Keamanan Maritim : Indikator Penting Pertumbuhan Ekonomi Nasional

26
Billateral Meeting Sekjen KKP Nilanto Perbowo dengan inmarsat senior advisor di ruang Uluwatu 7, BNDCC 1, Nusa Dua, Bali (30/1). (dok.humas KKP/Handika Rizki Rahardwipa)

KKPNews, Nusa Dua – Keamanan maritim menjadi salah satu isu yang dibahas dalam rangkaian acara perhelatan ke 5 Our Ocean Conference (OOC) di Nusa Dua, Bali. Keamanan maritime menjadi hal yang patut untuk dibahas karena akan berdampak luas pada sektor lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional, seperti kegiatan ekspor impor, keamanan batas negara, dan persoalan illegal fishing, yang berujung pada penyelundupan flora fauna langka, obat-obatan terlarang, hingga perdagangan manusia. Hal tersebut diungkapkan Mantan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda pada sambutannya dalam Panel Maritime Security Area of Action di rangkaian acara OOC 2018 di Nusa Dua Bali, Senin (30/10).

“Keamanan maritim tidak hanya berbicara tentang keamanan maritim “militer”, tetapi dalam arti yang lebih luas, kita harus memiliki perspektif yang lebih luas tentang keamanan maritime,” terang Hasan.

Hal senada juga diungkapkan Director of the United States National Maritime Intelligence-Integration Organization Robert Sharp. Ia menilai keamanan maritim merupakan masalah lintas batas negara yang dapat berpengaruh pada dimensi global. Oleh karenanya diperlukan kerja sama antar negara. Adapun keamanan maritime harus terus dioptimalkan, terutama dalam penyelesaian kasusu pembajakan, penyelundupan, hingga penangkapan ikan dan berimplikasi pada keamanan.

Menurutnya tidak ada isu keamanan maritim yang terjadi secara terpisah-pisah, semuanya terhubung dan saling berkaitan. ““Semakin kita menemukan cara untuk bekerja bersama, semakin banyak kita dapat mengatasi masalah ini,” ujarnya,” tambahnya.

Dalam menghadapi persoalan keamanan maritim, tentunya dibutuhkan inovasi teknologi yang mumpuni. Senior Advisor to the CEO The International Maritime Satellite Organization (INMARSAT) Patrick McDougal mengungkapkan, keselamatan pelaut merupakan salah satu alasan mengapa organisasi satelit ini dibentuk. Selain itu, keamanan yang mengarah pada perdagangan ilegal, perdagangan narkoba dan manusia, serta integritas perbatasan kedaulatan, serta pelestarian Kawasan perlindungan laut.

“Dalam OOC 2018 ini, target komitmen kami adalah memerangi kejahatan maritim, inovasi dalam pengawasan dan pemantauan, serta mekanisme berbagi untuk meningkatkan keselamatan maritim,” tandasnya.

Patrick juga menambahkan, teknologi satelit yang telah dikembangkan, nantinya sangat membantu untuk melakukan keamanan maritim seperti salah satunya penanganan illegal fishing. “Ratusan ribu kapal yang sebelumnya tidak terhubung dengan fasilitas keamanan, kini telah terhubung. Standardisasi teknologi pelacakan dan pemantauan tentunya juga harus dijalankan secara konsisten,” tambahnya.

Penyelesaian keamanan maritim tentunya tidak cukup diselesaikan dengan teknologi satelit, jika tidak adanya transparansi data yang dikeluarkan. Transparansi merupakan kekuatan yang dapat menjadi acuan dalam pembuatan kebijakan. “Transparansi memiliki kekuatan untuk mendorong kesuksesan dan mendukung keamanan di maritim kita,” jelasnya.

“Melalui transparansi, kita dapat menciptakan gambaran aktivitas maritim yang lebih lengkap dan saling terkait dan di mana penangkapan ikan terjadi di samudra global kita. Gambar ini akan melampaui batas-batas nasional, menghubungkan titik-titik dan memperlihatkan apa yang terjadi di laut lepas,” tambahnya.

Hadir dalam acara tersebut Deputy Minister of Foreign Affais of the Republic of Ghana Habibu Tijani, Chief Negotiator at the Council for the Final Delimitation of Maritime Boundaries, Timor Leste, Xanana Gusmao, Associate Director, dan Secure Fisheries program One Earth Future Sarah Glaser. (MD)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments