KKP Dukung Kabupaten Kotawaringin Timur Jadi Sentra Patin Nasional

27
dok humas djpb

KKPNews, Sampit – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Propinsi Kalimantan Tengah dinilai layak menjadi sentra ikan Patin Nasional. Selain memiliki potensi besar, kabupaten ini juga telah menerapkan budidaya ikan berbasis kawasan, sebagai wujud budidaya yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat melakukan panen raya ikan patin di Kelompok Maju Bersama Desa Bapeang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (30/08).

Desa ini ditetapkan sebagai salah satu kawasan pengembangan ikan Patin, terdapat lebih dari 220 kolam dimana 45 kolam di antaranya sudah siap dipanen, setidaknya sebanyak 40 ton. Turut serta dalam kegiatan tersebut yaitu Wakil Bupati dan jajaran forum komunikasi perangkat daerah Kabupaten Kotim, Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Kalimantan Tengah, dan PT. Pelindo III.

Slamet menyampaikan apresiasinya saat menyikapi kebijakan dan program-program pengembangan kawasan maupun penerapan teknologi ramah lingkungan yang telah dilakukan pemda Kotim.

Lebih lanjut, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri, KKP ungkap Slamet, terus mendorong pengembangan usaha budidaya melalui klasterisasi kawasan berbasis komoditas unggulan daerah. Menurutnya, strategi ini sangat ampuh untuk percepatan pengembangan kawasan, karena pada prinsipnya setiap komoditas yang dikembangkan memiliki karakteristik yang khas sesuai kondisi lokasi.

“Kami apresiasi pengembangan perikanan budidaya khususnya di Kabupaten Kotim ini karena telah menerapkan kawasan budidaya berbasis komoditas. Kebijakan ini tentu sesuai dengan yang telah digariskan KKP”, kata Slamet saat memberikan sambutannya.

“Konsumsi ikan per kapita kita terus naik, jika sebelumnya sebanyak 40 kg per kapita di tahun 2017 maka pada tahun 2019 ditarget sebanyak 53 kg. ini tentu harus diikuti keseriusan untuk meningkatkan produksi ikannya guna memperkuat ketahanan pangan nasional. saya rasa langkah pemda Kotim sudah tepat. Untuk itu Kotim saya rasa sangat pas menjadi sentra pengembangan Patin nasional.”, lanjut Slamet, mengapresiasi keseriusan Pemkab Kotim.

Pernyataan Slamet tersebut merupakan tanggapan atas penjelasan yang disampaikan Wakil Bupati Kotim, M. Taufiq Mukri, dalam sambutannya.

Mukri menjelaskan bahwa komoditas utama yang dikembangkan di Kotim yaitu Patin, Nila dan Jelawat untuk komoditas air tawar. Sedangkan komoditas air payau yaitu udang dan ikan Bandeng. Masing-masing komoditas telah ditetapkan kawasan pengembangannya.

“Ada tiga strategi yang kami lakukan dalam mengembangkan perikanan di Kabupaten Kotim. Pertama kami tata kawasannya, ada yang khusus patin, nila dan tambak udang. Kedua pengemabangan dan pelestarian ikan Jelawat yang menjadi ikon Kota Sampit dan ketiga pengembangan ikan introduksi dengan pola budidaya kolam maupun sistem bioflok” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan, pada kunjungan ini, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menyerahkan bantuan berupa 1 juta ekor benih ikan (patin, nila, jelawat dan lele) dan 5 ton pakan mandiri. Sedangkan untuk meningkatkan kemandirian sekaligus keuntungan usaha pembudidaya, juga segera diserahkan mesin pakan mandiri.

Sedangkan untuk pengelolaan dan penataan kawasan lebih lanjut, KKP pada tahun 2019 yang akan datang akan mengupayakan bantuan alat berat eksavator.

“Sebagai apresiasi atas kesungguhan masyarakat di sini, sekaligus dukungan KKP atas upaya pembudidaya bersama Pemda untuk terus menata kawasan budidayanya agar sesuai kaidah budidaya berkelanjutan, bertanggung jawab dan ramah lingkungan, tahun depan insya Alloh, Kotawaringin Timur menjadi salah satu calon penerima bantuan eksavator”, ujar Slamet, menutup sambutannya.

Kunjungi Pojok Kampung Jelawat

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto juga menghadiri soft opening co-management Pojok Kemasan Produk Unggulan (Kampung) Jelawat atau biasa disebut Pojok Kampung Jelawat di Kota Sampit Ibukota Kabupaten Kotim.

Pojok Kampung Jelawat merupakan perkumpulan UMKM pengolah ikan Jelawat binaan Dinas Perikanan Kabupaten Kotim. Mereka difasilitasi oleh Pemda dengan disediakan pusat pengemasan dan penjualan produk-produk hasil produksi UMKM anggota Pojok Kampung Jelawat. Produk yang dipasarkan yaitu bakso, empek empek, lontong, risol dan pizza. Sedangkan yang dalam bentuk kemasan seperti sambal, stik, pangsit, dan abon ikan Jelawat.

Sebagai informasi, Ikan Jelawat merupakan ikan asli Indonesia yang banyak ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Karena rasanya yang lezat, di beberapa daerah ikan ini mulai sulit didapatkan akibat penangkapan di alam yang berlebihan.

Menurut kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kotim, Heriyanto, ikan jelawat di kabupaten ini merupakan salah satu jenis ikan yang sangat disukai oleh masyarakat lokal, propinsi bahkan sudah ada permintaan dari luar negeri. Selain dinikmati dalam bentuk segar juga sudah berhasil diolah menjadi berbagai macam produk olahan.

”Permintaan ikan jelawat di Kotim makin tinggi, bukan hanya lokal namun juga sudah ada permintaan dari Thailand. Ikan ini tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sudah berhasil diolah dan dikemas dengan cukup menarik”ujarnya

Dalam kunjungan ini Slamet berpesan agar kegiatan budidaya ikan Jelawat di kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Propinsi Kalimantan Tengah yang saat ini berkembang pesat, harus diarahkan kepada budidaya yang ramah lingkungan dan tidak menggantungkan pada hasil tangkapan alam. Dengan begitu, daerah ini dapat didorong sebagai percontohan budidaya ikan lokal dengan konsep ramah lingkungan.

Slamet menegaskan bahwa KKP konsisten untuk terus menerapkan dan mensosialisasikan kegiatan budidaya yang berkelanjutan. Oleh karena itu, ia sangat mendukung budidaya ikan Jelawat dengan menggunakan benih yang berasal dari unit atau balai pembenihan.

Lebih jauh, untuk menunjukkan keseriusannya, Slamet meminta Balai Perikanan Air Tawar Mandiangin Kalimantan Selatan yang telah berhasil mengembangkan ikan jelawat mulai dari pembenihan hingga pembesaran, untuk melakukan pendampingan dan bantuan teknis kepada pembudidaya maupun balai benih ikan milik pemda.

”Ikan jelawat ini komoditas yang makin disenangi, diolah dengan berbagai menu, segar maupun olahan. Sehingga kebutuhannya makin meningkat, oleh karena itu tidak bisa lagi terus-terusan bergantung pada alam”, pungkas Slamet.

Sebagai gambaran, berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur, pada tahun 2017 yang lalu produksi perikanan budidaya di kabupaten ini mencapai 8.409,4 ton dimana di antaranya produksi ikan Patin sebanyak 2.547,98 ton dan ikan Jelawat sebanyak 19,28 ton. (humas djpb)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments