Kembangkan Hasil Riset Perikanan Jadi Teknologi Sarat Manfaat

16
dok.humas KKP

KKPNews, Jembrana – Usai melakukan dialog dengan nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Jembrana, Bali, Rabu (10/10), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meluncurkan dua teknologi perikanan yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) yang diberi nama Wakatobi AIS dan Aplikasi Laut Nusantara. Wakatobi AIS yang merupakan singkatan dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Objek Berbasis Informasi AIS (Automatic Identification System) ini adalah teknologi yang dikembangkan oleh peneliti dan perekayasa Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi.

Menggunakan teknologi radar pantai, mereka merekayasa AIS transponder yang dikembangkan secara khusus untuk kepentingan keselamatan nelayan tradisional. Pasalnya, tak jarang ditemukan nelayan yang hilang atau terdampar saat melaut. Seperti kasus Aldi, seorang nelayan Minahasa Utara yang hanyut dan terombang-ambing selama 1,5 bulan hingga di Perairan Laut Jepang. Di Wakatobi sendiri pun tak jarang kejadian nelayan hilang bahkan hampir setiap bulan.

Wakatobi AIS diciptakan atas identifikasi terhadap tiga masalah utama yang dihadapi nelayan dalam melaut. Pertama, kurangnya kesiapan operasi nelayan dalam hal penguasaan informasi mengenai kondisi meteorologi di area target penangkapan ikan. Kedua, perlunya peningkatan keterpantauan armada-armada nelayan tradisional oleh otoritas di darat untuk mendukung ekstraksi SDA yang berkelanjutan, sekaligus sebagai data penting dalam proses rescue saat para nelayan mengalami musibah di laut. Ketiga, sulitnya nelayan tradisional dalam mengabarkan kondisi darurat yang mereka alami akibat terbatasnya moda komunikasi di laut, sehingga tertundanya upaya penyelamatan.

Kepala BRSDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja yang turut hadir mendampingi Menteri Susi mengapresiasi pengembangan Wakatobi AIS yang memang didesain khusus sesuai karakteristik nelayan kecil Indonesia. Oleh karena itu, bentuk, ukuran, dan energi yang digunakan pun dirancang sesederhana mungkin agar tak menyulitkan nelayan tradisional.

AIS transponder ini berbentuk kotak dengan dimensi 14,5x13x20 cm dengan panjang antena sepanjang 100 cm. Setiap unitnya memiliki bobot 0,6 kg agar bisa diaplikasikan pada kapal/perahu nelayan yang berukuran kecil, khususnya yang armada berbobot di bawah 1 Gross Ton. Alat ini didesain dapat bekerja secara portabel dengan baterai sebagai sumber tenaga yang bisa diisi ulang setiap 20 jam pemakaian.

Untuk meningkatkan keselamatan nelayan, terdapat tiga tombol pada perangkat ini, yaitu tombol Power, Penanda Lokasi Tertentu (Custom Tag), dan Tombol Darurat (Distress).

Pengoperasiannya pun cukup mudah. Fungsi dasar AIS yang dimiliki memungkinkan lokasi dan pergerakan nelayan terpantau detik ke detik pada stasiun penerima (VTS). Dengan demikian, jika suatu saat mereka mengalami masalah di laut seperti mesin kapal mati, tenggelam, atau dirampok, maka rekaman lokasi para pengguna akan mempermudah pencarian.

Selain itu, nelayan juga bisa secara aktif memberikan kabar darurat ke seluruh perangkat penerima AIS lainnya. Dengan menekan tombol distress maka perangkat akan melakukan broadcast pesan AIS selama selang waktu tertentu untuk memastikan pesan teks tersebut dapat terkirim dengan sempurna. Teks pesan darurat bisa berupa kode bahaya, identitas yang meliputi nama kapal, pelabuhan asal, dan nomor telepon yang bisa dihubungi, dan atau informasi lain yang sebelumnya diprogram ke dalam perangkat.

Wakatobi AIS juga dirancang untuk dapat terkoneksi ke sistem pemantauan lalulintas kapal (Vessel Traffic System/VTS) yang biasa terdapat pada pelabuhan-pelabuhan dan otoritas pelayaran. Namun alat ini juga dapat terbaca oleh perangkat AIS pada kapal non perikanan sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kapal nelayan akibat kapal besar sekaligus meningkatkan jangkauan penggunaan alat kendati alat ini dioperasikan diluar dari jangkauan stasiun darat seperti VTS.

Dengan dikembangkannya Wakatobi AIS diharapkan kecelakaan laut yang sering terjadi di seluruh Indonesia seperti kapal hanyut, nelayan hilang, atau kapal tenggelam yang kerap dialami oleh nelayan kecil pencari tuna dapat dihindari.

“Ini adalah karya anak bangsa yang patut diapresiasi. Wakatobi AIS ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan alat pendeteksi lainnya. Namun mungkin biaya produksi perlu ditekan agar dapat diproduksi secara massal,” ungkapnya.

Sementara itu, pengembangan hasil riset juga diterapkan pada aplikasi Laut Nusantara. Kepala Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) Jembrana, I Nyoman Radiarta mengatakan, aplikasi ini merupakan hasil kerja sama BROL Jembrana dengan PT XL Axiata.

“Untuk tahun ini, aplikasi ini berisi data lokasi penangkapan ikan yang kita bagi menjadi 3, yaitu data dan lokasi penangkapan ikan nasional yang cakupannya seluruh Indonesia, pelabuhan, dan perairan khusus,” jelasnya.

Menurut Nyoman, data dan lokasi penangkapan ikan nasional memiliki resolusi 4 km, sementara itu pelabuhan beresolusi 1 km.

“Selain informasi penangkapan ikan, aplikasi Laut Nusantara ini juga memuat informasi lainnya seperti jarak posisi ke lokasi tujuan, konsumsi BBM, jumlah hasil tangkapan, jenis-henis ikan tangkapan, bahkan contact person dalam aplikasi tersebut. Artinya apa? Nelayan bisa bertanya informasi langsung ke kontak center BROL,” terangnya bersemangat.

Aplikasi Laut Nusantara ini sendiri telah disosialisasikan kepada hampir 1.300 nelayan yang tersebar di seluruh Indonesia, baik secara langsung maupun melalui media teleconference.

“Harapan kami, di tahun ini aplikasi ini bisa dikenal dengan baik oleh masyarakat. Dan kita harap ini akan ditingkatkan setiap tahun. Kita akan enhance terus, kita akan pertajam ini tahun depan dengan menambah fitur-fitur lainnya yang bermanfaat bagi nelayan,” lanjutnya.

Dengan adanya aplikasi Laut Nusantara ini, nelayan bukan lagi mencari ikan, melainkan menangkap ikan.

“Kalau mencari ikan artinya nelayan harus menggunakan bahan bakar sebanyak-banyaknya. Tapi menangkap ikan artinya dia sudah tau ke mana dia mau menuju lokasi yang banyak ikannya. Artinya nelayan semakin sedikit mengeluarkan biaya operasional. Menuju langsung lokasi penangkapan ikan. Bisa jadi konservasi karena tidak banyak pencemaran, tidak banyak pengrusakan, karbon dari kapal yang dikeluarkan dari kapal-kapal tersebut,” cetus Nyoman.

Jadi mereka bisa langsung menuju lokasi. Jadi todak ada lagi istilah mencari ikan, tapi saya mau menangkap ikan.

Laut Nusantara ini ditargetkan untuk nelayan kecil dengan kapal di bawah 30 GT. Berbasis android system, aplikasi ini dapat didownload secara gratis di apps store dan diinstal di ponsel untuk mengakses informasi yang tersedia dari seluruh wilayah Indonesia.

Menteri Susi mengapresiasi penemuan-penemuan yang bermanfaat besar bagi nelayan ini. “Memang sudah seharusnya hasil riset tidak hanya dibiarkan diam di komputer masing-masing peneliti. Penemuan-penemuan ini memang sudah selayaknya dimunculkan dan disebarluaskan,” tuturnya. (afn)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments