Harga Tinggi, Daya Tarik bagi Penyelundup Benih Lobster ke Luar Negeri

73
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat menyampaikan konferensi pers terkait upaya KKP dan Polri yang telah berhasil menggagalkan penyelundupan benih lobster di Gunung Putri Bogor dan Serang Banten (23/5). Dok. Humas KKP/Joko Siswanto

KKPNews, Jakarta – Sebanyak empat orang tersangka telah diamankan dan diperiksa lebih lanjut sehubungan dengan penyelundupan 389.591 ekor benih lobster ke luar negeri yang berhasil digagalkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama para aparat kepolisian. Lobster tersebut berjenis lobster windu dan mutiara dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Saat ditemui di kediamannya Jalan Widya Candra V, Jakarta Selatan, Rabu (23/5) Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, ratusan ribu benih lobster itu berhasil diamankan di dua tempat yakni daerah Serang dan di Tol Jagorawi Daerah Gunung Putri. “Ratusan ribu ekor benih lobster ini dikumpulkan oleh sejumlah pengepul. Mereka membayar nelayan atau anak-anak muda agar mau mengumpulkan benih lobster dari perairan Indonesia,” ujarnya.

Menurut Menteri Susi, bulan September-Oktober menjadi bulan panen benih-benih lobster. Akan tetapi dengan adanya penyelundupan benih lobster ia khawatir nelayan tidak akan dapat panen.

Benih lobster tersebut memiliki harga tinggi yakni Rp130.000 sampai Rp150.000 per ekor saat dijual ke pengepul di luar negeri. Bahkan pada saat benih lobster dibesarkan hingga menjadi lobster siap panen, harganya akan lebih tinggi yaitu berkisar Rp700.000 hingga Rp 1 juta per setengah kilogram. Dengan berhasilnya diamankannya benih lobster tersebut, nilai yang diselamatkan dari kasus itu lebih dari Rp150 miliar.

Menteri Susi menyatakan, kasus penyelundupan benih lobster ini sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 2000-an. “Penyelundupan ini menyebabkan berkurangnya jumlah panen lobster di Indonesia dari yang sebelumnya dapat mencapai 1 hingga 2 ton saat musimnya, saat ini hanya untuk mendapat 100 kilogram saja sulit,” tambah dia.

“Dulu kita kaya sekali lobster, di Pangandaran, di mana-mana itu banyak lobster, tapi karena banyak yang nakal kita jadi tidak punya lobster. Sekarang sulit mencari lobster,” tutupnya. (Irna Prihandini/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments