat berperan aktif dalam menjaga kesehatan ikan, mutu, dan keamanan hasil perikanan, serta keberlanjutan sumber daya ikan. Jika semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam karantina dan penjagaan mutu, dia berharap produk perikanan Indonesia dapat diterima dunia serta maraknya kasus ikan berformalin, penyelundupan dan peredaran jenis ikan yang dilarang dan dibatasi perdagangannya dapat ditanggulangi dengan baik.

“Kami meminta bapak ibu patuh kepada aturan yang kami miliki karena Indonesialah satu-satunya negara yang produk udang vannameinya yg masih diterima di Amerika karena bebas EMS. Ini menjadi kekuatan kita sehingga produk perikanan kita bisa diterima dan berkembang di luar negeri,” terang Rina.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Viva Yoga. Menurutnya, proses globalisasi telah memaksa seluruh lalu lintas peredaran pangan harus dikontrol oleh badan karantina sebagai garda terdepan. “Ini penting untuk menjamin mutu dan keamanan produk perikanan, dan menangkal segala penyakit yang mungkin masuk,” kata Viva Yoga.

Menjaga laut, menjaga ikan, dan mengembangkan Indonesia sebagai poros maritim dunia ada tujuan utama. “Kita ingin meningkatkan kesejahteraan, melakukan konservasi laut tapi tetap memberikan manfaat ekonomi bagi nelayan, pembudidaya, petambak garam, dan masyarakat pesisir,” tambah dia.

Ini adalah bentuk komitmen terhadap visi KKP untuk mewujudkan sektor kelautan dan perikanan Indonesia yang mandiri, maju, kuat, dan berbasis kepentingan nasional, dengan fokus melaksanakan misi pada tiga pilar kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.

Selain berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya karantina dan pengendalian mutu, Bulan Bakti Karantina dan Mutu yang telah diselenggarakan sejak 2016 ini juga juga berhasil meningkatkan jumlah usaha perikanan yang memenuhi standar dan taat hukum. Hal ini karena yang disasar bukan hanya masyarakat konsumen produk perikanan, tetapi juga pelaku usaha perikanan termasuk pengolah ikan.

Rina mengakui, semakin meningkatnya tuntutan masyarakat konsumen akan ikan yang sehat dan bermutu untuk dikonsumsi telah mendorong produsen produk perikanan terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas produknya.

“Era ke depan adalah era kompetisi sehingga kita harus selalu meningkatkan kualitas dan kompetensi diri. Tidak boleh menjadi katak dalam tempurung. Harus bekerja sama dengan semua instansi, aparat, dan stakeholder yang terkait,” tuturnya lagi.

Pada kesempatan tersebut, KKP juga melakukan pelepasan ekspor 6 kontainer produk perikanan Jawa Timur milik PT Alam Jaya Surabaya, PT Aneka Tuna Indonesia, PT Bumi Menara Internusa, PT Rex Canning, dan PT Jala Lautan Mulia. Produk-produk tersebut akan dikirim ke beberapa negara tujuan seperti Australia, Belgia, Malaysia, dan Srilanka.

Tak ketinggalan dilakukan pula penyerahan bantuan 5,4 ton ikan beku dan olahan dari Paguyuban UPI bagi pondok pesantren, panti asuhan, muslimah NU, Kampung KB, dan Kampung Keluarga Prasejahtera. Asosiasi Pengelola Rajungan Indonesia (APRI) juga menyerahkan 500 unit bubu, alat tangkap rajungan bagi nelayan penangkap rajungan. Guna mendorong kegiatan budidaya, KKP juga menyerahkan bantuan berupa 100.000 ekor benih bandeng dan 5 juta ekor benih udang vannamei. Tak hanya bagi pembudidaya, bantuan juga diberikan kepada peternak bebek berupa 650 kg lobster undersize yang sudah tidak dapat dikonsumsi sebagai pakan bebek.

Dalam hal konservasi lingkungan, BKIPM menyerahkan bantuan masing-masing 1.000 benih pohon bakau (mangrove) untuk Pemkot Sidoarjo dan Pemkot Surabaya, serta 2.000 kepiting bakau untuk dilepasliarkan Pemkot Surabaya.

Atas bantuan tersebut, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah mengungkapkan terima kasih. “Terima kasih motivasi dan dukungan KKP. Hal ini akan memacu dan mendorong perkembangan tambak di Sidoarjo makin eksis, maju, dan berkembang,” harapnya.

Perlu diketahui, Sidoarjo memiliki potensi perikanan yang cukup tinggi. Setidaknya tercatat terdapat 15.000 hektar pertambakan di Sidoarjo hingga saat ini. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments