Kesadaran Kelestarian Lingkungan Masyarakat Meningkat, Warga Sukarela Serahkan Ikan Invasif

26
Dok. Tribunnews

KKPNews, Jakarta – Sebanyak 212 ekor ikan Alligator berbahaya diserahkan masyarakat kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM). Ikan berbahaya tersebut diserahkan oleh pemiliknya secara sukarela kepada Balai KIPM Jakarta II di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Nandang Koswara selaku Kepala Balai KIPM Jakarta II menyatakan bahwa ikan alligator termasuk dalam jenis ikan yang dilarang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan. Hal tersebut sesuai dengan Permen KP Nomor 41 Tahun 2014.

Penyerahan ikan invasif berbahaya oleh masyarakat tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku di Indonesia. BKIPM telah membuka posko penyerahan ikan invasif sejak awal bulan Juli. Posko Penyerahan Ikan Berbahaya/Invasif dibuka di seluruh Indonesia sebagai tindak lanjut adanya pelepasan ikan Arapaima di Sungai Brantas, Jawa Timur pada beberapa waktu yang lalu.

Aturan mengenai larangan kepemilikan ikan invasif yang dapat merusak lingkungan ini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang perikanan yaitu pada pasal 12 ayat (1) dan (2) dan Pasal 86 ayat (1) dan (2).

“Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004, Pasal 86 ayat (2) disebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia membudidayakan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan/atau lingkungan sumber daya ikan dan/atau kesehatan manusia dapat dipidana dengan penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar” ujar Nandang di Jakarta, Senin (9/7).

Berikut adalah rincian pemilik ikan alligator yang menyerahkan ikan secara sukarela: PT. AC (10 ekor), PT. AC (9 ekor), PT. IPW (17 ekor dan 99 ekor ukuran 5-6 cm/benih), PT. YF (3 ekor), R (1 ekor), PT. JA (25 ekor), PT. BA (42 ekor), R (6 ekor).

Nandang meminta agar masyarakat ikut menginformasikan dan melaporkan jika masih ada yang memelihara atau membudidayakan ikan invasif di posko yang turut dihadiri masyarakat kolektor/hobiis dan Unit Usaha Pembudidayaan Ikan (UUPI). (Dea Radista Rachmi)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments