KKP Berhasil Kembangkan Budidaya Ikan Hias Laut Endemik BCF

84

KKPNews, Ambon – Kabar menggembirakan kembali muncul dari Ambon. Kali ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Perikanan Budidaya Air Laut (BPBL) Ambon berhasil kembangkan produksi ikan hias Banggai Cardinal Fish (BCF) secara massal di laut. Jenis ikan hias laut ini dikenal sebagai ikan endemik perairan Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah.

Sebagaimana diketahui, fenomena eksploitasi penangkapan terhadap jenis ikan ini mengakibatkan terjadinya kencenderungan penurunan stok di habitat aslinya.

“Laporan hasil pengamatan terhadap lalu lintas distribusi pemasaran BCF ke luar kepulauan banggai berdasarkan data BKIPM menunjukkan adanya penurunan dari tahun ke tahun,” ungkap Doni salah seorang penggiat usaha ikan hias BCF di Ambon, Maluku saat ditemui belum lama ini.

Sebelumnya KKP melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 49 Tahun 2018 telah menetapkan ikan hias BCF sebagai spesies dengan kategori perlindungan terbatas. Artinya penangkapan dibatasi pada perairan yang belum terjadi over fishing.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/5) menyatakan bahwa pihaknya melalui BPBL Ambon telah berhasil melakukan terobosan dibidang perekayasaan dalam pengembangan ikan hias BCF. Dirinya optimis, dengan telah dikuasainya teknologi produksi masal BCF, maka akan berimbas pada status BCF yang tidak lagi tergantung 100% dari alam.

“Ini saya kira upaya yang patut diapresiasi, mengingat BCF ini khan ikan endemik, sementara di Banggai sendiri permintaannya cukup tinggi. Keberhasilan teknologi pembudidayaan saat ini, secara otomatis akan menggeser ketergantungan stok yang awalnya dari alam ke hasil-hasil produksi budidaya,” ungkap Slamet.

Slamet juga menambahkan, ada keinginan dari beberapa pihak untuk memasukan BCF ini ke dalam CITES (The Convention on International of Trade Endangered Species ) yang akan membatasi perdagannya. Menurut dia, dengan keberhasilan produksi massal hasil budidaya, maka usulan masuk CITES sudah tidak diperlukan lagi. Dengan demikian perekonomian masyarakat tetap berjalan. Namun, tentunya tetap penting dilakukan pengendalian secara baik. Slamet juga memastikan bahwa nantinya hasil budidaya ini akan difokuskan untuk restocking secara berkala untuk menjaga keseimbangan stok.

“Kami akan minta BPBL Ambon untuk juga fokus melakukan restocking BCF di habitat aslinya, utamanya di perairam Banggai sendiri,” jelas Slamet. (Humas DJPB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments