KJA Offshore Pangandaran Adopsi Teknologi Modern Norwegia

59
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat memberikan keterangan pers terkait pembangunan KJA offshore di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Jumat (27/4). Dok. Humas KKP/Joko Siswanto

KKPNews, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beberapa waktu lalu meresmikan pembangunan Keramba Jaring Apung (KJA) Lepas Pantai (offshore) di Pangandaran, Jawa Barat. Selain Pangandaran, KJA dengan teknologi modern dari Norwegia yang diresmikan Presiden Joko Widodo ini juga dibangun di Sabang, Aceh dan Karimunjawa, Jepara.

Guna pembangunan instalasi percontohan di tiga lokasi ini, KKP menyiapkan anggaran sebesar Rp131,451 miliar. Anggaran ini digunakan untuk pengadaan KJA; feed barge (gudang pakan dan ruang kontrol); kapal kerja; sistem pemberian pakan terintegrasi; sistem pemantauan KJA (camera system); dan rubber boat.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan, pembangunan KJA offshore ini sesuai dengan instruksi presiden untuk mendorong nelayan tidak hanya melakukan penangkapan ikan di laut, tetapi juga meningkatkan produksi melalui budidaya.

“Nelayan diharapkan tidak hanya menangkap ikan saja tapi juga melakukan budidaya dengan kapasitas industri,” ungkap Menteri Susi dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta pusat, Jumat (27/4).

Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan percontohan KJA offshore yaitu mendorong pelaku usaha perikanan dalam negeri untuk mengadopsi teknologi berkapasitas industri yang dapat menyerap banyak tenaga kerja namun tetap dapat menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto memastikan teknologi KJA offshore ini tidak akan mematikan pengusaha dalam negeri. “Justru kita mendorong KJA-KJA dalam negeri bisa mencontoh. Kita memberi percontohan memberdayakan masyarakat dalam industri perikanan yang pro masyarakat karena tujuannya untuk sustainable,” kata dia.

Adapun pemilihan teknologi menurut Slamet telah melalui pertimbangan dan pengkajian yang matang. Menurutnya, teknologi Norwegia dipilih berdasarkan lelang internasional. Norwegia dinilai berpengalaman melakukan budidaya di lepas pantai dan teknologi yang mereka miliki telah menjadi acuan internasional. “Di dunia Norwegia adalah the best untuk teknologi (KJA offshore) salmonnya. Kita belajar ke Norwegia,” tutur Slamet.

Tak hanya teknologi, Norwegia juga berperan dalam memberikan rekomendasi penentuan letak KJA yang disesuaikan dengan kondisi alam di lokasi pembangunan. Selain itu, Norwegia juga berbagi ilmu manajemen budidaya, penebaran benih, hingga proses panen.

Meskipun teknologi yang digunakan berasal dari Norwegia, Slamet memastikan dalam proyek ini tenaga kerja yang dilibatkan adalah masyarakat Indonesia.

Slamet mengatakan, selain kecanggihan teknologi Norwegia, harga yang ditawarkan pun lebih murah dari teknologi buatan lokal, misalnya teknologi KJA dari Padalarang.

“Kita sudah lelang, harganya (untuk cages + net) lebih murah. Dari Norwegia Rp7,9 miliar untuk 8 lubang (diameter 25,5 m), kalau nasional Rp8,3 miliar (diameter 20 m saja),” tutur Slamet. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments