IPF Ke-7, Kenalkan Pesona Mutiara Laut Selatan Indonesia pada Dunia

68
Dari kiri ke kanan, Direktur Jenderal PDSPKP Nilanto Perbowo, Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto, dan Ketua Asbumi Anthony Tanios saat membuka acara 7th Indonesia Pearl Festival di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (7/11). Dok. Humas KKP/Regina Safri

KKPNews, Jakarta – Indonesia merupakan penghasil Mutiara Laut Selatan atau dikenal sebagai Indonesian South Sea Pearl (ISSP) yang berasal dari tiram Pinctada maxima. Oleh karena itu, untuk memperkenalkan ISSP kepada masyarakat Indonesia maupun internasional, Dharma Wanita Persatuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (DWP KKP) sebagai penggagas bersama-sama dengan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) bekerja sama dengan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) menyelenggarakan 7th Indonesia Pearl Festival (IPF ke-7) dengan mengangkat tema “The Luminous Indonesian South Sea Pearl”.

IPF ke-7 ini akan diselenggarakan pada tanggal 7 – 12 November 2017 di Lippo Mall Kemang Jakarta Selatan, dengan jumlah peserta sebanyak 44 stand yang terdiri dari 24 stand pelaku usaha budidaya dan perhiasan, 10 stand provinsi penghasil mutiara, serta 10 booth penunjang. Target pengunjung yaitu retailers, end users, dan pecinta mutiara yang datang dari dalam dan luar negeri.

Ketua Asbumi Anthony Tanios mengatakan, mutiara Laut Selatan Indonesia diperoleh dari alam maupun melalui kegiatan budidaya. Indonesia bahkan memiliki sentra pengembangan yang tersebar hampir di seluruh provinsi yaitu Sumatera Barat, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat.

South sea pearl Indonesia memiliki pesona dari warna dan kilauannya yang mempesona sehingga sangat digemari di pasar internasional dan biasanya diperdagangkan dalam bentuk butiran maupun perhiasan,” ungkap Anthony.

Di dunia terdapat sekitar 11 ton south sea pearl. Dari angka tersebut, Indonesia memproduksi kurang lebih 5 ton, disusul Australia dengan 4 ton, Filipina 1,5 ton, Myanmar, dan beberapa negara lainnya. Adapun negara tujuan utama ekspor mutiara laut selatan Indonesia adalah Hongkong, Australia, Jepang.

Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto mengatakan, sebagai salah satu komoditas kelautan unggulan Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usahanya di masa yang akan datang, branding ISSP perlu terus diupayakan guna meningkatkan daya tarik masyarakat terhadap mutiara sehingga menjadi sumber pemasukan devisa melalui perdagangan di dalam negeri dan maupun ke luar negeri.

“Keberadaan usaha budidaya mutiara tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada pelaku usaha mutiara tetapi juga kepada industri lainnya. Usaha budidaya mutiara juga menumbuhkan kegiatan dan kreativitas yang memberikan manfaat. Sisa hasil budidaya mutiara seperti aneka hiasan dengan memanfaatkan kulit tiram mutiara, serbuk mutiara sisa hasil penggergajian kulit tiram mutiara untuk kosmetik dan bahan untuk cat kendaraan,” terang Rifky saat memberi sambutan pada pembukaan IPF ke-7.

Menurut Rifky, tak sedikit pengusaha skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga skala besar untuk pembesaran tiram mutiara di Indonesia. Namun, luas laut maupun panjang garis pantai Indonesia baru dapat dimanfaatkan sekitar 2 persen untuk budidaya mutiara. Menurutnya, potensi budidaya ini masih dapat terus dikembangkan.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor mutiara Indonesia di tahun 2015 kurang lebih 30 juta dolar dan tahun 2016 meningkat menjadi 46 juta dolar, yang artinya terjadi peningkatan 35 persen. Namun demikian, nilai tersebut masih di bawah Hongkong, Uni Emirat Arab, Jepang, Tahiti, Australia dan Cina.

Menurut Rifky, hal menarik bahwa negara tujuan ekspor mutiara Indonesia adalah Hongkong. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar trading mutiara south sea pearl Indonesia ini dilakukan oleh Hongkong. “Sudah saatnya kita membawa kembali ke tempat sumber produksinya (Indonesia). Jadi festival ini adalah sebuah momen yang saya kira sangat baik untuk menarik titik perdagangan mutiara dari Hongkong ke Indonesia,” pungkas Rifky. (AFN)

 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments